Monday, 30 April 2012

Hello, Jekarda!

Halo guys! Jadi Sabtu kemarin saya dan keluarga ke Jakarta dalam rangka nemenin saya audisi chibi chibi chibi hak hak haaaaak! Hahahah gak deng, acara kawinan saudara sih. Nah, setelah 5 tahun lamanya vakum naik pesawat terbang, kemarin naik lagi dan... dibilang katrok sama kakak gara-gara saya teriak-teriak kesenengen gak jelas terutama waktu boarding dan jalan menuju pesawat. 

Iya, dulu saya sering banget naik pesawat bolak-balik Jawa-Papua selama 14 tahun, dan setelah di Jawa selama 5 tahun belum naik pesawat lagi dan rasanya semacem kangen. Jadi ada semacam sensasi dag dig dug *katrok banget* terutama waktu pesawat lepas landas dan mendarat. Desingan dan dengungan mesinnya itu loh, menimbulkan rasa-rasa pasrah yang bergelora di dalam dada #IniApaSih. Wohoo, love it! Dan saking katroknya, di pesawat saya ngambil beberapa foto dengan kamera HP yang disetting flight mode :)

Saya di Jakarta cuma dua hari satu malam, tapi dalam renungan, telaah, dan pemahaman, banyak hal-hal yg bisa diibaratkan walaupun sedikit maksa. Dan apa sajakah hal-hal tersebut? Yaaa, beberapa hal-hal simpel di sekeliling saya selama 'Jakarta Trip' yang dianalogikan bedasarkan pikiran saya sendiri :D Mau tau? Yuk mari~
  • Hidup itu seperti apartemen yang kita lihat dari jalanan. Selalu ada cerita, kisah, dan suasana yang berbeda di tiap jendela yang terbuka dengan tatanan yang beragam yg ditangkap oleh mata kita.
    • Hidup itu seperti hiruk pikuk pasar malam. Ada riuh tangisan anak kecil yang merengek meminta balon, ada mereka yang masih membanting tulang untuk mendapatkan sesuap nasi, adapula yang tenang sekedar mengamati sekitar, dan mereka yang bersenang-senang seperti tanpa beban.
    • Hidup itu seperti pesawat terbang. Kamu harus menjaga keseimbangan ketika kamu sedang terbang agar tidak jatuh lalu hancur. Dan ketika kamu sudah terbang di atas, kamu harus paham kemana arah tujuan, atau tidak semua tujuan itu terlewat dan kamu baru menyadari bahwa itu adalah kesalahan setelah kamu kehabisan bahan bakar. Bahan bakar di sini dalam wujud realitanya adalah waktu, mungkin.
    Hello, Jekardah sunset!
    • Pesawat terbang delay ibarat nembak tapi dijawabnya "pikir pikir dulu deh". Ngeselin.
    • Dipikir-pikir... pacaran itu sebelas-duabelas lah sama mengendalikan pesawat terbang. Ketika mengudara kamu tak seimbang, kamu jatuh lalu berkeping (putus). 
    Merapi dan Merbabu yang saling setia berdampingan sejak dahulu kala :3

    Langit sore :D
    • Ketika mengudara kamu mampu mengendalikan keseimbangan, kamu mendarat, dan sampai pada tujuan (menikah). Intinya, pacaran akan berujung pada dua cabang yang pasti mengharuskan untuk dipilih salah satunya: putus atau menikah. Sakit atau bahagia.
    Garuda yang delay :(
    • Hidup seperti jalan tol. Kalau lurus-lurus saja rasanya membosankan, bukan? Hidup yang mengasyikan mungkin justru seperti jembatan layang Semanggi yang ruwetnya naujubilah tapi justru itu yang menantang kita untuk menemukan kemana arah yang benar agar sampai pada tujuan :)
    • Hidup seperti jalan tol. Bahwa tak semua jalan yang lurus-lurus pun mulus. Kadang berlubang, mengakibatkan goncangan.
    • Omelan orangtua sama halnya seperti instruksi pramugari kepada penumpang. Kedengarannya berisik, tapi toh sebenarnya itu demi kebaikan kita juga kok!
    • Hidup seperti pesawat terbang ketika mengudara. Kadang untuk sampai ke tujuan akhir, kita harus melewati cuaca buruk, menerjang hujan, petir, dan awan-awan tebal yang mengakibatkan guncangan.
    • Cinta dan kehidupan itu seperti pesawat dan sayapnya, saling melengkapi dan tidak bisa berfungsi tanpa salah satunya.

    Yap segitu dulu analogi-analogi maksa dari saya :D 

    Love, 
    Megashofani.

    Saturday, 28 April 2012

    Sepotong Kisah Jogja

    Jogja, kota mewah yang begitu sederhana. Mewah, karena budayanya. Sederhana, karena siapapun bisa bertahan hidup dengan apa adanya di sana. 

    Berbicara tentang Jogja, Ring Road Selatan paling membawa kesan. Setiap melewatinya aku selalu berusaha meyakinkan pada diriku bahwa remah-remah masa lalu tak akan terulang lalu menjadi utuh seperti semula saat kita merangkainya.

