Wednesday, 17 January 2018

Proses Panjang di Balik Teenlit Kilovegram: Mulai dari Benzbara, Lomba Novel Tanpa Pemenang, hingga Gramedia Pustaka Utama

Halooo! Apa kabar nih, gengs? Semoga kalian sedang dalam keadaan paling baik, yaaa~ 

Akhirnya aku berhasil juga ngumpulin niat untuk ngepost di sini lagi setelah sekian lama menelantarkan blog hingga penuh sarang laba-laba. Betapa tidak tau dirinya aku, kini datang kembali tiba-tiba *toyor pala sendiri*. Tapi aku seneng banget karena kali ini aku bawa kabar baik, lho! Yihaaa~ *putar-putar tali dadung ala koboy*

APAKAH ITU? Jeng jeng jeng~
Jadi setelah terbitnya teenlit pertamaku yang berjudul Love Apart di tahun 2014, kini teenlit keduaku yang berjudul KILOVEGRAM juga akan diterbitkan oleh penerbit yang sama, yakni Gramedia Pustaka Utama (GPU). Nah, buat kalian yang penasaran tentang Kilovegram, silakan cek video di bawah ini. Besar harapan semoga tampilan mukaku gak bikin mata kalian diare ya, gengs. Mmmwah *kecup bacahhh*


Kali ini aku bukan mau berbagi tentang isi cerita novelku, sih. Hehehe, untuk yang satu ini aku berharap kalian cari tau sendiri dengan membaca tulisanku di teenlit Kilovegram YANG AKAN TERBIT 29 JANUARI MENDATANG. Apalagi kalo kalian mau kasih kritik dan saran sekalian... wah, aku pasti seneng banget!
*PELUK ERAT*
*PELUK ERAT BABANG GONG YOO*

Nah, di sini aku mau berbagi cerita tentang perjalanan awal mula terciptanya Kilovegram. 

PERTAMA. Setelah Love Apart terbit, aku mikir, “Kira-kira ide apa lagi ya yang bisa aku olah untuk menjadi sebuah tulisan?” Akhirnya aku menemukan ide dari sebuah keresahan yang kujadikan tema dalam teenlit Kilovegram.

KEDUA. Aku buka semua folder berisi draft usang di komputer dan menemukan salah satu naskah yang sudah kuselesaikan di tahun 2006 (sekitar SMP kelas 2). Dulu naskah usang tersebut kuberi judul Orange dengan tokoh bernama Rhea dan Dandi (ngomong-ngomong anakku kuberi nama Rhea karena aku suka banget nama itu sejak dulu, saat membuat naskah pertamaku).

KETIGA. Lagi-lagi, seperti Love Apart, teenlit keduaku yang berjudul Kilovegram ini adalah bonus terindah dari sakitnya patah hati. Gak usah dijelasin patah hati karena apa deh ya, gak penting juga dibahas di sini =)) Yang jelas, Kilovegram ini adalah cara kabur paling elegan dari semua masalah yang bikin aku down di tahun 2014 dan patah hati adalah sumber semangat untuk membalas cela dengan sebuah karya #tsedaaap~

Nah, punya ide + ketemu naskah usang + patah hati dengan sedikit permak jalan cerita sana-sini adalah rumus yang membuat penulisan Kilovegram berjalan lancar saat itu. Oya, sebelum ketemu judul Kilovegram, naskahku ini berjudul Cinta Bukan Soal Ukuran atau singkat aja CBSU. Hehe, ribet yak? 

