Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Januari 2022

Noticed

"Suka banget dengerin abang cerita."

Aku memencet foto profilku. Di sana tertera sudah sebanyak apa aku meninggalkan komentar di kanal itu, kanal seorang storyteller favoritku di Youtubeyang seringkali membahas hal-hal misteri dan kriminal. 

Hmm... 378 comments tanpa pernah mendapat satu like pun dari si empunya kanal.

Padahal segala cara sudah kucoba agar komenku dibalas atau setidaknya dia melihat keberadaanku sebagai pengikut kanalnya. Namun nihil, ia belum juga merespons komenku.

***

"Bang, bahas berita anak kecil yang diikat orang nggak dikenal di tiang listrik dan akhirnya kesetrum itu dong!" pintaku di lain hari.

Lagi-lagi, dia tidak merespons komenku. Mungkin usahaku masih kurang?

*** 

Minggu depannya pun aku selalu punya usulan. "Ada kasus beberapa anak tewas kerancunan gara-gara dikasih permen orang nggak dikenal. Abang nggak mau bahas itu? Di Twitter lagi rame, lho!"

 Aku akan senang jika ia membahasnya. Namun lagi, jangankan dibalas, di-like pun tidak! Aku mulai kesal dan membanting semua gawaiku. Setiap hari aku sudah melampaui batasku, tapi mengapa sesusah itu untuk mendapatkan sedikit responsnya?

***

Storyteller favoritku mengunggah video terbaru. Ia mengunggah video yang menceritakan cerita-cerita seram penonton, segmen kesukaanku, karena tak jarang durasinya lebih dari lima belas menit. Walau segmen kesukaanku, sebenarnya aku berharap ia mengunggah segmen Mysterious Things kali ini, karena aku penasaran kasus kriminal apa yang akan ia bahas.

Selagi aku ingin mengirimkan komentar pada video terbarunya, tiba-tiba sirine polisi terdengar semakin dekat menuju rumahku. Ah, setidaknya... setidaknya biarkan aku menyelesaikan video yang kutonton ini! Pekikku terburu-buru dalam hati. 

Namun telat, mobil-mobil itu sudah parkir di halaman rumahku. Polisi-polisi itu sudah memanggil namaku. Aku yakin, dalam beberapa menit ke depan pintu rumahku menjadi target tendangan kaki mereka.

***

Sudah hampir sebulan hidupku terasa hampa di balik jeruji besi. Sampai akhirnya saat aku sedang di ruang makan bersama tahanan yang lain, aku mendengar suara storyteller favoritku dari sebuah gawai seorang juru masak. Makananku yang hambar terasa lezat saat itu juga. Terutama saat mendengar suara abang storyteller favoritku mulai bercerita.

"Kasus ini tuh lagi raaame banget di mana-mana, gengs! Di mana ada seorang gadis berumur dua puluh tahun tega mencelakai anak-anak kecil di sekitar rumahnya. Bahkan, dia mengaku melakukannya hanya untuk kesenangan. Haduh, emang udah gila dunia ini."

"Mulai dari ngiket anak tetangganya di tiang listrik sampe kesetrum, ngasih permen beracun yang bikin anak tetangganya sampe tewas, dan terakhir yang paling viral sampe dibahas di negara tetangga; ia tega mengikat tangan sahabatnya terus dicempluingin ke kolam renang rumah sahabatnya sendiri."

"Semua kasus ini terkuak setelah polisi memeriksa cctv rumah warga yang mengarah ke tempat kejadian dan cctv di rumah sabahatnya ini. Duh, ngelus dada dulu gue... kalian ati-ati yak gengs, kalo cari temen..."

Mendengar itu tawaku langsung membahana. Seisi ruang makan melihatku keheranan. Aku masih cekikikan, bahkan sampai meneteskan air mata saking senangnya. Tidak hanya mendapat like atau balasan pada komentarku, aku bahkan menjadi salah satu topik di antara video yang ia unggah! 

Akhirnya... noticed by my favorite storyteller.

