Wednesday, 17 January 2018

Proses Panjang di Balik Teenlit Kilovegram: Mulai dari Benzbara, Lomba Novel Tanpa Pemenang, hingga Gramedia Pustaka Utama

Halooo! Apa kabar nih, gengs? Semoga kalian sedang dalam keadaan paling baik, yaaa~ 

Akhirnya aku berhasil juga ngumpulin niat untuk ngepost di sini lagi setelah sekian lama menelantarkan blog hingga penuh sarang laba-laba. Betapa tidak tau dirinya aku, kini datang kembali tiba-tiba *toyor pala sendiri*. Tapi aku seneng banget karena kali ini aku bawa kabar baik, lho! Yihaaa~ *putar-putar tali dadung ala koboy*

APAKAH ITU? Jeng jeng jeng~
Jadi setelah terbitnya teenlit pertamaku yang berjudul Love Apart di tahun 2014, kini teenlit keduaku yang berjudul KILOVEGRAM juga akan diterbitkan oleh penerbit yang sama, yakni Gramedia Pustaka Utama (GPU). Nah, buat kalian yang penasaran tentang Kilovegram, silakan cek video di bawah ini. Semoga tampilan mukaku gak bikin mata kalian diare ya, gengs. Mmmwah *kecup bacahhh*


Kali ini aku bukan mau berbagi tentang isi cerita novelku, sih. Hehehe, untuk yang satu ini aku berharap kalian cari tau sendiri dengan membaca tulisanku di teenlit Kilovegram YANG AKAN TERBIT 29 JANUARI MENDATANG. Apalagi kalo kalian mau kasih kritik dan saran sekalian... wah, aku pasti seneng banget!*PELUK ERAT*

*PELUK ERAT BABANG GONG YOO*

Nah, di sini aku mau berbagi cerita tentang perjalanan awal mula terciptanya Kilovegram. 

PERTAMA. Setelah Love Apart terbit, aku mikir, “Kira-kira ide apa lagi ya yang bisa aku olah untuk menjadi sebuah tulisan?” Akhirnya aku menemukan ide dari sebuah keresahan yang kujadikan tema dalam teenlit Kilovegram.

KEDUA. Aku buka semua folder berisi draft usang di komputer dan menemukan salah satu naskah yang sudah kuselesaikan di tahun 2006 (sekitar SMP kelas 2). Dulu naskah usang tersebut kuberi judul Orange dengan tokoh bernama Rhea dan Dandi (ngomong-ngomong anakku kuberi nama Rhea karena aku suka banget nama itu sejak dulu, saat membuat naskah pertamaku).

KETIGA. Lagi-lagi, seperti Love Apart, teenlit keduaku yang berjudul Kilovegram ini adalah bonus terindah dari sakitnya patah hati. Gak usah dijelasin patah hati karena apa deh ya, gak penting juga dibahas di sini =)) Yang jelas, Kilovegram ini adalah cara kabur paling elegan dari semua masalah yang bikin aku down di tahun 2014 dan patah hati adalah sumber semangat untuk membalas cela dengan sebuah karya #tsedaaap~

Nah, punya ide + ketemu naskah usang + patah hati dengan sedikit permak jalan cerita sana-sini adalah rumus yang membuat penulisan Kilovegram berjalan lancar saat itu. Oya, sebelum ketemu judul Kilovegram, naskahku ini berjudul Cinta Bukan Soal Ukuran atau singkat aja CBSU. Hehe, ribet yak? 