Jadi sekitar awal tahun 2014, Bernard Batubara (@benzbara_)—atau akrabnya disapa Bang Bara—lewat cuitan Twitter-nya menawarkan jasa konsultasi naskah cuma-cuma alias gratis di sela waktu senggangnya. Kalau aku gak salah, saat itu Bang Bara masih menjadi editor di salah satu penerbit besar, yaitu GagasMedia/Bukune #CMIIW. Pada awal Mei 2014, aku menyempatkan waktu untuk mengonsultasikan naskah CBSU ke Bang Bara yang saat itu kantornya (mungkin kantor cabang?) berada di Jalan Gedong Kuning, Yogyakarta.
Setelah berkenalan, akhirnya langsung pada intinya, yaitu konsultasi naskah. Asli, deg-degan. Apalagi ngeliat wajah serius Bang Bara waktu skimming adalah detik-detik yang menyeramkan. Gak nyampe 20 menit naskahku dibolak-balik oleh Bang Bara, eh udah sampai halaman paling akhir aja. Padahal yang nulisnya berapa bulan dah, LOL :)) Setelah Bang Bara menutup naskahku, beliau memberikan beberapa kritik-saran. Kritik, saran, dan wejangan kepenulisan yang paling aku ingat betul dari Bang Bara adalah sebagai berikut:
“Kalo kamu gak bisa menjelaskan ke aku tentang apa naskahmu dalam satu atau dua kalimat, bisa jadi kamu gak bener-bener ngerti apa yang sebenarnya kamu tulis.”
“Silakan mau buat jalan ceritamu sedemikian rupa, tapi aku tidak menyarankan kamu menambahkan tokoh baru saat cerita mau selesai. Itu bikin tokohmu terkesan hanya tempelan seolah biar ceritanya cepet selesai.” 
Kalo kamu mulai bosan, berarti narasimu kepanjangan, saatnya tambahkan dialog. Kalo kamu merasa tempo ceritamu terlalu cepat, tambahkan narasi.
“Ceritamu ini fokusnya ke mana? Coba tokoh baru di menjelang akhir cerita ini hilangkan aja. Saranku mulai dari setengah naskah ke belakang sejak kemunculan tokoh baru, itu dirombak ceritanya, kalo perlu ubah jadi begini bla bla bla.” 
Jujur yah, untuk saran yang terakhir tuh aku kayak mau nangis dengernya. Bayangin gengs, setengah jalan cerita (yang kamu pikir itu bagus) disuruh hilangkan, ubah, dan bikin baru. BI-KIN-BA-RU! *mati suri kemudian*.
Sementara jiwa masih syok setelah dengerin saran Bang Bara, mulut bilang iya-iya aja dan otak semampunya berusaha merekam sederet saran lainnya. Pertemuan siang menjelang sore itu ditutup dengan kalimat, “Masih banyak yang harus kamu perbaiki. Jadi maaf ya, terus terang naskah ini belum bisa dibawa ke tahap lebih lanjut,” oleh Bang Bara. Setelah hari itu aku memutuskan istirahat sejenak dari dunia tulis-menulis. Puyeng, bok! 

Sebulan setelah konsultasi tersebut, eeeh muncullah poster lomba novel bertema kehidupan remaja dari salah satu penerbit. Saat itu aku belum kepikiran untuk mengubah setengah jalan cerita menjadi seperti yang disarankan Bang Bara. Aku terlalu puyeng untuk melakukannya. Jadi langsung aja aku kirim naskah CBSU untuk kuikutkan lomba, yang saat itu judulnya sudah kuganti menjadi Kilovegram. Biar lebih hemat napas ngucapinnya.

Empat bulan menanti, akhirnya hasil lomba novel pun diumumkan. Anehnya, hasil akhir lomba tersebut adalah: TIDAK ADA PEMENANG, karena penerbit tersebut menginginkan novel yang SU-PER-A-MA-ZING! Iya, intinya yang ditulis di blog penerbit tersebut sih begitu, mueheheh :P Walau tidak ada pemenang, Tim Juri tetap memberi apresiasi kepada 5 naskah pilihan, di mana Kilovegram, naskahku, terpilih sebagai salah satunya. Dengan catatan, kelima naskah tersebut tetap tidak akan diterbitkan. Cedih, bok~

Nah, setelah pengumuman lomba tersebutlah titik balik perjuanganku merombak setengah jalan cerita seperti yang disarankan oleh Bang Bara. Aku yakin banget saran dan kritik Bang Bara itu untuk kebaikan naskahku sendiri ke depannya. Azeg! Setelah kupermak sana-sini, akhirnya kuberanikan diri untuk mengirim hasil akhir naskah Kilovegram (seperti yang Bang Bara sarankan) ke penerbit GPU di tahun 2015, sekitar bulan Februari. 

