Friday, 7 June 2013

DIGITAL LOVE "Cinta Semu di Mini Friday"

“Kadang, cinta memang tidak melulu dihantarkan oleh pandangan mata…”

Berbicara tentang kehidupan rasanya terlalu hambar jika kita melewatkan bagian paling berwarna bernama “cinta”, ya? Siapa sih, yang ketika beranjak remaja atau dewasa tidak pernah mengalami jatuh cinta atau tidak pernah merasakan cinta?

Seperti yang semua orang tau, setiap hal-hal besar selalu berawal dari hal-hal kecil. Cinta itu sendiri berawal dari rasa suka, rasa suka biasanya mengalir begitu saja karena pandangan mata, gelak tawa, atau bisa juga canda. Cinta terlalu sederhana bahkan terkadang tanpa kita sadari kedatangannya.

Lantas bagaimana kalo rasa cinta itu sendiri sudah tidak lagi dihantarkan oleh tatapan mata? Mengingat teknologi semakin maju dan situs jejaring semakin meluas, cinta bahkan dengan mudahnya datang dari tulisan dan percakapan yang saling tercipta oleh dua interaksi atau lebih di dalam dunia maya.

Cinta memang aneh, datang darimana saja, dengan siapa saja, dalam keadaan apa saja, dan mampu menciptakan luka sekaligus menjadi obatnya dalam waktu yang sama. Bagi yang percaya, cinta mampu mengubah dunia seseorang, menjadi alasan seseorang untuk berubah, termasuk aku, gadis remaja yang (tadinya) bahkan jarang mandi sore.

FYI, aku adalah gadis yang tidak biasa, dengan fisik dan pemikiran yang juga tidak biasa, yang hanya mengharapkan cinta sederhana #haish. Mungkin sebagian dari kalian ketika membaca cerita ini akan menganggap aku begitu bodoh atau konyol menghabiskan waktu dengan cinta virtual... aku pun sudah lama merasa begitu bodoh.

Semua cerita tentang cinta berawal di tahun 2007, dimana pada masa itu messenger belum canggih dan eksis seperti sekarang (2013). Y!m, mIRC, Mig33, MXit, atau Nimbuzz, masih jadi juaranya untuk solusi chatting dan hiburan. Situs jejaring? Friendster yang paling populer untuk media ber-alay ria.

Dari lahir sampai tahun 2007, selama seumur hidup, aku belum pernah ngerasain yang namanya ‘ditembak’ sama cowok. Boro-boro ada istilah ‘jadian’ di kamus kehidupanku, ada yang naksir aja kagak! Memang, bahkan aku sama sekali bukan gadis yang bertubuh molek seperti kakak-kakak kelasku yang merangkap ‘artis sekolah’ pada masa itu.

Aku adalah cewek (yang masih) cupu dengan berat badan dua kali timbangan memutar (yakalideh) dan tinggi 170 sentimeter yang selalu menggunakan seragam kemeja putih kedodoran yang membuat kesan badan lebih besar daripada aslinya, bawahan rok abu-abu yang sampai menutupi lutut, juga kaos kaki tinggi selutut yang menutupi kaki pada saat itu (2007). Cupu abis!

Sebagai remaja yang memiliki hasrat normal pada umumnya, aku juga ingin tau beberapa hal tentang: apa sih yang enak dari pacaran? Kenapa kalo nggak punya pacar rasanya nista? Memang sehina itukah predikat ‘jomblo’? Memang, remaja-remaja seumuranku pada saat itu kalau cari pacar masih melihat fisik. Makanya aku yang berbadan tambun pun sama sekali gak masuk kategori ‘untuk dipacari’. Bahkan hanya untuk kategori 'lumayan untuk dilirik' atau 'lumayan untuk ditaksir' pun tidak.

Di era dunia yang makin canggih teknologi, semua emosi senang, sedih, marah, dan kecewa yang aku miliki pada saat itu aku lampiaskan pada dunia maya, termasuk keinginan untuk memiliki pacar. Hah? Nyari pacar di dunia maya? Emang gak bisa nyari pacar di dunia nyata sampe-sampe harus nyari di dunia maya? Emang se-gak-laku itu? SO WHAAAT?! Aku tipe pemalu yang memang nggak mudah bergaul dengan lawan jenis untuk urusan asmara, di samping itu aku terlalu minder dengan bentuk tubuhku sendiri saat itu.