------------oOo------------

Cerita ini hanya fiksi belaka, yaaa. Berawal dari seringnya baca-baca komen "Notis aku dong, Bang" di kanal youtube kak Hirotada Radifan, tiba-tiba premis ini muncul di kepala > , < Udah lama ngendap di kepala, kalo nggak dieksekusi premisnya berasa ada yang masih ngeganjel aja gitu, mhehehe :)) Tapi sungguh, ku bukan sikopet. Anywaaaaay, makasih yang udah baca yaaaa~

Rabu, 30 Mei 2018

Blog Review & Photo Challenge KILOVEGRAM

Masing-masing dari kita pasti punya keresahan mengusik benak seperti yang Aruna rasakan dalam TeenLit Kilovegram. Namun, apakah kamu tetap berdiam diri atau mencari cara untuk menjawab keresahan tersebut?

Sebelumnya cari tahu tentang TeenLit Kilovegram di:
 
-------------oOo-------------
Kabar gembira untuk kamu yang sudah maupun belum punya buku Teenlit Kilovegram! Ada Blog Review dan Photo Challenge berhadiah, nih~ 
POSTER YANG HARUS KAMU RE-UPLOAD/RESHARE/REGRAM/REPOST DI TWITTER ATAU INSTAGRAM. BISA AMBIL GAMBAR DI PINNED TWEET (TWITTER) ATAU DI PROFIL @MEGASHOFANI (INSTAGRAM)
GIMANA CARA IKUTANNYA?
Mohon baca dengan teliti sampai habis ya, Darling~

BLOG REVIEW KILOVEGRAM
Syarat & Ketentuan:
  1. Memiliki alamat pengiriman Indonesia
  2. Follow akun Twitter @megasofunny & @bukugpu.
  3. Repost poster “Blog Review & Photo Challenge KILOVEGRAM” di akun Twitter-mu dengan tagar #Kilovegram #FiksiGPU #TeenLitGPU
  4. Selama periode blog review challenge akun Twitter tidak private/digembok.
  5. Membuat review "Kilovegram" di blog masing-masing (pilih salah satu: blogspot, wordpress, goodreads, facebook note). Buatlah review yang menarik dan lengkap (mengulas kelebihan & kekurangan).
  6. Panjang review minimal 400 kata.
  7. Sertakan 1 (atau lebih) foto pendukung yang menarik sesuai review.
  8. Share link blog review milikmu di Twitter dengan format: Review TeenLit #Kilovegram - [URL postingan-mu] - mention @megasofunny

KHUSUS PHOTO CHALLENGE: #BARENGKILOVEGRAM & FLAT LAY yang diikutkan challenge ini, tanggal publikasi/postingan WAJIB SESUAI PERIODE CHALLENGE: 1-30 Juni 2018.

PHOTO CHALLENGE: #BARENGKILOVEGRAM
Syarat & Ketentuan: 
  1. Memiliki alamat pengiriman Indonesia. 
  2. Follow akun Instagram @megashofani & @bukugpu
  3. Repost poster “Blog Review & Photo Challenge KILOVEGRAM” di akun Instagram-mu dengan tagar #Kilovegram #FiksiGPU #TeenLitGPU 
  4. Bukan akun khusus giveaway. 
  5. Selama periode photo challenge akun Instagram tidak private/digembok. 
  6. Bagi yang SUDAH PUNYA buku Kilovegram:
  • Unggah fotomu bersama buku Kilovegram (selfie, candid, atau buat yang kreatif dan keren versimu sendiri).
  • Isi caption dengan kesan dan pesan singkat/mini review setelah membaca Kilovegram. 
  • Beri tagar #KilovegramBuku, tag @megashofani & @bukugpu. 
     7.  Bagi yang BELUM PUNYA buku Kilovegram:
  • Unggah fotomu bersama display buku Kilovegram di toko buku. 
  • Isi caption dengan lokasi foto dan alasanmu pengin punya buku Kilovegram. 
  • Beri tagar #KilovegramDisplay, tag @megashofani & @bukugpu. 