Setelah hampir dua tahun tidak kunjung mendapat kabar dari GPU, rasanya mau nyerah aja. Sering juga terbit perasaan semacam: mungkin dunia kepenulisan memang bukan buatku. Tapi anggapan itu langsung sirna ketika aku ditelpon oleh pihak GPU pada Januari 2017 dan memintaku untuk memeriksa email. Sumpah, bahagianya gak main-main. Intinya email tersebut berisi bahwa naskahku yang berjudul Kilovegram, yang aku kirim dua tahun lalu, diputuskan untuk diterbitkan :) Entah kebetulan atau tidak, tapi saat pihak GPU menelpon untuk memberi kabar baik, itu bertepatan dengan hari ulang tahunku. Jadi kebayang kan gimana senengnya? Bagiku itu kado terbaik di tahun 2017. Terima kasih Gramedia Pustaka Utama kesayangan *MMMWAH*
Daaan, setelah menanti setahun kemudian semenjak diputuskan untuk diterbitkan, akhirnya pada bulan November 2017 aku dikabari oleh Mbak Nindy, editor Kilovegram, bahwa rencananya naskahku akan terbit bulan Januari 2018 antara minggu ketiga atau keempat. Waaah, makin seneng! Itu artinya hal tersebut bakal jadi kado terbaik di 2018, dari GPU lagi. Entahlah... kerasa indah banget karena aku pun melewati proses yang tidak sebentar.

Alhamdulillah. Terima kasih. Aim seneng banget, Ya Allah~

Tentunya semua ini juga tidak lepas dari doa Mama. Aku inget banget beberapa hari sebelum ada kabar dari GPU aku selalu murung karena layar laptopku baru aja patah. Udah gitu aku lagi gak punya duit buat benerin atau beli baru. Waktu itu Mama cuma bilang, “Ya udah yang sabar, Nduk. Mama doain semoga kamu cepat dapat kabar baik dan tercapai kepenginanmu.” Aku percaya semua kabar baik itu adalah doa Mama yang menembus langit. Ya, begitulah... di balik keberhasilan usaha mencapai impian, ada doa ibu yang diijabah Allah. Sekali lagi alhamdulillah.

Oya, walau saat itu aku sedih karena Kilovegram menjadi salah satu dari naskah-pilihan-tapi-tidak-diterbitkan, tapi kini aku justru bersyukur karena pada akhirnya aku bisa membenahi dan mengubah setengah jalan cerita seperti yang disarankan oleh Bang Bara. Dan sejauh ini, aku suka dengan perubahan yang sudah kulakukan untuk naskahku itu. GAK KEBAYANG COY, kalau saat itu diterbitkan dan setengah jalannya cerita gak kuubah... duh, mungkin aku bakal malu sendiri bacanya :( Berkat saran Bang Bara dan lomba tanpa pemenang tersebutlah kini Kilovegram menemukan ‘rumahnya’ yang terbaik.

Yak, sekian panjangnya cerita dari perjalanan terjadinya Kilovegram. Buat temen-temen yang sedang memperjuangkan naskahnya, tetap tenang, sabar, dan semangat, ya! Cintai prosesnya. Karena menurutku, keindahan yang ada dalam dunia kepenulisan terletak pada proses belajar, berkembang, dan penantian itu sendiri. So, selalu yakin bahwa setiap naskah pasti akan menemukan tempat bernaungnya. 

Ciyum sayang,
Megashofani.

Wednesday, 3 January 2018

Selamat Datang, 2018! Tahun Baru, Semangat Baru, dan Konten Baru: #MegaJourney2018

Halooo! 

Sebelumnya aku mau ucapin Selamat Tahun Baru 2018 untuk teman-teman dunia perbloggeran dan Megablog! Setelah sekian lama hidup dalam kebimbangan mengenai, konten apa yang mau kubawa ketika aku kembali menekuni dunia blog?, kini kusudah menemukan jawabnya. Azeg~

Jadi begini, sejak kecil aku punya problem hidup yang tak usai-usai, yaitu MASALAH BERAT BADAN. Bahkan, ‘mencapai berat badan ideal’ tuh udah berkali-kali jadi resolusi sampe bosen sendiri (makanya aku gak pernah bikin resolusi lagi, karena resolusinya kebanyakan ngulang resolusi tahun lalu. Astaga, sedih.). Itulah buah dari rasa malas dan ketidakkonsistenan yang sudah mendarah daging =)) Jangan dicontoh ya adik-adik. Jangan.