    Menelusuri Ring Road Selatan selalu menyelipkan rindu mendalam akan keindahan yang cinta berikan. Tentang berboncengan, tentang tanganmu yang menarik tanganku untuk kau genggam sepanjang perjalanan, dan tentang waktu yang cemburu membuat semua terasa begitu cepat!

    Tentang jembatan layang Janti, Jogja, selalu mengingatkan aku pada bibirmu yang mengucap "Indah!" tatkala kita berdua berboncengan motor untuk pertama kalinya di bawah temaram cahaya rembulan, lalu menelenjangi malam dengan menikmati pemandangan lampu-lampu perkotaan. 

    Kini, setiap melewatinya, otakku selalu flashback dengan sendirinya, memutar ulang reka kejadian tanpa diminta. Tapak dan rekaman nyata antara aku dan kamu akan selalu ada di sana, jembatan layang Janti, dalam sebuah cerita bernama 'masa lalu'.

    Tentang Vredeburg dan ruang Diorama. Pertama kalinya ibu jarimu mengusap air mata ketika aku mengungkapkan tentang rasa takut akan perpisahan yang pasti datang bahkan tanpa diminta.

    Tentang Parangtritis, dimana semua rasa lelah berlabuh setelah kita mengitari Jogja. Tuhan begitu tau bingkisan menawan untuk aku dan kamu yang sedang dimabuk asmara: Sunset yang sepaket dengan sepotong senja. 

    Kini, setiap aku melihat Sunset Parangtritis, rasanya tanpa arti. Lalu fatamorgana terjadi tentang aku yang tiba-tiba melihatmu kembali di gubuk itu, gubuk atas bukit dimana kita bercumbu. Namun fatamorgana hanyalah fatamorgana, sosokmu menghilang lalu kemudian kembali semu.

    Jogja, bagiku selalu memiliki pesona. Pesona yang aku dan hanya Tuhan ketahui. Atau mungkin, kau juga merasakan pesona yang sama, hey Tuan-Cinta-Pertama? ;)

    KAMU... Terimakasih, ya! Jogja begitu mengesankan terutama saat aku dan kamu mengelilinginya, menelusurinya... sebagai kita.


    Love,
    Megashofani.

    Thursday, 26 April 2012

    Sebatas Selir Hati

    "Aku sayang kamu. Semakin sayang," kataku malu-malu pada Dhio.

    "Aku tau. Sejak kelas satu SMA sampe kelas tiga sekarang, ini yang keenam kalinya kamu bilang hal itu ke aku," Dhio tersenyum. Ia menunduk, padahal aku ingin sekali menatap matanya.

    "Umm... tapi... tapi aku cuma pengen kamu sebatas tau perasaan aku kok! Soalnya rasanya nyesek banget Yo, kalo ketahan," aku buru-buru menjelaskan maksudku menyatakan perasaan, tak ingin Dhio merasa terbebani oleh apa yang baru saja kunyatakan.

    Dhio mengangguk. "Bukannya aku gak suka kamu, tapi... entahlah. Aku hanya ngerasa kita sebaiknya begini. Dan mungkin ini keenam kalinya juga aku harus bilang... aku cuma merasa nyaman kalo kita cuma sebatas teman," kata Dhio menegaskan.

    Aku mengangguk. Aku mengerti. Aku paham.

    ***
    Di sudut sekolah, aku melihatnya dari kejauhan, dari balik ranting dedaunan. Dia di sana, berdiri di tepi pagar lantai dua, di depan kelasnya, dikelilingi gadis-gadis berparas bidadari, bercanda mengumbar tawa. Aku masih saja terpaku pada sosoknya yang bertubuh menjulang tinggi, rambut cepak, dan yang selalu menjadi khas dari dirinya adalah tiga guratan pada pipinya yang tanpa aku harus melihat dari dekatpun, aku tau guratan itu akan selalu muncul setiap tawanya mengembang.

    Masih seperti hari-hari lalu, aku menggambar sketsa punggungnya yang sedang bersandar pada pagar lantai dua depan kelasnya. Aku mengamatinya, begitu saksama.

    "HEIII!" tiba-tiba Mega menepuk pundakku dari belakang, mengagetkanku.

    Aku sontak kaget karena reflek. Buru-buru saja kututup buku sketsaku, tapi Mega sudah merebutnya. Mega membuka buku sket-ku, melihat hasil gambaranku lalu melihat ke arah seseorang yang menjadi objek sket, ke arah lantai dua. Mega memang paling tau siapa seseorang yang paling bisa membuat perhatianku habis karena memandanginya berlama-lama.

    "Mau sampe kapan gambar punggung Dhio melulu?" tanya Mega seperti biasa, ketika mendapatiku diam-diam mengamati sosok laki-laki yang selalu saja dikelilingi gadis-gadis bertubuh molek seksi itu dari balik ranting dedaunan pohon di taman sekolah.

    "Sampe Dhio sama aku kepisah karena masing-masing lulus sekolah," jawabku menunduk sambil merebut buku sket dari tangan Mega. Aku melanjutkan kembali aktivitasku, menggoreskan tinta pada buku sketsa dimana mataku selalu saja berkiblat pada punggung Dhio.