PHOTO CHALLENGE: FLAT LAY KILOVEGRAM
Syarat & Ketentuan: 
  1. Memiliki alamat pengiriman Indonesia. 
  2. Follow akun Instagram @megashofani & @bukugpu
  3. Repost poster “Blog Review & Photo Challenge KILOVEGRAM” di akun Instagram-mu dengan tagar #Kilovegram #FiksiGPU #TeenLitGPU 
  4. Bukan akun khusus giveaway. 
  5. Selama periode photo challenge akun Instagram tidak private/digembok. 
  6. Unggah foto flat lay buku/e-book Kilovegram hasil karyamu sendiri di Instagram. 
  7. Isi caption dengan kesan – pesan singkat/mini review setelah membaca Kilovegram. 
  8. Jangan lupa beri tagar #FlatLayKilovegram, tag @megashofani & @bukugpu.
-------------oOo-------------

HADIAHNYA?

KLIK UNTUK MEMPERBESAR GAMBAR
Oke, sekian... kutunggu ulasan dan kreasimu, ya. Lumayan lho hadiahnya, bisa buat beli buku lain yang jadi incaranmu! Kalau masih kurang jelas, tinggalkan pertanyaanmu di kolom komentar atau langsung kirm pesan lewat Twitter/Instagram. Sampai jumpa!


Salam,
Mega Shofani.

---------------------------------oOo---------------------------------
TeenLit Kilovegram sudah tersedia di toko-toko buku terdekat di kotamu, ya! Kamu juga bisa beli Kilovegram secara online dengan diskon menggiurkan di: BukaBuku, BukuKita, BukuBukuLaris, atau kamu bisa langsung beli di aku, ya! Silakan mention Twitter: @megasofunny.

Rabu, 17 Januari 2018

Proses Panjang di Balik Teenlit Kilovegram: Mulai dari Benzbara, Lomba Novel Tanpa Pemenang, hingga Gramedia Pustaka Utama

Halooo! Apa kabar nih, gengs? Semoga kalian sedang dalam keadaan paling baik, yaaa~ 

Akhirnya aku berhasil juga ngumpulin niat untuk ngepost di sini lagi setelah sekian lama menelantarkan blog hingga penuh sarang laba-laba. Betapa tidak tau dirinya aku, kini datang kembali tiba-tiba *toyor pala sendiri*. Tapi aku seneng banget karena kali ini aku bawa kabar baik, lho! Yihaaa~ *putar-putar tali dadung ala koboy*

APAKAH ITU? Jeng jeng jeng~
Pic by @detdetyy
Jadi setelah terbitnya teenlit pertamaku yang berjudul Love Apart di tahun 2014, kini teenlit keduaku yang berjudul KILOVEGRAM juga akan diterbitkan oleh penerbit yang sama, yakni Gramedia Pustaka Utama (GPU). Nah, buat kalian yang penasaran tentang Kilovegram, silakan cek video di bawah ini. Semoga tampilan mukaku gak bikin mata kalian diare ya, gengs. Mmmwah *kecup bacahhh*


Kali ini aku bukan mau berbagi tentang isi cerita novelku, sih. Hehehe, untuk yang satu ini aku berharap kalian cari tau sendiri dengan membaca tulisanku di teenlit Kilovegram YANG AKAN TERBIT 29 JANUARI MENDATANG. Apalagi kalo kalian mau kasih kritik dan saran sekalian... wah, aku pasti seneng banget!*PELUK ERAT*

*PELUK ERAT BABANG GONG YOO*

Nah, di sini aku mau berbagi cerita tentang perjalanan awal mula terciptanya Kilovegram. 

PERTAMA. Setelah Love Apart terbit, aku mikir, “Kira-kira ide apa lagi ya yang bisa aku olah untuk menjadi sebuah tulisan?” Akhirnya aku menemukan ide dari sebuah keresahan yang kujadikan tema dalam teenlit Kilovegram.

KEDUA. Aku buka semua folder berisi draft usang di komputer dan menemukan salah satu naskah yang sudah kuselesaikan di tahun 2006 (sekitar SMP kelas 2). Dulu naskah usang tersebut kuberi judul Orange dengan tokoh bernama Rhea dan Dandi (ngomong-ngomong anakku kuberi nama Rhea karena aku suka banget nama itu sejak dulu, saat membuat naskah pertamaku).