Aku termasuk perantau online yang tangguh. Merantau dari satu aplikasi chatting ke aplikasi chatting lainnya hanya demi mendapatkan hiburan di tengah kisah remajaku sendiri yang saat itu jauh dari kata ‘berwarna’. Dulu aplikasi chatting yang populer pada jaman remajaku di tahun 2007 adalah MXit, aplikasi mobile chat yang digandrungi banget sama teman-teman seantero sekolah, dan remaja seumuranku tentunya. Pokoknya kadar gaul atau enggaknya kamu dinilai dari punya MXit atau gak. Aduh bok~

***

Suatu hari, di hari yang cerah dan indah (karena jam pelajaran kosong nggak ada guru), ketika aku sedang duduk-duduk cantik di depan kelas dengan wujud seperti bola siap ditendang, tiba-tiba dihampiri oleh salah satu teman yang perawakannya mirip bantal, Bayu.
“Mega, cobain deh aplikasi ini, tadi aku baru aja download! Seru loh, pake avatar pula. Kamu harus coba, kebetulan aplikasi ini cuma bisa buat hape (handphone) symbian. Hape kamu kan symbian, tho?” nada Bayu meledak-ledak mengabari kalo dia baru saja dapetin ‘mainan’ baru sambil menunjukkan layar hapenya di depan mataku.

Yang aku liat saat itu adalah aplikasi dengan avatar yang bisa jalan kesana-kemari pada chat-room seluas layar hape. “Apaan nih? Susah ah, males banget pakenya!” aku menepis tangan bayu dari hadapan mukaku.

“Susah apaan? Gampang, tau! Cuma gerakin aja navigasi hapenya. Tuh, avatarnya bisa dansa, bisa duduk…” Bayu pamer keunggulan aplikasi tersebut dan aku masih belum tertarik sama sekali.

Namun ternyata kemasabodohanku tidak berlangsung lama. Begitu sampai rumah, aku pun langsung mendownload aplikasi yang Bayu maksud. Aplikasi Chatting 3D, MiniFriday namanya. Aplikasi ini hanya bisa untuk hape Symbian, dan yang membuat aplikasi ini unik adalah avatarnya.

Untuk avatar kita bisa memilih rambut, wajah, baju, warna kulit yang kita mau sesuai keinginan. Semacam membuat kita ‘yang baru’ dalam dunia yang berbeda, dunia maya. Jadi kita chatting seolah-olah bertatap muka langsung dengan lawan bicara. Sialnya, aplikasi ini bikin ketagihan dan lupa waktu.

***

“Yeee, katanya susah! Ribet maininnya! Taunya sekarang yang ketagihan online malah kamu sendiri, Meg!” cerca Bayu setelah hari-hari melihatku betah mantengin layar handphone di sela-sela waktu istirahat hanya untuk sekedar online MiniFriday.

Aku cuma nyengir kuda.

Aplikasi ini lucu dan asik. Di dalam chat-room ada meja, tempat duduk, bar, dan lantai dansa, istilahnya cafe cyber (kafe dunia maya). Avatar bisa kita jalankan, duduk, dansa, bahkan pesan minuman ke bartender bar. Bukan cuma itu, kalau kita mengetik teks diikuti dengan emotikon “:)” wajah avatar akan tersenyum, dengan emotikon “:(” wajah avatar akan bersedih, begitupula dengan emotikon “:O” wajah avatar akan mangap seolah-olah kaget. Aku jelas kegirangan mendapatkan sesuatu yang asyik dan baru, sesuatu yang belum pernah didapatkan sebelumnya.

Setiap pulang sekolah selalu saja menuju tempat tidur dan langsung online MiniFriday. Pada masa itu belum ramai situs jejaring selain Friendster, jadi MiniFriday adalah pembunuh kebosanan paling mujarab bagiku. Aku pun belum begitu hobi bergaul melalui situs jejaring, karena pada tahun 2007 aku belum terlalu tau apa fungsinya.

Kembali ke MiniFriday. Aplikasi ini lebih lucu dari yang aku bayangkan. Nggak hanya chatting tapi ada juga kelompok-kelompok tertentu atau geng di dalamnya. Seingatku geng yang saat itu eksis adalah geng EMO, Black, Akatsuki, Joker, Peace, dan masih banyak lagi. Menurutku ini begitu konyol. Tapi biar konyolpun aku malah ikut-ikutan terjun ke dalamnya, keasikan dan menikmati semua permainan ini.

Suatu hari aku berpikir, kalo aku ikutan geng yang ada di aplikasi MiniFriday ini pasti aku bakal eksis banget di aplikasi ini! Akhirnya aku pun bertanya pada salah satu avatar dengan nick/nama Sisiel_emo.