    "Kamu seharusnya lebih bijak, supaya kamu bisa mikir untuk memperhatikan diri kamu sendiri, selain Dhio," celoteh Mega tanpa sedikitpun kupedulikan.

    Sketsaku terhenti, aku menoleh ke arah Mega yang kini duduk di sampingku, memicingkan mataku. "Memperhatikan diri sendiri? Maksudmu?"

    "Ya selama ini kamu selalu nurutin apa yang jadi maunya Dhio. Dhio minta kamu begini kamu turutin, minta begitu kamu turutin. Dhio minta kamu buat ngerjain PRnya kamu 'iya'in, Dhio minta kamu begini-begitu kamu mauuuu aja! kamu tuh bukan Doraemon loh! Sedangkan Dhio? Apa yang udah Dhio lakuin buat kamu? Menganggap kamu ada pun enggak!" ujar Mega berusaha menyadarkanku. "Seenggaknya dia respek kek, sama perasaan kamu! Kayaknya otak atau hati kamu salah setting, deh! Sampe-sampe yang ada tuh Dhio-Dhio-Dhiooo melulu!"

    "Mega, kalo kita membantu itu kan gak seharusnya pake pamrih?"

    "Aduuuh, susah deh ngomong sama kamu!" Mega mulai menggerutu. "Sampe kapan kamu mau nurut sama Dhio atas nama cinta?! Hah? Gak usah pura-pura deh. Lepas dari kamu mengakuinya atau nggak, di dalem lubuk hati kamu yang terdalem, kamu pasti juga pengen kan, kalo Dhio ngebales perasaan kamu atas apa yang udah kamu lakuin selama ini?"

    Aku menatap cakrawala, menggenggam buku sket-ku erat. Tanpa harus diakui, sebenarnya ucapan Mega semua ada benarnya. Tapi Dhio memang hanya akan sebatas itu, sosok yang tak akan puas untuk kugambar punggungnya dan bisa kupandangi lekat-lekat sampai kapanpun aku mau tanpa bisa terjamah, tanpa bisa dimiliki. Memangnya siapa aku? Aku hanya gadis berkacamata tebal, dengan seragam kedodoran, dan rambut berkepang dua, yang akan selalu Dhio anggap cupu.

    "Untuk jadi selir hati-nya pun aku udah seneng kok, Mega. Aku rela," kataku kemudian lalu tersenyum.

    "Astagaaa! Hey hey hey! Di luar sana banyak laki-laki yang mau menjadikan kamu lebih dari hanya sekedar selir hati! Kamu harus belajar untuk menarik perasaan kamu dari Dhio!"

    "Dhio itu cinta pertama aku. Susah untuk lupa begitu aja. Mungkin hal tergila yang bakal aku lakuin... nunggu Dhio sampe beberapa tahun lagi," aku tersenyum. Senyum yang begitu putus asa.

    "Hahaha! Gila! Ah, males deh ngomong sama kamu! Kamu gak realistis. Kamu belum bangun dari mimpi!" Mega kemudian beranjak dari duduknya, lalu melenggang pergi.

    "Mega! Mau kemana?!" tanyaku yang merasa percakapanku dengan Mega belum selesai.

    Mega berhenti, membalikkan badannya kemudian. "Mau masuk ke dalem kelas! Oya, emang terserah kamu sih kalo mau tetap cinta, mengagumi dan menjalani hari atas nama rindu kamu ke Dhio. Tapi aku cuma mau ngingetin, dewasa adalah menerima kenyataan kalau gak semua ending cerita cinta pertama dalam hidup ini seperti ending "A Little Crazy Thing Called Love". Kamu harus kurang-kurangin nonton drama!" seru Mega kemudian melengos pergi dengan senyuman tengilnya.

    Aku tersenyum. Sesaat aku melihat lagi ke arah lantai dua. Punggung Dhio tak kudapati lagi di sana. Ah, tak apa. Untuk saat ini aku rela bila hanya selalu mendapatkan sisi belakang Dhio untuk kugambar, bukan sisi depan Dhio untuk kupeluk dengan erat. 

    Tiba-tiba aku tertawa lirih. Tertawa karena kekonyolanku sendiri. Ckck... selir hati!


    "Aku sudah bilang, ku kan terus mengagumi. Ku kan terus cinta, terus merindu, meski kau diam saja~" Untuk semua HATI yang merasa atau memang di-selir-hati-kan. I feel you~

    Love,
    Megashofani.

    Monday, 23 April 2012

    Aku Tergila-gila? Salahmu Mencuri Perhatianku!

    Untuk Alitt Susanto...
    Jadi, berapa PIN Blackberry mu? HAHAHAHA :))))


    Aku masih mencari apa yang menjadi daya tarikmu, bahkan wajahmu tak setampan Tengku Wisnu. Ah, kamu memang bukan Tengku Wisnu apalagi Ruben Onsu. Kamu hanyalah kamu, yang mampu menyeret perhatian wanita-wanita dengan barisan kata-kata manis juga romantis yang dihantarkan oleh jemari-jemarimu. Kamu begitu biasa, sederhana, tapi itu yang menarik aku, untuk selalu menguntitmu, keseharianmu.