Walau sebenarnya malas untuk menulisnya (karena sudah berkali-kali ditulis di tahun-tahun sebelumnya), tapi tetap akan kuungkapkan keinginan/resolusiku LAGI di tahun 2018 ini, yaitu masih sama: MENCAPAI BERAT BADAN IDEAL. Yaaa, suatu keinginan perlu diungkapkan supaya kita tahu jelas kemana kaki kita harus melangkah dan apa yang harus kita lakukan untuk mencapai keinginan tersebut. Bukan begitu sodarah-sodaraah? *sodorin mic*

Singkat cerita, badanku mulai membengkak saat umur 5 tahun. Bahkan saat kelas 6 SD bobotku sudah menginjak angka 70 kg. Prestasi yang langka, tentu saja. Dalam perjalanan hidup selama hampir 26 tahun, segala macam diet udah aku lakoni, deh. Ibarat kata nih, kamu mau tanya diet macem apa aja, aku tuh tau protokolnya. Saking banyaknya metode yang udah pernah kujabanin. Berat badan turun, emang. Tapi ya naik lagi.

Karbohidrat dan gula berlebihan itu memang sadis, kawan. 
Intinya, lebih sulit melawan diri sendiri itu benar adanya.

Keadaan tubuh makin parah setelah setelah melahirkan di mana berat badan makin tak terkendali, bahkan jarum timbangan mencapai angka 140-an kilogram. Aku membiarkan keadaan obesitas ini berlangsung selama setahun pasca melahirkan karena memprioritaskan untuk mengurus bayiku. Di titik tiga digit ini, bukan sekali atau dua kali rasa sakit hati aku alami. Bukan hal baru ejekan seperti gajah bengkak dan sumo mendarat di telinga. Bahkan saking seringnya diolok-olok dan dicemooh karena tubuh yang gemuk sekali, telingaku cenderung kebal dengernya. Dikatain macam kasur bukannya marah, malah ikut ketawa. Saking merasa lumrah. Padahal sih dalem hati nangis juga. HUAAAA~

Tetapi percaya deh, ketika hal-hal tidak mengenakan terjadi dalam hidup dan kita mampu mengolahnya menjadi motivasi, energi dan pikiran positif, saat itulah kita menang atas diri sendiri *ikat kepala* Akhirnya, aku memutuskan untuk balas dendam, membungkam mulut-mulut kejam dan suara-suara sumbang. Aku gak membalas mereka dengan melakukan hal yang sama seperti mereka, tapi dengan mengubah dan memperbaiki diri sendiri agar lebih baik lagi. Karena setahuku, itulah satu-satunya cara paling elegan dan menawan yang bisa aku lakukan. 

Selain ingin membalas dendam in a good way, tentunya tujuan PALING UTAMA ya pengin sehat. Tidak bisa dipungkiri, dengan bobot tubuh sekian-sekian-sekian, aku mulai menemukan banyak penyakit. Mulai dari tangan sering kesemutan tiba-tiba, sesak bernafas, kulit jadi kurang sehat mudah gatal-gatal. Aku gak mau hanya karena kondisi tubuhku begini, aku jadi gak bisa leluasa mengimbangi Rhea—anakku—bermain, yang mana di usianya saat itu sedang banyak-banyaknya beraktivitas. Aku mau sehat dan harus sehat. Karena cita-citaku adalah hidup lebih lama bersama orang-orang tersayang. 

Dan hal itu juga yang membuatku memutuskan mendaftar jadi anggota di salah satu pusat kebugaran di tahun 2015. Selama enam sampai delapan bulan ngegym bobot badanku sempat turun banyak, bahkan jarum timbangan sudah menunjukkan angka 106. Memang masih banyak dan masih tiga digit, tapi bisa memangkas beberapa puluh kilogram TANPA OBAT PELANGSING tuh rasanya seneng banget! Badan terasa lebih enteng, rasa percaya diri meningkat, dan tidak mudah lelah.

Ini penampakan 140an sekian kilogram menjadi 106 kilogram~
Tapi eh tapi... 
lagi-lagi rasa malas memenangkan segalanya 
membuat bobotku kini di titik 120 kg lagi. 
Duh, capeeek!

JADI, TEMAN-TEMANKU YANG BUDIMAN...

Inilah yang akan menjadi konten spesial di Megablog yang menyatukan passion menulis dan keinginan hidup sehatku. Atas dasar keresahan tubuhku tentang berat badanku tersebut, aku akan membuat topik khusus bernama #MegaJourney2018 yang menuliskan tentang olahraga apa saja yang aku lakukan untuk menurunkan berat badan dan makanan apa saja yang biasa aku makan selama program penurunan berat badan berlangsung. 