“Hai, kalo mau ikut geng Emo gimana ya? :),” avatarku tersenyum kemudian.
“Caranya kamu tinggal tambahin “EMO” di belakang nick kamu :).”
“Emang bisa ditambahin? Bukannya kalo sekali bikin udah paten gak bisa diedit?”
“Kamu buat avatar baru aja :),” saran Sisiel.

Aku pun menuruti apa kata Sisiel, membuat avatar baru. Beberapa menit kemudian aku sudah muncul lagi dengan nick ber-embel-embel “EMO”.

Kalo boleh jujur sih, walaupun aku memilih untuk bergabung dengan geng EMO, sebenernya aku sama sekali nggak tau apa itu musik EMO. Yang aku tau hanya style dari anak-anak EMO (itupun tau dari google) dan aku sebenarnya bukan pribadi yang menerapkan gaya hidup ala anak EMO dalam kehidupan sehari-hari. Paling mentok, ‘EMO’ hanya aku terapkan dalam style berfoto untuk album foto di friendster. Iya, aku emang ‘gaya doang’ dan emo abal-abal. Sampe sekarangpun kalo disuruh ngejelasin secara detil apa itu EMO, huhuhu i dont know~

Aku juga sering foto dengan gaya rambut yang (keliatannya sih) EMO banget (rambut dibikin model bob ke atas dan poni menutupi hampir setengah wajah) dengan hiasan pita yang besar di sisi kepala. Anjir... malu ingetnya juga! Kayak gini loh...
HAHAHAHA HATI-HATI EFEK KAMERA BISA MENIPU SIAPA SAJA!
MANGKANYA JANGAN PERCAYA FOTO. Percayalah pada Tuhan~

Nick yang aku pakai di MiniFriday saat itu adalah Qunti_emo. Awalnya aku pakai nick ‘Kunti’ karena tadinya pasang avatar dengan wajah kulit hitam, rambut panjang, pake dress warna putih, dan niatnya sekedar lucu-lucuan. Tapi dikarenakan lupa password nick Kunti, alhasil aku pake ‘q’ sebagai pengganti huruf ‘k’. Sedangkan ‘emo’ adalah nama geng yang aku ikuti dalam aplikasi tersebut. Oke, duniaku terasa makin konyol karena sudah terperangkap terlalu jauh dalam dunia selebar layar hape. Ikut geng-geng-an pula! Tapi setidaknya aku merasa lumayan eksis walau sekedar di dunia maya. Pffft, entah mesti sedih atau seneng.

Gak hanya sampai di situ. Lebih dari sekedar chatting, aku dan teman Minifriday merambah saling bertukar ID Friendster dan konferensi telpon. Satu hal yang aku dapatkan di sini: bisa menjadi siapapun yang aku mau tanpa mereka tau siapa aslinya aku yang sebenarnya. Aku merasa senang ketika dalam dunia MiniFriday aku bisa jadi avatar populer dan ditaksir banyak avatar lain. Mereka bilang aku adalah pribadi yang menyenangkan dan mungkin ekspektasi mereka mengenai aku adalah cewek populer yang pintar sekali berkomunikasi, tanpa mereka tau sebenarnya dibalik avatar qunti_emo hanya ada jiwa yang kesepian butuh teman... atau lebih tepatnya butuh seseorang yang bisa menjadi lebih dari sekedar teman.

Berbulan-bulan duit jajanku hanya kuhabiskan untuk satu: menghidupi biaya online MiniFriday. Yak, saat itu MiniFriday udah masuk dalam urutan hal penting dalam hidup. Selain bisa menjalin persahabatan, di MiniFriday kita bisa juga punya couple (pasangan). Tentu saja couple-couplean sebatas dunia maya. Tapi ada juga lho yang pertama-tama hanya menjadi couple dunia maya sampai akhirnya berhasil kopi darat (ketemuan), malah jadi couple real dan langgeng sampai pernikahan. Tapi peluang semacam itu tentu kecil.

Aku pun punya couple di MiniFriday, couple yang pertama memakai nick Algif_emo. Selain MiniFriday, kita sering berhubungan via SMS & telpon. Tapi belum genap sebulan, aku dan Algif putus lantaran dia jarang banget online dan nomornya sering gak aktif, sedangkan aku butuh seseorang yang bisa mengisi kesepian. Oke, sekarang aku ngaku saat itu bener-bener jadi jomblo ngenes di dunia nyata ataupun maya, ngenes kuadrat tiada toleransi.