Jadi sekitar awal tahun 2014, Bernard Batubara (@benzbara_)—atau akrabnya disapa Bang Bara—lewat cuitan Twitter-nya menawarkan jasa konsultasi naskah cuma-cuma alias gratis di sela waktu senggangnya. Kalau aku gak salah, saat itu Bang Bara masih menjadi editor di salah satu penerbit besar, yaitu GagasMedia/Bukune #CMIIW. Pada awal Mei 2014, aku menyempatkan waktu untuk mengonsultasikan naskah CBSU ke Bang Bara yang saat itu kantornya (mungkin kantor cabang?) berada di Jalan Gedong Kuning, Yogyakarta.
Setelah berkenalan, langsung pada intinya, yaitu konsultasi naskah. Asli, deg-degan. Apalagi ngeliat wajah serius Bang Bara waktu skimming adalah detik-detik yang menyeramkan. Gak nyampe 20 menit naskahku dibolak-balik oleh Bang Bara, eh udah sampai halaman paling akhir aja. Padahal yang nulisnya berapa bulan dah, LOL :)) Setelah Bang Bara menutup naskahku, beliau memberikan beberapa kritik-saran. Kritik, saran, dan wejangan kepenulisan yang paling aku ingat betul dari Bang Bara adalah sebagai berikut:
“Kalo kamu gak bisa menjelaskan ke aku tentang apa naskahmu dalam satu atau dua kalimat, bisa jadi kamu gak bener-bener ngerti apa yang sebenarnya kamu tulis.”
“Silakan mau buat jalan ceritamu sedemikian rupa, tapi aku tidak menyarankan kamu menambahkan tokoh baru saat cerita mau selesai. Itu bikin tokohmu terkesan hanya tempelan seolah biar ceritanya cepet selesai.” 
Kalo kamu mulai bosan, berarti narasimu kepanjangan, saatnya tambahkan dialog. Kalo kamu merasa tempo ceritamu terlalu cepat, tambahkan narasi.
“Ceritamu ini fokusnya ke mana? Coba tokoh baru di menjelang akhir cerita ini hilangkan aja. Saranku mulai dari setengah naskah ke belakang sejak kemunculan tokoh baru, itu dirombak ceritanya, kalo perlu ubah jadi begini bla bla bla.” 
Jujur yah, untuk saran yang terakhir tuh aku kayak mau nangis dengernya. Bayangin gengs, setengah jalan cerita (yang kamu pikir itu bagus) disuruh hilangkan, ubah, dan bikin baru. BI-KIN-BA-RU! *mati suri kemudian*.
Sementara jiwa masih syok setelah dengerin saran Bang Bara, mulut bilang iya-iya aja dan otak semampunya berusaha merekam sederet saran lainnya. Pertemuan siang menjelang sore itu ditutup dengan kalimat, “Masih banyak yang harus kamu perbaiki. Jadi maaf ya, terus terang naskah ini belum bisa dibawa ke tahap lebih lanjut,” oleh Bang Bara. Setelah hari itu aku memutuskan istirahat sejenak dari dunia tulis-menulis. Puyeng, bok! 

Sebulan setelah konsultasi tersebut, eeeh muncullah poster lomba novel bertema kehidupan remaja dari salah satu penerbit. Saat itu aku belum kepikiran untuk mengubah setengah jalan cerita menjadi seperti yang disarankan Bang Bara. Aku terlalu puyeng untuk melakukannya. Jadi langsung aja aku kirim naskah CBSU untuk kuikutkan lomba, yang saat itu judulnya sudah kuganti menjadi Kilovegram. Biar lebih hemat napas ngucapinnya.

Empat bulan menanti, akhirnya hasil lomba novel pun diumumkan. Anehnya, hasil akhir lomba tersebut adalah: TIDAK ADA PEMENANG, karena penerbit tersebut menginginkan novel yang SU-PER-A-MA-ZING! Iya, intinya yang ditulis di blog penerbit tersebut sih begitu, mueheheh :P Walau tidak ada pemenang, Tim Juri tetap memberi apresiasi kepada 5 naskah pilihan, di mana Kilovegram, naskahku, terpilih sebagai salah satunya. Dengan catatan, kelima naskah tersebut tetap tidak akan diterbitkan. Cedih, bok~

Nah, setelah pengumuman lomba tersebutlah titik balik perjuanganku merombak setengah jalan cerita seperti yang disarankan oleh Bang Bara. Aku yakin banget saran dan kritik Bang Bara itu untuk kebaikan naskahku sendiri ke depannya. Azeg! Setelah kupermak sana-sini, akhirnya kuberanikan diri untuk mengirim hasil akhir naskah Kilovegram (seperti yang Bang Bara sarankan) ke penerbit GPU di tahun 2015, sekitar bulan Februari. 