KETIGA. Lagi-lagi, seperti Love Apart, teenlit keduaku yang berjudul Kilovegram ini adalah bonus terindah dari sakitnya patah hati. Gak usah dijelasin patah hati karena apa deh ya, gak penting juga dibahas di sini =)) Yang jelas, Kilovegram ini adalah cara kabur paling elegan dari semua masalah yang bikin aku down di tahun 2014 dan patah hati adalah sumber semangat untuk membalas cela dengan sebuah karya #tsedaaap~

Nah, punya ide + ketemu naskah usang + patah hati dengan sedikit permak jalan cerita sana-sini adalah rumus yang membuat penulisan Kilovegram berjalan lancar saat itu. Oya, sebelum ketemu judul Kilovegram, naskahku ini berjudul Cinta Bukan Soal Ukuran atau singkat aja CBSU. Hehe, ribet yak? 

Jadi sekitar awal tahun 2014, Bernard Batubara (@benzbara_)—atau akrabnya disapa Bang Bara—lewat cuitan Twitter-nya menawarkan jasa konsultasi naskah cuma-cuma alias gratis di sela waktu senggangnya. Kalau aku gak salah, saat itu Bang Bara masih menjadi editor di salah satu penerbit besar, yaitu GagasMedia/Bukune #CMIIW. Pada awal Mei 2014, aku menyempatkan waktu untuk mengonsultasikan naskah CBSU ke Bang Bara yang saat itu kantornya (mungkin kantor cabang?) berada di Jalan Gedong Kuning, Yogyakarta.
Setelah berkenalan, langsung pada intinya, yaitu konsultasi naskah. Asli, deg-degan. Apalagi ngeliat wajah serius Bang Bara waktu skimming adalah detik-detik yang menyeramkan. Gak nyampe 20 menit naskahku dibolak-balik oleh Bang Bara, eh udah sampai halaman paling akhir aja. Padahal yang nulisnya berapa bulan dah, LOL :)) Setelah Bang Bara menutup naskahku, beliau memberikan beberapa kritik-saran. Kritik, saran, dan wejangan kepenulisan yang paling aku ingat betul dari Bang Bara adalah sebagai berikut:
“Kalo kamu gak bisa menjelaskan ke aku tentang apa naskahmu dalam satu atau dua kalimat, bisa jadi kamu gak bener-bener ngerti apa yang sebenarnya kamu tulis.”
“Silakan mau buat jalan ceritamu sedemikian rupa, tapi aku tidak menyarankan kamu menambahkan tokoh baru saat cerita mau selesai. Itu bikin tokohmu terkesan hanya tempelan seolah biar ceritanya cepet selesai.” 
Kalo kamu mulai bosan, berarti narasimu kepanjangan, saatnya tambahkan dialog. Kalo kamu merasa tempo ceritamu terlalu cepat, tambahkan narasi.
“Ceritamu ini fokusnya ke mana? Coba tokoh baru di menjelang akhir cerita ini hilangkan aja. Saranku mulai dari setengah naskah ke belakang sejak kemunculan tokoh baru, itu dirombak ceritanya, kalo perlu ubah jadi begini bla bla bla.” 
Jujur yah, untuk saran yang terakhir tuh aku kayak mau nangis dengernya. Bayangin gengs, setengah jalan cerita (yang kamu pikir itu bagus) disuruh hilangkan, ubah, dan bikin baru. BI-KIN-BA-RU! *mati suri kemudian*.
Sementara jiwa masih syok setelah dengerin saran Bang Bara, mulut bilang iya-iya aja dan otak semampunya berusaha merekam sederet saran lainnya. Pertemuan siang menjelang sore itu ditutup dengan kalimat, “Masih banyak yang harus kamu perbaiki. Jadi maaf ya, terus terang naskah ini belum bisa dibawa ke tahap lebih lanjut,” oleh Bang Bara. Setelah hari itu aku memutuskan istirahat sejenak dari dunia tulis-menulis. Puyeng, bok! 