Dua bulan setelah putus dari Algif (waktu itu sudah memasuki tahun 2008), aku bertemu Ryu_emo dan bertahan menjadi couple Ryu selama 8 bulan. Sama seperti sebelumnya, selain bertemu di MiniFriday aku dan Ryu berhubungan via SMS dan telpon. Tapi setelah 8 bulan, rasanya bosen juga berhubungan sama Ryu. Ryu adalah cowok pertama yang aku kenal begitu lebay dan bikin ilfeel (karena doyan nangis setiap aku marahin). Kayaknya kalo kita ketemu dan melanjutkan ke hubungan yang serius, dia bakal jadi calon suami-suami takut istri.

Keputusanku untuk putusin Ryu makin mantap ketika aku jatuh cinta... hah? Lagi? Iya, jatuh cinta lagi sama seseorang dibalik avatar dengan nick H1M_BLACK, anak geng Black. Beberapa minggu setelah memikirkan matang-matang, akhirnya aku putus dengan Ryu. Dan seperti yang aku duga, Ryu nangis gak berhenti-berhenti, masih menelpon nomorku setiap malam. Ryu dimanapun kamu berada dan bagaimanapun wujud kamu sekarang... I’m so sorry.

***

Junub, begitulah panggilan avatar dengan nick H1M_BLACK tersebut. Yang aku suka dari Junub selain asik diajak ngobrol, Junub juga pintar merayu. Well, secara seumur hidup aku jarang dirayu, dirayu dari dunia maya dengan lawan jenis pun begitu mudah terbuai. Dari perkenalanku dengan Junub, yang aku tau tentang dia adalah anak Dago Atas, Bandung, yang masih seumuran dan satu angkatan denganku. Junub nggak punya Friendster, jadi aku nggak bisa akses dan kepo (baca: cari tau) tentang Junub lebih dalam.

Gak seperti jaman sekarang, ketik nama di Facebook langsung dapat semua profil dan seketika tau dimana dia tinggal, apa kesukaannya, berapa tanggal lahirnya, udah punya pacar atau belum, dan apapun hal-hal kecil lainnya. Jaman Friendster pun masih jarang mereka yang menggunakan nama asli, jadi untuk mencari profil teman lebih meyakinkan search by email. Yang lebih ajaib kita bisa pake simbol-simbol untuk variasi nama, dan itu bikin yang baca jadi pusing.

Junub lihai merayu dan itu kelemahanku. Aku adalah pecandu online yang memiliki sisi minus: seringkali membawa perasaan ke dalam dunia online. “Mau ya jadi cewek Junub?” lewat aplikasi chatting tersebut Junub ‘nembak’ aku setelah kenal dan sering ngobrol sekian lama.

Aku yang suka dengan cara Junub melucu dan ngobrol pun, aku terima saat itu juga. Yeah, finally kita resmi jadian online. Gak punya pacar di dunia nyata, ya kenapa gak nyoba pacaran online? Tapi aku sadar, duniaku semakin gak normal. Dunia maya selebar layar hape sudah menghipnotis aku untuk hidup di dalamnya.

Di luar sana teman-temanku pacaran sama cowoknya, gandengan setiap ke kantin sekolah, memasuki teater bioskop, dibonceng pakai motor setiap pulang-berangkat sekolah mirip ojek langganan, sedangkan aku? Pacarku bisa dijamah aja, enggak! Pacarku berwujud manusia aja, enggak! Pacarku lebih tepatnya adalah handphone beserta aplikasinya. Oh...

Tapi aku menikmati masa-masa itu. Masa-masa dimana aku merasa jatuh cinta hanya karena suara, pesan-tulisan lewat sms, atau juga kecupan mesra dari balik speaker handphone. Aku menikmati itu. Kadang dalam benak aku bergumam, ‘Ooo, mungkin begini ya rasanya telponan sama pacar?’ Lebihnya lagi, Junub nggak pernah absen untuk ngingetin makan, sholat, mandi dan semua hal-hal yang disukai wanita. Perhatian.

Hari-hari yang ceria ketika memiliki cinta virtual (maya), aku pun mirip orang gila. Chatting, liat layar hape, senyam-senyum sendiri ketika Junub ngegombalin lewat aplikasi avatar bernyawa pulsa itu, dan ketawa-ketiwi sendiri ketika Junub ngelucu dengan cerita-cerita garingnya. Aku gak peduli apa kata temen sebangkuku yang selalu saja ngeliatin aku dengan pandangan aneh ketika aku mengeluarkan emosi—tertawa, senyum, cemberut, sedih—hanya karena menatap layar hape bahkan ketika di sekolah saat pelajaran berlangsung.