Kenapa #MegaJourney2018?
Mega berarti besar. Journey adalah perjalanan. 
Dan bagiku ini termasuk perjalanan besarku di tahun 2018, 
perjalanan mencapai berat badan ideal. 

Kenapa perjalanan besar? Karena memelihara niat baik dan mempertahankan konsistensi tidak semudah kedengarannya. Sebenarnya aku membuat konten ini sebagai self reminder supaya kali ini aku tidak melenceng dari niatku untuk memenuhi resolusi 2018 yang juga sudah menjadi resolusi tahun-tahun sebelumnya. Selain itu mumpung ini tahun baru dan momennya pas untuk mengawali segala sesuatu yang baik. Hehehe~ 

So, untuk teman-teman, terutama teman-teman yang bertubuh PLUS-SIZE juga... Ayo kita mulai atur pola makan dan olahraga teratur demi kesehatan! Karena menerima tubuh kita apa adanya bukan berarti seadanya. Bagiku, menjaga tubuh tetap sehat adalah wujud bersyukur kepada Tuhan dan mencintai diri sendiri dengan cara paling sederhana.

Dengan dibukanya #MegaJourney2018, sebagai awal aku akan posting data-data fisikku yang akan kuukur ulang pada bulan depan, yakni sebagai berikut:
Buat temen-temen yang ada rencana diet, ingin menurunkan sedikit bobot tubuhnya, 
boleh banget ikutan #MegaJourney2018 dengan syarat: 
1. punya NIAT YANG KUAT, 
2. selalu BERDOA, 
3. tekun BERUSAHA *Push your limit, baby*,
4. harus KONSISTEN dan KONTINYU,
5. yang terakhir NO OBAT PELANGSING.
Demi kebaikan, tolong jangan pakai obat pelangsing. Pil-pil itu hanya membuat kamu terlena yang mengakibatkan setelah kamu berhenti mengonsumsinya, beratmu bakal naik lagi. Karena apa? Karena kamu sebelumnya tidak berusaha membiasakan diri pada pola makan yang baik dan benar. 

Sekian dan sampai jumpa di postingan #MegaJourney2018 berikutnya. Ciao!

Sunday, 26 February 2017

Diselingkuhi Memang Pedih! 6 Tips Ini Bakal Mengantarkanmu ke Gerbang “Move On” Dari Si Dia

Tentu masih lekat dalam ingatan di kala ia mendua. Bukan hanya rasa kecewa dan perih di hati tak terkira, melainkan juga merasa tak berharga. Sudah segenap hati mencintainya, setia merapal namanya dalam doa, eh ternyata dia masih merasa belum cukup juga jika hanya ada kamu di hatinya. Pedih? Jangan ditanya...

Siapapun mungkin tak pernah menginginkan jika cintanya dibagi dua. Namun jika itu terjadi, yang bisa dilakukan hanyalah kembali memunguti kepingan hati yang mau tak mau harus disatukan kembali. Mengalami putus cinta bukan berarti kamu juga putus harapan selamanya. Oleh karena itu, kamu harus kembali bangkit dari keterpurukan yang diakibatkan oleh rasa kecewa dan ‘balas dendam’ dengan cara yang paling elegan.

Gara-gara diselingkuhi kemudian kamu galau berderaian air mata, mengutuki si dia dan selingkuhannya sepanjang hari, kemudian curhat melulu tentang kesedihanmu dia di sosmed? Itu sudah kuno! Kamu harus melalui rasa sakit hatimu dengan hal-hal berkualitas agar move on-mu bukan sembarang move on, karena kita terlalu berharga untuk menangisinya yang telah mendua. So, berikut 6 tips yang bakal bikin proses move on-mu makin seru:

1. Mendekatkan Diri KepadaNya
Adakalanya kita sering lupa jika anugerah bernama Cinta adalah pemberian dariNya. Siapa yang ketika dihubungi si dia langsung sigap secepat kilat, tetapi ketika waktu ibadah tiba mengumpulkan niat saja terasa berat? Ketika kita mulai lupa padaNya dan hanya membumbung tinggi rasa cinta kita kepada si dia, ya jangan heran jika Yang Maha Pemilik Segala Rasa tak segan-segan mengambil kembali rasa cinta itu darimu. Jadi, ketika cinta hilang dari kehidupanmu, kamu sudah tahu kan berharap pada siapa hatimu seharusnya? Tentu kepadaNya, di mana segala cinta abadi berada.