Sebulan setelah konsultasi tersebut, eeeh muncullah poster lomba novel bertema kehidupan remaja dari salah satu penerbit. Saat itu aku belum kepikiran untuk mengubah setengah jalan cerita menjadi seperti yang disarankan Bang Bara. Aku terlalu puyeng untuk melakukannya. Jadi langsung aja aku kirim naskah CBSU untuk kuikutkan lomba, yang saat itu judulnya sudah kuganti menjadi Kilovegram. Biar lebih hemat napas ngucapinnya.

Empat bulan menanti, akhirnya hasil lomba novel pun diumumkan. Anehnya, hasil akhir lomba tersebut adalah: TIDAK ADA PEMENANG, karena penerbit tersebut menginginkan novel yang SU-PER-A-MA-ZING! Iya, intinya yang ditulis di blog penerbit tersebut sih begitu, mueheheh :P Walau tidak ada pemenang, Tim Juri tetap memberi apresiasi kepada 5 naskah pilihan, di mana Kilovegram, naskahku, terpilih sebagai salah satunya. Dengan catatan, kelima naskah tersebut tetap tidak akan diterbitkan. Cedih, bok~

Nah, setelah pengumuman lomba tersebutlah titik balik perjuanganku merombak setengah jalan cerita seperti yang disarankan oleh Bang Bara. Aku yakin banget saran dan kritik Bang Bara itu untuk kebaikan naskahku sendiri ke depannya. Azeg! Setelah kupermak sana-sini, akhirnya kuberanikan diri untuk mengirim hasil akhir naskah Kilovegram (seperti yang Bang Bara sarankan) ke penerbit GPU di tahun 2015, sekitar bulan Februari. 

Setelah hampir dua tahun tidak kunjung mendapat kabar dari GPU, rasanya mau nyerah aja. Sering juga terbit perasaan semacam: mungkin dunia kepenulisan memang bukan buatku. Tapi anggapan itu langsung sirna ketika aku ditelpon oleh pihak GPU pada Januari 2017 dan memintaku untuk memeriksa email. Sumpah, bahagianya gak main-main. Intinya email tersebut berisi bahwa naskahku yang berjudul Kilovegram, yang aku kirim dua tahun lalu, diputuskan untuk diterbitkan :) Entah kebetulan atau tidak, tapi saat pihak GPU menelpon untuk memberi kabar baik, itu bertepatan dengan hari ulang tahunku. Jadi kebayang kan gimana senengnya? Bagiku itu kado terbaik di tahun 2017. Terima kasih Gramedia Pustaka Utama kesayangan *MMMWAH*
 
Daaan, setelah menanti setahun kemudian semenjak diputuskan untuk diterbitkan, akhirnya pada bulan November 2017 aku dikabari oleh Mbak Nindy, editor Kilovegram, bahwa rencananya naskahku akan terbit bulan Januari 2018 antara minggu ketiga atau keempat. Waaah, makin seneng! Itu artinya hal tersebut bakal jadi kado terbaik di 2018, dari GPU lagi. Entahlah... kerasa indah banget karena aku pun melewati proses yang tidak sebentar.

Alhamdulillah. Terima kasih. Aim seneng banget, Ya Allah~

Tentunya semua ini juga tidak lepas dari doa Mama. Aku inget banget beberapa hari sebelum ada kabar dari GPU aku selalu murung karena layar laptopku baru aja patah. Udah gitu aku lagi gak punya duit buat benerin atau beli baru. Waktu itu Mama cuma bilang, “Ya udah yang sabar, Nduk. Mama doain semoga kamu cepat dapat kabar baik dan tercapai kepenginanmu.” Aku percaya semua kabar baik itu adalah doa Mama yang menembus langit. Ya, begitulah... di balik keberhasilan usaha mencapai impian, ada doa ibu yang diijabah Allah. Sekali lagi alhamdulillah.