Nggak ada malam yang aku lewatin tanpa menelpon Junub dan itu hanya untuk mendapatkan kecup jauhnya, ucapan selamat tidurnya, atau nyanyiannya. Iya, yang aku rasakan pada Junub saat itu berbeda dari perasaan yang aku rasakan pada Algif dan Ryu. Apa yang aku rasa ke Junub lebih dan lebih dari perasaan ke pacar virtual yang sudah-sudah.

“Qunti… Junub sayang kamu,” di sebrang sana dengan lirih ia mengucapkan kata-kata yang cukup meluluhkan hati. Sebagai cewek, aku merasa tersanjung setiap dia mengungkapkan perasaannya.
“Aku juga sayang kok sama kamu,” aku membalas dengan senyuman, di atas kasur, sambil memeluk-meluk guling.
“Katanya kamu mau ke Bandung… kapan?” tanya Junub lembut. Yang aku tau, dari nadanya penuh pengharapan.
“Nanti ada study tour, kalo semisal aku ke Bandung, kita ketemu. Tapi…”
“Tapi…?”
“Tapi kalo study tour dari sekolah ke Bali, ya kita belum jadi ketemu,”
“Yaaah…” nada sepertinya Junub kecewa.

Sebenarnya aku memang gak begitu niat bertemu Junub. Aku terlalu malu untuk ketemuan-ketemuan semacam kopi darat. Iya, dengan kata lain aku adalah pengecut, dengan istilah lain aku kalah sebelum berperang.

“Tapi pasti kita ketemu kok!” ujarku penuh yakin padahal cuma pengen supaya Junub berhenti untuk ngajakin ketemuan.
“Bener yah? Awas kalo boong! Sun jauh dulu dong…”
“Muah…” lalu kecupan manis dari bibirku mendarat dengan selamat di permukaan handphone menghantarkannya pada Junub lewat balik speaker. Mau muntah bacanya? Boleh, kok...
“Ya udah sekarang kamu tidur gih, sambil aku mainin gitar dari sini…”

Ini momen-momen yang aku suka. Ketika mau tidur, Junub selalu mengiringi aku ke alam mimpi dengan gitar dan nyanyiannya. Lagu yang sering dia nyanyikan adalah lagu Ingin Hilang Ingatan dari Rocket Rockers dan lagu itu belum begitu terkenal di tempatku pada masa itu.

***

Tiga minggu sudah berlalu, aku lalui hari-hari dengan status pacar Junub, pacar online tepatnya (yang kata Junub) merangkap pacar ‘real’nya. Tapi di minggu ketiga semenjak jadian, Junub mulai menghindar. Sms, gak dibales. Telpon, gak diangkat, lebih parahnya di-reject. Aku bingung, aku salah apa sampe-sampe dia nggak mau dihubungi? Setiap aku online dia tiba-tiba offline, sampai-sampai aku sengaja bikin akun kloningan (akun lain dengan nama samaran untuk memata-matai) dengan tujuan memantau setiap gerak-gerik Junub ketika online secara diam-diam.

Pernah suatu ketika aku memergoki Junub di suatu room berbincang dengan avatar cewek dengan nick Dhayu. Dia berbincang dengan Dhayu layaknya berbincang denganku. Aku gak berpikir macam-macam, tapi ada sedikit rasa cemburu di dalam hati. Sementara itu aku tetap diam dalam penyamaran, memantau Junub hari ke hari yang sifatnya semakin berubah.

Karena penasaran, aku langsung search profil Dhayu di Friendster and… gotcha! Dhayu, umurnya 2 tahun di atasku, berasal dari Bali. Seperti abege pada umumnya, aku membanding-bandingkan apakah lebih cantik atau tidak dibanding Dhayu. Sejenak, aku merasa bangga karena menurut foto profil yang kita pakai masing-masing, jelas aku lebih cantik kemana-mana dibanding Dhayu.

Tapi aku lantas nggak tinggi hati begitu aja. Aku sadar banget, foto profilku jauh beda ketimbang wujud nyata. Di foto profil bahkan aku jauh kelihatan lebih kurus 20 kilogram dibanding wujud nyata pada saat itu. Dan itu alasan yang bikin aku merasa kalah telak di dalem hati kecil. Dimana-mana, logikanya, orang pacarin orang, bukan orang pacarin foto profil. Jadi mau secantik apa di foto profil, itu gak berguna bagi orang yang lebih memilih untuk realistis daripada sebatas berfantasi. Sedangkan di luar sana banyak yang punya paras cantik berikut dengan body moleknya. Lah aku? Cantik minus, lemak plus plus!