Setelah hampir dua tahun tidak kunjung mendapat kabar dari GPU, rasanya mau nyerah aja. Sering juga terbit perasaan semacam: mungkin dunia kepenulisan memang bukan buatku. Tapi anggapan itu langsung sirna ketika aku ditelpon oleh pihak GPU pada Januari 2017 dan memintaku untuk memeriksa email. Sumpah, bahagianya gak main-main. Intinya email tersebut berisi bahwa naskahku yang berjudul Kilovegram, yang aku kirim dua tahun lalu, diputuskan untuk diterbitkan :) Entah kebetulan atau tidak, tapi saat pihak GPU menelpon untuk memberi kabar baik, itu bertepatan dengan hari ulang tahunku. Jadi kebayang kan gimana senengnya? Bagiku itu kado terbaik di tahun 2017. Terima kasih Gramedia Pustaka Utama kesayangan *MMMWAH*
Daaan, setelah menanti setahun kemudian semenjak diputuskan untuk diterbitkan, akhirnya pada bulan November 2017 aku dikabari oleh Mbak Nindy, editor Kilovegram, bahwa rencananya naskahku akan terbit bulan Januari 2018 antara minggu ketiga atau keempat. Waaah, makin seneng! Itu artinya hal tersebut bakal jadi kado terbaik di 2018, dari GPU lagi. Entahlah... kerasa indah banget karena aku pun melewati proses yang tidak sebentar.

Alhamdulillah. Terima kasih. Aim seneng banget, Ya Allah~

Tentunya semua ini juga tidak lepas dari doa Mama. Aku inget banget beberapa hari sebelum ada kabar dari GPU aku selalu murung karena layar laptopku baru aja patah. Udah gitu aku lagi gak punya duit buat benerin atau beli baru. Waktu itu Mama cuma bilang, “Ya udah yang sabar, Nduk. Mama doain semoga kamu cepat dapat kabar baik dan tercapai kepenginanmu.” Aku percaya semua kabar baik itu adalah doa Mama yang menembus langit. Ya, begitulah... di balik keberhasilan usaha mencapai impian, ada doa ibu yang diijabah Allah. Sekali lagi alhamdulillah.

Oya, walau saat itu aku sedih karena Kilovegram menjadi salah satu dari naskah-pilihan-tapi-tidak-diterbitkan, tapi kini aku justru bersyukur karena pada akhirnya aku bisa membenahi dan mengubah setengah jalan cerita seperti yang disarankan oleh Bang Bara. Dan sejauh ini, aku suka dengan perubahan yang sudah kulakukan untuk naskahku itu. GAK KEBAYANG COY, kalau saat itu diterbitkan dan setengah jalannya cerita gak kuubah... duh, mungkin aku bakal malu sendiri bacanya :( Berkat saran Bang Bara dan lomba tanpa pemenang tersebutlah kini Kilovegram menemukan ‘rumahnya’ yang terbaik.

Yak, sekian panjangnya cerita dari perjalanan terjadinya Kilovegram. Buat temen-temen yang sedang memperjuangkan naskahnya, tetap tenang, sabar, dan semangat, ya! Cintai prosesnya. Karena menurutku, keindahan yang ada dalam dunia kepenulisan terletak pada proses belajar, berkembang, dan penantian itu sendiri. So, selalu yakin bahwa setiap naskah pasti akan menemukan tempat bernaungnya. 

Ciyum sayang,
Megashofani.