    Kini tengah dini hari aku masih terjaga, membaca seluruh isi timelinemu dalam sebuah microblogging bernama Twitter. Selalu saja tak ada puasnya ketika menggerakan mouse untuk selalu scroll down halaman Twitter-mu, melihat satu-persatu dengan siapa saja kau bercakap, lalu kemudian berujung dengan rasa penasaran memencet 'in reply to' untuk selalu tau apa yang kau cakapkan dengan orang lain dan penuh keakraban. Iya, aku selalu tak pernah puas menguntitmu.

    Hari-hari lalu, kau pun begitu... menghipnotis aku. Hanya dengan tulisanmu mampu menciptakan gelak tawaku, atau sesaat kemudian juga mendatangkan kegalauan ketika tweets-tentang-cinta-mu menusuk dalam hatiku. Aneh, tulisanmu mulai mampu mengontrol moodku dan membaca timelinemu mulai menjadi candu.

    Seiring aku menggilaimu, aku mulai mengirimimu email, mention, yang tak pernah kunjung kau balas. Aku iri dengan mereka yang bisa bertemu denganmu, mengabadikannya dalam lembaran benda mati bernama foto. Kapan giliranku? Kapan giliranku merangkulmu, atau bergaya dengan gaya-gaya konyol lalu diabadikan dalam sebuah foto?

    Pernah aku melihatmu di sebuah kafe pada acara Stand-Up Comedy di kotaku, tapi kafe itu begitu penuh dan tak memungkinkan aku untuk lebih dekat denganmu. Aku menyaksikan aksimu di sudut tempat yang tak mungkin terjangkau oleh pandanganmu. Aku melihat kamu yang berusaha membuat seisi kafe setidaknya tertawa dengan leluconmu. 

    Dalam hati aku telah menyimpan niatan untuk mengejarmu nanti, setelah acara selesai sekedar meminta tandatangan untuk kau bubuhkan pada bukumu yang selalu menjadi bacaan dan teman malam sebelum aku tidur. Sayangnya, saat ujung acara kamu mulai tergesa-gesa menuju mobil karena diburu oleh penggemar-penggemarmu. Aku berhimpitan dengan mereka, yang juga menginginkan tandatanganmu. Jangankan untuk lebih dekat dan meminta tanda tangan, aku malah semakin terhimpit dan terdorong ke belakang.

    Kamu pun berlalu.

    Rasa penasaranku padamu tak kunjung reda. Apa iya, kekagumanku hanya bisa sebatas memeluk buku ciptaanmu setiap malam sebelum aku tidur? Apa iya tak bisa lebih dari itu? Bertemu lebih dekat, mungkin? Atau yang lebih kurang ajar... memelukmu, mungkin?

    ***

    Aku mulai menggila. Berkali-kali kuteriakkan namamu tanpa peduli dua satpam yang kini tengah menahan lenganku, menyeretku ke pintu keluar, membawa aku semakin jauh dari sosokmu. Aku melihatmu di sana, Alitt. Kamu melongo melihatku yang beberapa saat lalu secara brutal hampir menerobos keamanan hanya untuk menaiki panggung sekedar ingin memelukmu. 

    Dalam keadaan lengan yang tertahan dan langkah yang terseret secara paksa oleh dua orang satpam, aku masih meronta tanpa peduli seluruh pasang mata yang menatapku heran. Mungkin mereka pikir aku gila! Tapi kesalahanmu mencuri perhatianku, Litt! Memang salah kalau hanya ingin bertemu denganmu? Lalu salah siapa membuatku tergila-gila? Kamu!

    Aku merusak talkshowmu dengan kegilaanku yang membuatmu panik.

    Masih dengan buku 'SKRIPSHIT'mu dalam genggamanku, mengharapkan tandatanganmu... aku dirundung kecewa. Kenapa kau tak menahan satpam-satpam ketika mereka menyeretku? Kenapa malah hanya terdiam di atas panggung membiarkan aku dipandangi dengan tatapan orang-orang yang menganggapku tolol?

    ***

    Sudah selang dua jam sejak kegilaanku di gedung tempat kau melangsungkan talkshowmu, aku masih menangis di kantor satpam. Mereka menginterogasiku dan tak ada satupun pertanyaan mereka yang kujawab. 

    Aku menangis sesenggukan, mataku mulai membengkak sebesar bengkoang dengan hidung semerah tomat. Wajahku sudah jelek, tanpa harus berkaca lagi pada cermin pun aku tau sekarang wajahku tampak lebur karena merengek tanpa henti.

    "Lagian dek, ngapain sih kayak orang gila mau naik ke atas panggung?" tanya seorang satpam dengan perawakan tinggi-besar.

    "Bapak nggak tau sih rasanya terkagum-kagum sama orang!" ujarku dengan nada sengal-sengol.

    "Tapi tingkahmu tadi kelewatan dek!" ujar satpam yang satu lagi dengan perawakan kurus-tinggi itu. "Dulu saya tergila-gila sama Eva Arnaz juga gak sampe segitunya."

    Jgrek! Suara pintu kantor satpam dibuka oleh seseorang. 