Gak jarang teman sekolahku nanya, “Yang kemaren ngeadd friendsterku itu kamu? Kok beda fotonya?” mereka terheran-heran. Ada juga yang bertanya, “Eh friendster kamu pake foto siapa?” Errr… gitu deh kalo foto yang dipajang kelewat cantik! Mau itu muka asli yang dipajang, tetep aja mereka lebih ngeliat ke wujud yang nyata.

Manusiawi kalo mereka heran, soalnya aku memang terlihat lebih cantik di foto profil dengan pipi tirus, bibir tipis, rambut panjang halus terurai. Jelas membuat ekspektasi orang kalo aku seksi! Padahal kenyataannya, perut berlipat tiga, bibir dower, pipi bakpao dan rambut seringkali acak-acakan. Dibilang cewekpun, sedikit meragukan.

Back to topic. Aku yang masih penasaran kenapa Junub cuek, tetep kekeuh menghubungi. Dan aku bersyukur setelah redial nomornya untuk kesekian kali, dia mengangkat telponku.

“Apa sih? Kenapa telpon-telpon terus?” Junub menggerutu.
“Nub, plis dong jangan kayak gini… aku dari kemaren ngehubungin kamu!”
“Terus?”
“Terus? Ya kamu kemana ajaaa? Aku kangen.”
“Gak kemana-mana…”
“Kamu akhir-akhir ini sering online kan? Sama yang pake nick Dhayu?” aku bertanya to the point dengan nada memburu.
“Kamu mata-matain aku, ya? Pake avatar kloningan?” nada Junub meninggi. Dari nadanya yang meninggi kayaknya dia bakal marah dan ternyata benar. “Denger ya! Aku gak suka kamu mata-matain aku kayak gitu!”
“Iya salah kamu sendiri, kamu susah aku hubungin! Apalagi kamu online malah sama Dhayu… aku cemburu!” Aku berharap nggak ada yang liat aku marah-marah dengan air mata hampir berhamburan di pipi begini. Payah, payah banget.
“Aku gak suka kamu cemburu!”
“Ya terus kenapa kamu gak ngehubungin aku kemarin-kemarin?”
“Aku habis sakit panas,” nada Junub mulai pelan.
“Maaf aku gak tau…”
“Ya jelas kamu gak tau,” pernyataan Junub membuat hatiku menciut seketika. Jelas aku gak tau… kita saja terbentang jarak dan ruang. Bahkan mengetahui wujud satu sama lain pun tidak.
“Maafin aku yaaa…” nadaku memelas berharap nada Junub yang menggerutu kian mereda dan seketika luluh dengan permohonan maaf dariku.

Tut. Tut. Tut. Aku salah. Jangankan luluh, bahkan dia menutup telpon begitu aja.

***

Hari-hariku semakin suram setiap mengingat kalau aku sudah menganggap bahwa MiniFriday seperti dunia nyata. Apapun di dalamnya yang hanya sebatas fantasi, itulah dunia nyata yang (seolah-olah) aku alami. Yang aku tau saat itu, aku hanya bisa nangis untuk ngeluarin emosi. Aku patah hati karena perlakuan virtual Junub padaku belakangan ini.

Setelah aku puas dan beres nangis, aku log in ke aplikasi chat MiniFriday dengan akun avatar kloningan. Lagi-lagi aku langsung melesat menuju room tempat biasa Junub kongkow. Chat room Indonesian Bar IV. Di sana, di dalam aplikasi chatting selebar layar handphone Nokia N73, aku melihat Junub duduk berdua sama Dhayu.

“Udah makan Mi?”
“Udah Pi. Lagi apa Pi?”

Whatta hell… mereka manggil Mi-Pi? Jangan bilang kalo maksud mereka Mami-Papi?!?! Hatiku bergejolak. Ada cemburu, kesal, marah, kecewa, dan Junub gak sama lagi di mataku. Karena aku nggak bisa menahan emosiku sendiri, aku langsung menelpon Junub. Telpon mulai tersambung tapi tak kunjung diangkat oleh Junub. Aku paham kenapa gak diangkat, dia pun pecandu online yang tak mau aktivitas online-nya terganggu karena hal-hal sepele, dan mungkin dia sudah menganggapku salah satu hal yang sepele.