2. Mempererat Diri Kepada Keluarga
Bukan tak mungkin saat kamu masih dengan si dia kamu selalu sibuk dengan urusan percintaanmu sendiri dengannya. Sampai-sampai kamu tak peduli saat Ibu minta sedikit waktu hanya untuk mendengarkan ceritanya tentang tingkah lucu adikmu. Atau juga kamu merasa begitu terganggu saat Ayah memintamu membuatkan teh panas kesukaannya karena Ibu sedang tak di rumah. Iya, kamu jadi mengabaikan keluargamu sendiri. Tetapi ajaibnya, di saat kamu sedih dan kecewa begini, justru mereka yang selalu ada untukmu. Maka, gunakan waktu ini dengan sebaik-baiknya untuk bercengkrama bersama mereka, keluarga tercinta.

3. Menggali Potensi Diri Sendiri
Urusan asmara di hari-hari yang lalu sungguh menyita waktumu untuk bercengkrama dengan diri sendiri. Nah, inilah saat yang tepat untuk menggali potensimu. Dari pada curhat tak bermutu di media sosial, ada baiknya kamu mendalami hobi agar siapa tahu kelak kamu menjadi inspirasi. So, tunggu apa lagi? Ini waktunya mengeksplorasi diri sendiri dan mencapai prestasi. Suka menulis? Kirim tulisan ke penerbit. Suka menyanyi? Bisa unggah ke media khusus untuk musik dan video. Selain hobi terpendam tersalurkan, siapa tahu kamu bisa terkenal. Asyik, kan?

4. Memperbaiki Diri Menjadi Lebih Baik Lagi
Terlalu fokus mencintai si dia membuat kamu lupa bagaimana cara mencintai dirimu sendiri. Kamu sampai tidak menyadari bahwa kamu sudah tidak semenarik dulu lagi. Tidak ada salahnya kamu tetap ingin diterima apa adanya dengan dirimu yang sekarang ini. Tetapi bukan lantas seadanya juga, dong! Mulai rutin berolahraga adalah pilihan yang tepat untuk mengisi daftar kegiatan harianmu mulai saat ini, karena menjaga penampilan dan kesehatan adalah wujud dari rasa cinta terhadap diri sendiri dengan cara paling sederhana. Kalau kamu saja tidak mencintai dirimu, bagaimana orang lain?

5. Menghubungi Sahabat Yang Sempat Terlupakan
Kalau sedang putus cinta, pundak sahabat selalu dicari. Giliran punya pacar, sahabat ditinggal lagi. Jangan gengsi untuk menghubungi sahabat-sahabat terdekat yang dulu selalu ada bersamamu kala berbagi cerita suka-duka. Memang sih, sudah pasti sahabat kita kepalang kesal karena hanya didatangi saat kita butuh bercerita tentang putus cinta. Tetapi kalau sahabatmu sebaik itu, walau kemarin kamu sempat melupakannya, saat ini jika kamu membutuhkannya dia akan tetap ada. Eits, tapi nanti jangan dilupakan lagi, ya!

6. Memberi Waktu Untuk Hati dan Diri Sendiri
Memberi waktu kepada hati untuk memaafkan yang telah terjadi adalah obat yang terbaik bagi diri sendiri. Dengan seiring berjalannya waktu, hati akan menemukan keikhlasan untuk merelakan yang telah berlalu. Tersenyumlah dan nikmati semua proses yang akan mempertemukan hati kita pada rasa syukur karena di masa lalu telah dipisahkan dari orang yang tak bisa menghargai perasaan.

Nah, kalo kamu sukses melakukan 6 tips di atas, jangan heran kalau dia yang mendua dan meninggalkan luka justru malah terkesan denganmu. Bukannya sedih habis diselingkuhi... eh, kamu malah jadi makin kece! Cieee, bisa-bisa si doi gemes tuh pengin balikan. Sayangnya, ketika itu terjadi hatimu sudah tidak untuknya lagi, karena bagimu dia hanya seonggok masa lalu yang sudah mendewasakanmu.

So guys, lekas tersenyum dan jangan lupa bahagia!

Salam,
Megashofani.