Oya, walau saat itu aku sedih karena Kilovegram menjadi salah satu dari naskah-pilihan-tapi-tidak-diterbitkan, tapi kini aku justru bersyukur karena pada akhirnya aku bisa membenahi dan mengubah setengah jalan cerita seperti yang disarankan oleh Bang Bara. Dan sejauh ini, aku suka dengan perubahan yang sudah kulakukan untuk naskahku itu. GAK KEBAYANG COY, kalau saat itu diterbitkan dan setengah jalannya cerita gak kuubah... duh, mungkin aku bakal malu sendiri bacanya :( Berkat saran Bang Bara dan lomba tanpa pemenang tersebutlah kini Kilovegram menemukan ‘rumahnya’ yang terbaik.

Yak, sekian panjangnya cerita dari perjalanan terjadinya Kilovegram. Buat temen-temen yang sedang memperjuangkan naskahnya, tetap tenang, sabar, dan semangat, ya! Cintai prosesnya. Karena menurutku, keindahan yang ada dalam dunia kepenulisan terletak pada proses belajar, berkembang, dan penantian itu sendiri. So, selalu yakin bahwa setiap naskah pasti akan menemukan tempat bernaungnya. 

Ciyum sayang,
Megashofani.

Senin, 23 April 2012

Aku Tergila-gila? Salahmu Mencuri Perhatianku!

Untuk Alitt Susanto...
Jadi, berapa PIN Blackberry mu? HAHAHAHA :))))

Aku masih mencari apa yang menjadi daya tarikmu, bahkan wajahmu tak setampan Tengku Wisnu. Ah, kamu memang bukan Tengku Wisnu apalagi Ruben Onsu. Kamu hanyalah kamu, yang mampu menyeret perhatian wanita-wanita dengan barisan kata-kata manis juga romantis yang dihantarkan oleh jemari-jemarimu. Kamu begitu biasa, sederhana, tapi itu yang menarik aku, untuk selalu menguntitmu, keseharianmu.

Kini tengah dini hari aku masih terjaga, membaca seluruh isi timelinemu dalam sebuah microblogging bernama Twitter. Selalu saja tak ada puasnya ketika menggerakan mouse untuk selalu scroll down halaman Twitter-mu, melihat satu-persatu dengan siapa saja kau bercakap, lalu kemudian berujung dengan rasa penasaran memencet 'in reply to' untuk selalu tau apa yang kau cakapkan dengan orang lain dan penuh keakraban. Iya, aku selalu tak pernah puas menguntitmu.

Hari-hari lalu, kau pun begitu... menghipnotis aku. Hanya dengan tulisanmu mampu menciptakan gelak tawaku, atau sesaat kemudian juga mendatangkan kegalauan ketika tweets-tentang-cinta-mu menusuk dalam hatiku. Aneh, tulisanmu mulai mampu mengontrol moodku dan membaca timelinemu mulai menjadi candu.

Seiring aku menggilaimu, aku mulai mengirimimu email, mention, yang tak pernah kunjung kau balas. Aku iri dengan mereka yang bisa bertemu denganmu, mengabadikannya dalam lembaran benda mati bernama foto. Kapan giliranku? Kapan giliranku merangkulmu, atau bergaya dengan gaya-gaya konyol lalu diabadikan dalam sebuah foto?

Pernah aku melihatmu di sebuah kafe pada acara Stand-Up Comedy di kotaku, tapi kafe itu begitu penuh dan tak memungkinkan aku untuk lebih dekat denganmu. Aku menyaksikan aksimu di sudut tempat yang tak mungkin terjangkau oleh pandanganmu. Aku melihat kamu yang berusaha membuat seisi kafe setidaknya tertawa dengan leluconmu. 

Dalam hati aku telah menyimpan niatan untuk mengejarmu nanti, setelah acara selesai sekedar meminta tandatangan untuk kau bubuhkan pada bukumu yang selalu menjadi bacaan dan teman malam sebelum aku tidur. Sayangnya, saat ujung acara kamu mulai tergesa-gesa menuju mobil karena diburu oleh penggemar-penggemarmu. Aku berhimpitan dengan mereka, yang juga menginginkan tandatanganmu. Jangankan untuk lebih dekat dan meminta tanda tangan, aku malah semakin terhimpit dan terdorong ke belakang.

Kamu pun berlalu.