Kalau sedang telpon atau terima SMS, koneksi MiniFriday macet seketika dan aku tau Junub tidak begitu menyukai hal itu. Tapi aku nggak berhenti begitu saja untuk menghubungi Junub. Aku redial nomornya. Dan ketika telpon diangkat,

“APA SIH?!?! AKU LAGI ONLINE MINIFRIDAY! JADI DISCONNECT TAUK!” Junub memaki dengan nada tinggi. “Udahan ah, kita putus aja kalo gini caranya mah!”

Untuk sedikit gambaran, aku masih punya screenshot saat main MiniFriday dengan Junub alias H1M_Black. Begini loh MiniFriday itu...
Gambar kiri itu waktu masih 'anget', masih mwuah-mwuah gak jelas, masih sering online bareng. Gambar kanan itu waktu hubungan kita udah 'dingiiin'. "Kamu masih sayang atau gak :( ?", "Mau putus ya putus."

Iya, dia bilang kata ‘putus’ semudah kata-kata itu diucapkan seperti tanpa hati, bahkan sebelum memberi aku kesempatan untuk bicara. Hatiku memang sakit, tapi aku cuma terdiam. Aku sadar, bukannya rasa sakit hati ini karena kekonyolanku sendiri? Kenapa harus sebodoh ini untuk menganggap semua terlalu nyata?
Dan ini screenshoot waktu aku ngeflood (SPAM) di suatu room, curhat dan galau karena seonggok avatar bernama H1M. Yeah, because of H1M.

***

Backsound: Ingin Hilang Ingatan – Rocket Rockers

Aku inget banget Junub mutusin aku tanggal 11 September 2008. Karena setelah itu hatiku rasanya hampa. Dan lagu Ingin Hilang Ingatan yang sering Junub nyanyikan tempo hari tiap malem sebelum aku tidur itu rasanya pas banget sama keadaan aku waktu itu.

Pernah gak sih kamu jatuh cinta sama seseorang yang terbiasa untuk menemani kamu dalam dunia maya? Ketika kalian berdua sadar memiliki rasa yang sama kalian pun mulai menjalin hubungan? Lalu tanpa alasan yang jelas dia berubah dan meninggalkan kamu sendirian dalam keadaan hati yang berceceran. Kalo pernah, berarti (mungkin) kamu paham apa yang aku rasain saat itu.

Well, padahal itu adalah orang yang kamu gak tau siapa, gak tau apa latar belakangnya, dan gak tau sifat ataupun wujud aslinya. Yang bikin kamu jatuh cinta hanyalah cara dia bercanda membuat kamu tertawa, dan suara tawanya ketika kamu dan dia bergurau sebatas telpon atau bahkan tulisan. Aku sayang sama Junub, tapi aku sadar Junub ternyata nggak sadar akan itu. Bahkan dia belum cukup dewasa untuk memahami arti ‘sayang’ itu sendiri. Atau mungkin aku yang terlalu konyol karena membawa perasaan dalam aplikasi ‘boneka-bonekaan’ yang nggak jelas ujungnya?

Aku jarang untuk bisa merasa sayang begitu saja pada seseorang yang aku anggap spesial, tapi sekali aku menyayangi, aku selalu menggunakan seluruh perasaanku (termasuk orang yang berada dalam dunia maya). Dan disitulah letak kelemahanku, kadang ketika sibuk menyayangi, aku lupa mempersiapkan diri andai suatu ketika aku bisa kapan saja kehilangan orang yang aku sayangi. Makanya waktu aku kehilangan Junub, rasanya duniaku jadi gelap lagi. Ketika aku melambung, aku lupa bahwa hukum gravitasi tetap berlaku yang artinya aku pasti jatuh lagi… dan tentunya sakit.

Yang lebih menyedihkan, aku gak punya kekuatan untuk menahan Junub hilang dari kehidupanku, karena memang dari awal dia bukan sosok yang nyata dan dia akan selalu begitu… semu. Sampe sekarang (2013), kalo dengar lagu Ingin Hilang Ingatan dari Rocket Rockers, ingatanku langsung jatuh pada ingatan saat malam-malam Junub nyanyiin lagu itu untukku, bedanya sekarang aku gak memiliki perasaan apa-apa lagi sama Junub.

Setidaknya, itu hal-hal manis yang aku ingat tentang Junub dan mulai memudar dalam ingatan seiring waktu yang berjalan. Itu satu-satunya hal yang bisa membuatku tersenyum dan mengerti bahwa bagaimanapun mantan terasa menyakitkan, mereka pernah jadi hal paling manis dalam kehidupan. Yaa sekalipun mereka hanya sebatas virtual tak terjamah.