    Aku menoleh sesaat ke arah pintu. Oh, orang lain... kukira satpam yang lain, batinku lalu memalingkan kembali kepalaku, tertunduk. Bayangan seseorang di ambang pintu yang baru saja kutangkap dalam pikiranku tiba-tiba membuat hatiku 'deg'. Topi itu? Kacamata itu? Plester di ujung matanya? Aku menoleh lagi, menghentikan tangisanku, memperhatikan sesosok yang kini di ambang pintu lekat-lekat. Alitt Susanto!

    "ALITT!" teriakku. Aku melotot.

    "Maaf, Mas... nih anak dihukum apa Mas, enaknya?" tanya satpam berperawakan tinggi-besar langsung bertanya to the point pada Alitt.

    "Emmm... boleh saya ngomong empat mata sama anak ini dulu gak, Pak?" tanya Alitt pada kedua Satpam tersebut yang kemudian saling berpandangan, mengangguk dan meninggalkan kami berdua di kantor satpam.

    Sejenak aku mendengar suara Alitt, mungkin saja aku terjengkang dari kursi karena tertawa terbahak-bahak kalau tak mengontrol diri setelah mendengar suaranya yang medhok dan melengking itu.

    "Apa sih yang kamu mau di gedung tadi?" tanya Alitt sambil menatap mataku lekat. Wajahnya serius. Aku baru tau seorang penulis kocak yang merangkap komedian bisa memasang tampang seserius itu. "Kamu tau, kamu hampir ngerusak talkshowku. Kamu nggak bisa ya, lebih tenang?" Alitt memborong pertanyaan. "Kamu mau minta tandatangan? Nggak bisa lebih sabar?"

    "Kamu tau nggak rasanya mengagumi seseorang? Orang itu bikin kamu candu dengan apapun tulisannya, tentang kesehariannya yang dia tulis lewat seratus-empat-puluh karakter?" tanyaku balik tanpa sedikitpun menjawab pertanyaan Alitt.

    "Iya. Tapi kan nggak begitu juga caranya," nada Alitt terdengar lembut dan... medhok. "Tingkahmu tadi lebih mirip orang gila!" serunya.

    "Siapa suruh kamu bikin tergila-gila?" tanyaku sambil melontarkan senyum manis, setidaknya biar wajahku yang jelek bersimbah air mata ini tidak makin jelek.

    "Ya udah. Jadi, apa yang kamu mau?"

    Aku buru-buru mengambil buku 'SKRIPSHIT' untuk ditandatangani oleh Alitt, kemudian menyerahkannya. "Sederhana. Tandatanganmu, Litt."

    "Cuma ini?" Alitt mengangkat alisnya.

    Aku mengangguk.

    Kemudian Alitt menandatangani 'SKRIPSHIT' sesuai permintaanku dan menyerahkan kembali padaku. Aku begitu sumringah.

    "Lain kali, aku gak mau liat kamu bertingkah gila kayak tadi. Tapi, makasih ya, aku paham kok tentang rasa kagum yang kamu maksud," nada Alitt terdengar lembut menyentuh gendang telinga.

    Aku mengangguk, lalu mengulum senyum. Mukaku memanas. Sayangnya tak ada cermin. Kalau ada, pasti aku sudah melihat mukaku yang memerah-jambu ini!

    "Ya udah deh, have a nice day yaa..." Alitt mengembangkan senyumannya yang terlihat tengil. Senyum-senyum tengil yang sering aku lihat di setiap pose fotonya. Kemudian Alitt pergi dan berlalu.

    Aku masih belum sadar dari rasaku yang melambung karena baru saja bertemu orang yang tadinya hanya bisa kuciumi avatar Twitter dan timelinenya di layar komputer. Aku mulai melamun dalam kegiranganku sendiri sampai akhirnya...

    "Dek! Udah pergi tuh Mas Alittnya! Adek mau di kantor satpam terus?" tepukan pundak dan suara yang berasal dari satpam berperawakan tinggi-kurus itu mengangetkanku.

    "Astaga! Alitt!" aku menepok jidat.

    Dengan langkah seribu aku keluar dari kantor satpam, kemudian mencari sosok yang beberapa menit lalu baru saja menghipnotis aku dengan kharismanya. Di tengah keramaian aku mencari punggung Alitt, dan tak mendapatkannya.

    Aku menghentakkan kakiku. Kesal. Ck! Cepet banget sih ilangnya! Kita kan belom sempet foto bareng, Litt! Batinku. Aku merasa menyesal.

    Aku membuka lagi halaman 'SKRIPSHIT' yang ditandatangani oleh Alitt. Ternyata tidak hanya tandatangannya di sana, tapi ada juga catatan kecil yang tiba-tiba saja membuat rasa girangku membuncah! Catatan yang tak sampai sebaris, dan saat itu juga tak membuat aku merasa menyesal telah bertingkah gila sampai-sampai harus ditahan di kantor satpam:

    Sabtu ini, Gubug Cafe, 19.30. Semoga kamu punya waktu ;) Alitt.

    Aku tersenyum lebar. Kalau gini ceritanya sih, tak sia-sia melupakan rasa malu! Toh, terbayar sudah ketika semesta mengijinkan lagi aku dan Alitt bertemu Sabtu malam besok! Ah, SABTUUUUU... AYOLAH, CEPAT DATANG!