Rasa penasaranku padamu tak kunjung reda. Apa iya, kekagumanku hanya bisa sebatas memeluk buku ciptaanmu setiap malam sebelum aku tidur? Apa iya tak bisa lebih dari itu? Bertemu lebih dekat, mungkin? Atau yang lebih kurang ajar... memelukmu, mungkin?

***

Aku mulai menggila. Berkali-kali kuteriakkan namamu tanpa peduli dua satpam yang kini tengah menahan lenganku, menyeretku ke pintu keluar, membawa aku semakin jauh dari sosokmu. Aku melihatmu di sana, Alitt. Kamu melongo melihatku yang beberapa saat lalu secara brutal hampir menerobos keamanan hanya untuk menaiki panggung sekedar ingin memelukmu. 

Dalam keadaan lengan yang tertahan dan langkah yang terseret secara paksa oleh dua orang satpam, aku masih meronta tanpa peduli seluruh pasang mata yang menatapku heran. Mungkin mereka pikir aku gila! Tapi kesalahanmu mencuri perhatianku, Litt! Memang salah kalau hanya ingin bertemu denganmu? Lalu salah siapa membuatku tergila-gila? Kamu!

Aku merusak talkshowmu dengan kegilaanku yang membuatmu panik.

Masih dengan buku 'SKRIPSHIT'mu dalam genggamanku, mengharapkan tandatanganmu... aku dirundung kecewa. Kenapa kau tak menahan satpam-satpam ketika mereka menyeretku? Kenapa malah hanya terdiam di atas panggung membiarkan aku dipandangi dengan tatapan orang-orang yang menganggapku tolol?

***

Sudah selang dua jam sejak kegilaanku di gedung tempat kau melangsungkan talkshowmu, aku masih menangis di kantor satpam. Mereka menginterogasiku dan tak ada satupun pertanyaan mereka yang kujawab. 

Aku menangis sesenggukan, mataku mulai membengkak sebesar bengkoang dengan hidung semerah tomat. Wajahku sudah jelek, tanpa harus berkaca lagi pada cermin pun aku tau sekarang wajahku tampak lebur karena merengek tanpa henti.

"Lagian dek, ngapain sih kayak orang gila mau naik ke atas panggung?" tanya seorang satpam dengan perawakan tinggi-besar.

"Bapak nggak tau sih rasanya terkagum-kagum sama orang!" ujarku dengan nada sengal-sengol.

"Tapi tingkahmu tadi kelewatan dek!" ujar satpam yang satu lagi dengan perawakan kurus-tinggi itu. "Dulu saya tergila-gila sama Eva Arnaz juga gak sampe segitunya."

Jgrek! Suara pintu kantor satpam dibuka oleh seseorang. 

Aku menoleh sesaat ke arah pintu. Oh, orang lain... kukira satpam yang lain, batinku lalu memalingkan kembali kepalaku, tertunduk. Bayangan seseorang di ambang pintu yang baru saja kutangkap dalam pikiranku tiba-tiba membuat hatiku 'deg'. Topi itu? Kacamata itu? Plester di ujung matanya? Aku menoleh lagi, menghentikan tangisanku, memperhatikan sesosok yang kini di ambang pintu lekat-lekat. Alitt Susanto!

Aku melotot. "ALITT!" 

"Maaf, Mas... nih anak dihukum apa Mas, enaknya?" tanya satpam berperawakan tinggi-besar langsung bertanya to the point pada Alitt.

"Emmm... boleh saya ngomong empat mata sama anak ini dulu gak, Pak?" tanya Alitt pada kedua Satpam tersebut yang kemudian saling berpandangan, mengangguk dan meninggalkan kami berdua di kantor satpam.

Sejenak aku mendengar suara Alitt, mungkin saja aku terjengkang dari kursi karena tertawa terbahak-bahak kalau tak mengontrol diri setelah mendengar suaranya yang medhok dan melengking itu.

"Apa sih yang kamu mau di gedung tadi?" tanya Alitt sambil menatap mataku lekat. Wajahnya serius. Aku baru tau seorang penulis kocak yang merangkap komedian bisa memasang tampang seserius itu. "Kamu tau, kamu hampir ngerusak talkshowku. Kamu nggak bisa ya, lebih tenang?" Alitt memborong pertanyaan. "Kamu mau minta tandatangan? Nggak bisa lebih sabar?"