    Love,
    Megashofani.

    Catatan: Cerita ini hanya fiksi belaka berawal dari rasa kagum sama Mas Alitt Susanto. Haha, timelineku tiada kesan tanpa tweetsmu, Mas! *guomballl* :p

    Friday, 20 April 2012

    Ceritakan Tentang...

    "Aku melihatnya lagi, pemilik mata sembab dengan wajah pucat seperti tak memiliki aliran darah di balik kulitnya. Rambutnya berantakan, bibirnya kering pecah-pecah, ia terlihat begitu rusak, rona wajahnya telah pudar ditelan perasaan. Setelah 3 tahun lamanya, dia nampak lagi dalam cerminku. Hey, kemana saja kau? :')"

    Adakalanya ketika luka begitu perih
    mulut memilih untuk diam, tanpa mengerang kesakitan
    Raga mulai menyerah, batin mulai tak mampu
    dan ketika itu terjadi, aku sadar telah menjadi pecundang

    Ketika waktu selalu tak berpihak pada kesempatan yang seharusnya diambil,
    coba ceritakan padaku tentang keadilan! 
    Ketika semua terasa begitu menyayat hati, membuat terseok penuh luka batin,
    coba ceritakan padaku tentang kebahagiaan!

    Waktu, pikirmu menyenangkan hidup terombang-ambing dengan permainanmu?
    Ceritakan padaku tentang 'indah pada waktunya'!
    Dan katakan tak pernah ada 'indah pada waktunya'!
    Semua bohong!
    Semua hanya canda dan omong kosong!

    Mereka menyuruhku tenang
    Mereka bilang tentang 'mengerti' atas perasaanku.
    Bagaimana bisa? Bahkan aku sendiri tak memahami.

    Ceritakan padaku tentang kehidupan dan cinta,
    duniaku mulai lupa tentang keduanya
    Ceritakan padaku tentang kanvas dan warna,
    jalanku hitam-putih dan mulai buta

    Ceritakan kembali tentang pelangi yang muncul setelah hujan,

    Ceritakan...
    Ceritakan tentang bagaimana menghapus perasaan...


    Love,
    Megashofani

    Thursday, 19 April 2012

    Ketika Romantis Begitu Sederhana

    "Romantis begitu sederhana, kadang sampai kau sendiri tak mengerti bagaimana memaknainya."

    Kuceritakan tentang romantis :)

    Aku tak butuh sunset, makan malam dengan lilin cantik, coklat manis, atau buket mawar hanya untuk mengatakan kamu romantis.

    Ketika kamu jelas tau tubuhku berat, tapi kamu masih memboncengiku dengan tanganmu yang menggenggam mesra tanganku, melingkarkannya di perutmu, itu yang kusebut romantis.

    Ketika aku berkata, "Aku sedang diet," lalu kamu menyuapiku nasi dengan lauk telor-orak-arik-sate-kambing secara paksa seperti mengemong anak kecil, itu yang kusebut romantis.

    Ketika kamu menempuh jarak 13 jam dari Sukabumi menuju Solo menggunakan motor dan menerjang segala resiko hanya untuk memeluk-cium aku, itu yang kusebut romantis.

    Ketika kamu sibuk main Point Blank dan tak sempat membalas SMSku, begitu aku membuka facebook ada foto darimu: foto screenshot dinding dalam permainan Point Blank yang kamu tembaki berbentuk simbol love dan itu untukku, itu yang kusebut romantis.

    Kamu memang tak memanggilku bebeb, ayank, atau panggilan-panggilan manis lainnya. Ketika sebutan 'Neng' kamu ucapkan dengan lemah lembut, aku selalu menemukan keromantisan di sana.

    "Kamu tau kan kue mochi ini bulet?" tanyamu. "Kalo kamu ditaburi tepung, kamu udah mirip sama kue mochi," lalu kamu mengulum senyum setelah aku memelototimu. Kemudian kamu tertawa merangkulku.

    Ketika malam hari menjelang ulang tahunku yang ke 18 kamu menghampiriku yang sedang duduk menengadah di balkon, "Kamu lagi apa?" tanyamu. "Berdoa, berterimakasih. Sama ngucapin permintaan pastinya," jawabku dengan gayaku yang kamu bilang 'centil'. "Jangan lupa Neng, nama Aa disebut!" pintamu sambil mencubit pipiku. Lalu kita berdoa bersama di bawah langit bertabur bintang, itu yang kusebut romantis.

    Duduk berdua di stasiun menunggu kereta menuju Jogja, makan nasi rames di warung kecil... haaaah, terlalu romantis!

    Dan...

    Ketika aku dan kamu TIDAK LAGI menjadi kita namun masih saling mendoakan kebahagiaan masing-masing, itu yang kusebut romantis :')

    Parangtritis KiloMeter 7, Pantai Parangtritis, balkon rumah, meja operator warnet, Zynga Poker, Point Blank, Nimbuzz, Benteng Vredeburg, Pemandian Cokro, Kraton Jogja, itu yang kusebut romantis melebihi dari sekedar duduk berdua memandangi sunset, menerima coklat manis, atau buket mawar.