"Kamu tau nggak rasanya mengagumi seseorang? Orang itu bikin kamu candu dengan apapun tulisannya, tentang kesehariannya yang dia tulis lewat seratus-empat-puluh karakter?" tanyaku balik tanpa sedikitpun menjawab pertanyaan Alitt.

"Iya. Tapi kan nggak begitu juga caranya," nada Alitt terdengar lembut dan... medhok. "Tingkahmu tadi lebih mirip orang gila!" serunya.

"Siapa suruh kamu bikin tergila-gila?" tanyaku sambil melontarkan senyum manis, setidaknya biar wajahku yang jelek bersimbah air mata ini tidak makin jelek.

"Ya udah. Jadi, apa yang kamu mau?"

Aku buru-buru mengambil buku 'SKRIPSHIT' untuk ditandatangani oleh Alitt, kemudian menyerahkannya. "Sederhana. Tandatanganmu, Litt."

"Cuma ini?" Alitt mengangkat satu alisnya.

Aku mengangguk.

Kemudian Alitt menandatangani 'SKRIPSHIT' sesuai permintaanku dan menyerahkan kembali padaku. Aku begitu sumringah.

"Lain kali, aku gak mau liat kamu bertingkah gila kayak tadi. Tapi, makasih ya, aku paham kok tentang rasa kagum yang kamu maksud," nada Alitt terdengar lembut menyentuh gendang telinga.

Aku mengangguk, lalu mengulum senyum. Mukaku memanas. Sayangnya tak ada cermin. Kalau ada, pasti aku sudah melihat mukaku yang memerah-jambu ini!

"Ya udah deh, have a nice day, ya." Alitt mengembangkan senyumannya yang terlihat tengil. Senyum-senyum tengil yang sering aku lihat di setiap pose fotonya. Kemudian Alitt pergi dan berlalu.

Aku masih belum sadar dari rasaku yang melambung karena baru saja bertemu orang yang tadinya hanya bisa kuciumi avatar Twitter dan timelinenya di layar komputer. Aku mulai melamun dalam kegiranganku sendiri sampai akhirnya...

"Dek! Udah pergi tuh Mas Alittnya! Adek mau di kantor satpam terus?" tepukan pundak dan suara yang berasal dari satpam berperawakan tinggi-kurus itu mengangetkanku.

"Astaga! Alitt!" aku menepok jidat.

Dengan langkah seribu aku keluar dari kantor satpam, kemudian mencari sosok yang beberapa menit lalu baru saja menghipnotis aku dengan kharismanya. Di tengah keramaian aku mencari punggung Alitt, dan tak mendapatkannya.

Aku menghentakkan kakiku. Kesal. Ck! Cepet banget sih ilangnya! Kita kan belom sempet foto bareng, Litt! Batinku. Aku merasa menyesal.

Aku membuka lagi halaman 'SKRIPSHIT' yang ditandatangani oleh Alitt. Ternyata tidak hanya tandatangannya di sana, tapi ada juga catatan kecil yang tiba-tiba saja membuat rasa girangku membuncah! Catatan yang tak sampai sebaris, dan saat itu juga tak membuat aku merasa menyesal telah bertingkah gila sampai-sampai harus ditahan di kantor satpam:

Sabtu ini, Gubug Cafe, 19.30. Semoga kamu punya waktu ;) Alitt.

Aku tersenyum lebar. Kalau gini ceritanya sih, tak sia-sia melupakan rasa malu! Toh, terbayar sudah ketika semesta mengijinkan lagi aku dan Alitt bertemu Sabtu malam besok! Ah, SABTUUUUU... AYOLAH, CEPAT DATANG!

Love,
Megashofani.

---------oOo---------
Catatan: Cerita ini hanya fiksi belaka berawal dari rasa kagum sama Mas Alitt Susanto. Haha, timelineku tiada kesan tanpa tweetsmu, Mas! *guomballl* :p