    This () belongs to you, and always will.

    Wednesday, 18 April 2012

    Tak Bisa Lagi Kutunggu

    "Sungguh, bukan maksud mempermainkan perasaan," katamu.

    Aku bahkan sama sekali tak merasa dipermainkan.
    Yang aku lakukan pun serta-merta karena ketulusan.

    Ketika waktu mengungkap kebenarannya
    lalu kejujuran pun harus diterima...
    Sakit memang, tapi aku mensyukurinya.

    Waktu, ketika selalu bercanda kelewatan
    tahukah betapa itu begitu menyakitkan?

    Aku susah payah meraih titik nol
    untuk kembali seperti semula
    sebelum mengenal kamu
    atau juga cinta.

    Tapi realita belum puas menampar aku
    menggeser aku hingga titik minus untuk kesekian kali
    membuat langkahku sia-sia.

    Semesta telah berkonspirasi sedemikian rupa.
    Entah apalagi yang ada di depan nanti
    ketika tanpa kamu
    ketika cintaku masih gentayangan 
    menginginkan Tuannya kembali.


    -Untuk kamu yang tak bisa lagi aku tunggu-

    Monday, 16 April 2012

    Ketika Cinta Kehilangan Tuannya

    Untuk kamu yang bahkan tak bisa menyebutkan satu hal pun yang bisa dibanggakan dari dirimu, TAPI aku bisa menyebutkan banyaaak hal :)

    Backsound: Anji - Berhenti Di Kamu

    "Seharusnya mereka menciptakan mata pelajaran baru... mata pelajaran "Menerima Kenyataan". Fungsinya supaya kita terlatih dan terbiasa belajar menerima kenyataan sejak dini," kataku sambil tersenyum kecil menatap Thony. 

    "Oh, gitu? Hahaha... iya ya. Dan seharusnya Tuhan menciptakan fitur baru dalam kehidupan. Fitur dimana kita bisa menulis skenario untuk hidup kita sendiri," kata Thony lalu menoleh padaku. 

    Kami bertatapan satu sama lain dalam posisi rebahan di atas padang rumput di bawah pohon rimbun yang menjadi payung dari cahaya matahari. Perlahan Thony meraih tanganku, menggenggamnya.

    "Kamu gak benci sama aku?" tanya Thony masih menatapku.

    "Karena kamu memilih untuk mulai menghabiskan hidupmu dengannya? Sama sekali enggak. Dengan siapapun kamu, aku masih seperti semula, tetap mencintai kamu."

    "Kadang aku heran, kamu bodoh atau apa sih? Kamu sadar kan, aku jelas-jelas gak bisa kamu tunggu lagi, Mega?"

    Aku mengangguk pelan dalam posisi rebahan, mengiyakan pertanyaan Thony.

    "Lalu?" tanya Thony dengan tampang keheranan.

    "Lalu apa?" tanyaku melempar lagi pertanyaan. "Toh kalopun memang kamu akan menempuh hidup baru dengannya, aku masih bisa mencintaimu kan, Thon?"

    "Kamu bakal terluka. Kamu bakal sakit hati."

    Aku menatap mata Thony dalam-dalam, memperlihatkan senyumanku. "Kamu liat? Aku masih bisa senyum."
     
    "Iya, sekarang. Tapi nanti? Apa kamu masih bisa senyum ketika aku udah bahagia sama wanita lain, lalu kami punya anak dan kamu terlupakan oleh aku begitu aja?"

    Aku menatap langit. Mataku menelanjangi cakrawala tanpa ujung. "Kalo memang itu membuat kamu bahagia, apa yang harus aku sedihkan? Bukannya cinta adalah ikut bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia sekalipun dengan atau karena orang lain?" kata-kataku lirih. Dalam hati aku sendiri tidak yakin dengan apa yang aku katakan.

    "Kamu gak sekuat itu, Mega." Thony masih menatapku, kali ini dengan matanya yang tampak berkaca-kaca.

    Tatapan Thony kubalas. Tanpa Thony tau mata ini menyembunyikan perasaan yang pedih membuncah dalam hati. "Toh kalo aku minta kamu kembali sama aku seperti sedia kala juga gak bisa kan? Apa aku punya pilihan, Thon?" tanyaku. "Aku masa lalu kamu dan kamu sendiri yang bilang kalo dia pilihan terakhir kamu. Lalu apa yang harus kamu khawatirkan?"

    "Perasaan kamu, mental kamu," jawab Thony singkat. "Apa kamu siap?"

    "Aku bahkan gak punya pilihan 'siap' atau 'nggak siap'. Mau nggak mau kenyataan harus aku terima. Iya kan?"

    Thony mengernyitkan alisnya. Matanya bergerak-gerak memandangi seluruh wajahku. "Coba bilang, Mega... bilang apa yang kamu rasain sekarang..."

    Aku menatap lagi ke langit. Tanganku mulai menggenggam tangan Thony dengan erat. Rasanya sulit untuk mengontrol hati agar tidak meledak dan mengeluarkannya dalam bentuk air mata. "Rasanya..." ucapanku menggantung. "Rasanya menyiksa, Thon. Rasanya menyiksa tapi untuk mengerangpun gak bisa. Rasanya... ingin ada yang memahami perasaanmu selain kamu, tapi gak ada pada nyatanya. Gak ada satupun yang paham. Rasanya lebih memilih memendam perasaan itu sendiri, karena aku tau Thon, pada akhirnya kalopun aku sakit hati cuma aku yang ngerasain luka itu sendirian." Akhirnya air mataku jatuh juga.

    "Kenapa sih, Mega... kenapa kamu gak memilih untuk benci sama aku?"

    "Ahaha..." aku tertawa kecil dengan pipi bersimbah air mata. "Udah aku coba. Dan tetap gak bisa. Banyak kok alasan untuk membenci kamu, Thon. Tapi aku tetep gak menemukan cara memulai rasa benci itu sendiri." Aku menoleh menatap Thony. "Cintaku habis di kamu, Thon. Hatiku juga berhenti di kamu."

    "Tapi kamu gak bisa gini terus, kamu harus punya..." belum Thony melanjutkan kalimatnya sudah kupotong.

    "Apa? Pendamping? Suatu saat pasti ada, Thon. Suatu saat pasti ada laki-laki yang aku pilih untuk jadi suami aku, teman hidup untuk menjalani kehidupan seperti manusia normal lain. Menikah, mempunyai keturunan, membesarkan juga mendidik anak, menjadi tua renta, menikmati secangkir teh bersama di teras rumah yang sederhana... suatu saat pasti ada laki-laki yang aku pilih untuk mewujudkan hal-hal itu. Hal-hal yang pernah kita rangkai untuk menjadi cita-cita kita kelak." Aku menyela memotong kalimat Thony.

    Aku melihat mata Thony berkaca-kaca. Kepalanya menengadah menatap langit. Mungkin dia juga seperti aku ketika beberapa saat lalu, berusaha menahan air mata yang rasanya sulit dibendung.

    "Suatu hari memang akan ada cinta-cinta yang baru dalam kehidupan aku, tapi nggak untuk menggantikan cinta yang udah aku rasain ke kamu. Mungkin emang begini takdirnya... mungkin emang begini takdir kita Thon. Aku hanya sebatas masa lalu kamu, dan kamu sebatas kenangan cinta pertama aku." Ucapanku lirih.

    Hening. Hening cukup lama.

    Beberapa saat kemudian Thony melepaskan genggaman tangannya lalu ia bangun dari rebahannya berikut dengan aku yang ikut bangun dari posisi rebahan. Kami duduk bersila, berhadapan.

    Thony menatapku. Tatapannya sayu lalu perlahan ia mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya. "Aku minta kamu jaga diri baik-baik ya." 

    Semakin dia mengusap air mataku semakin air mataku berjatuhan. Ucapan Thony lirih tapi begitu merasuk ke dalam hati. Tanganku meraih tangan Thony, menjauhkannya dari pipiku. "Jangan. Jangan usap lagi. Kamu gak akan tau sakitnya ketika usapan jari kamu gak ada lagi kalo aku nangis nanti." Aku meletakkan tangan Thony.

    "Kalo gitu..." ucapan Thony menggantung. Ia mengambil sesuatu dari saku belakang celananya. Thony mengambil amplop dengan desain ukiran tribal juga foto Thony dan calon istrinya sebagai sampul amplop tersebut. "Ini... undangan pernikahan aku." Thony memberikannya padaku.

    Backsound: Laluna - Selepas Kau Pergi 

    Aku menerimanya, entah harus ikut bahagia atau merasa jatuh terperosok. Aku tersenyum lebar dengan air mata yang masih saja mengucur. Sial! Kenapa air mata-air mata ini harus keluar sekarang? "Undangannya cantik."

    "Aku pingin kamu dateng. Tapi kalo kamu merasa gak sanggup, aku bisa ngerti," kemudian Thony mulai melangkah, pergi meninggalkanku.

    Langkah kelima Thony berjalan, aku memanggilnya. "Thon!"

    Thony berbalik, menatapku.

    "Aku pasti dateng. Aku gak mau ngelewatin hari bahagia kamu!" teriakku.

    Thony tersenyum padaku. Senyum yang mungkin nanti hanya bisa kunikmati dalam lembaran-lembaran benda mati bernama foto.

    Tulus bukan melulu kasih sayang yang kita berikan atas nama cinta ketika kita (masih) bersama orang yang dicintai. Terkadang tulus yang sesungguhnya adalah ketika dia yang dicintai telah dengan yang lain namun kita masih berusaha memberi yang terbaik, mendoakan untuk segala kebaikannya, kebahagiannya :)) - 16 April 2011

    Love,
    Megashofani.

    Friday, 6 April 2012

    Because Photoshop is Too Mainstream

    Bikin gambar di Photoshop? Biasa. Di Microsoft Excel? Mainan baru buat gue! Lagi-lagi gue ngegambar kakak-kakak #SPBU Shitlicious-Poconggg-Benakribo-Unyuuu. Beginilah~

    Klik gambar untuk ukuran penuh.
    Oke gitu aja~ Gitu aja? Iya. Gitu aja. Bye.