***

Ketika harapan yang lalu sudah tak lagi memiliki tuannya, maka membuka mata dan hati adalah cara menuju pada harapan yang baru, untuk menemukan kembali dunia yang baru. Tapi semua itu nggak semudah membalikkan telapak tangan. Ini kesalahanku sejak awal, terlalu membawa perasaan pada dunia maya selebar layar hape.

Dulu aku nggak mengerti rasanya patah hati, tapi Junub memberikan rasa itu cukup mendalam yang mau nggak mau harus aku terima. Patah hati tuh gak enak banget! Dunia rasanya suram, makan rasanya gak enak, tidur rasanya gak nyenyak. Rasanya pingin banget ngucek otak pake bayclin, biar bersih dari ingatan yang lalu-lalu!

Pada akhirnya aku harus terbiasa untuk kembali pada kebiasaan semula, kebiasaan di mana hari-hari sebelum aku memiliki pacar vrtual. Yang setiap malam ada yang menyanyikan lagu dengan iringan gitar, kini aku harus terbiasa untuk tidak mendengar lagi. Yang setiap hari kecupan jauhnya, gelak tawanya, candaannya mendarat di speaker handphone dan membuat aku berbunga-bunga, kini aku harus terbiasa untuk tidak mendapatkannya lagi.

Aku selalu gagal menyembunyikan air mata ketika ingat Junub menyanyikan lagu diiringi gitar setiap kali aku mau tidur, atau ketika kita chatting dan bercanda bareng di MiniFriday. Hari-hari hampa itu adalah hari-hari dimana bantal jadi saksi dari patahnya hati, satu-satunya tempat dimana tangisan bisa kubagi. Aku memilih untuk tidak menceritakannya pada teman dekatku. Yang ada aku bakal diketawain karena nangis gara-gara cowok yang sama sekali belum pernah aku temui dan aku jamah. Cowok yang sama sekali nggak kasat mata karena hanya sebatas koneksi internet.

Tapi suatu hari aku sadar, aku harus menghentikan semua ini. Harus merelakan Junub dan harus kembali pada dunia nyata, membenahi diri sendiri. Aku harus membuka hati dan mata, bahwa dunia nyata pun memiliki hal-hal yang lebih menakjubkan daripada dunia maya selebar layar N73.

Aku berusaha bangkit kembali, perlahan dengan cara paling mudah tapi sulit juga: menghentikan aktivitas online MiniFriday dan itu berhasil. Tapi sakit hati yang aku rasa masih ada, karena sadar atau nggak sadar batinku saat itu masih begitu mengharapkan Junub.

Makin hari kenangan antara aku dan Junub mulai samar, mulai memudar. Bahkan aku sudah lupa suaranya. Hari-hari selanjutnya aku lewati dengan hati hampa dan usaha untuk melupakan sosok Junub. Aku dalam perjalanan kembali ke nol, kembali ke masa aku gak mengenal Junub ataupun MiniFriday.

Namun, seiring berjalannya waktu... di tahun 2010 aku kembali bertemu dengan Junub, masih di dunia maya. Facebook mempertemukan kami kembali yang telah sama-sama dewasa, telah sama-sama memiliki pikiran terbuka.

Kini, aku dan Junub menjadi teman baik, bahkan kadang masih saling bercanda, juga mencela. Daaan... kadang kamipun masih sekedar saling menguntai sapa lewat Twitter hingga kini. Hahaha... sepertinya Junub dan aku akan selalu begitu, menjadi teman dunia maya yang saling gak mengetahui wujudnya :) Ya Nub, ya?

Oh iya! Ngomong-ngomong aku masih nyimpen rekaman waktu Junub nyanyiin lagu Ingin Hilang Ingatan & Semua Tentang Kita. Cuma sepotong-sepotong sih, doi hobi banget gak menyelesaikan lagu yang dinyanyikan :D Bagi yang berkenan, boleh deh didengar :D Kualitasnya rekaman hape banget, kalopun didengerin jangan full volumenya, bisa budeg :p  
Perlu dicatat, diuploadnya rekaman ini hanya semata untuk keperluan lomba, bukan nostalgia :) Jadi mohon untuk tidak ada kesalahpahaman bagi (pasangan dari) pihak-pihak yang bersangkutan, ya.

***

Itulah cerita tentang #DigitalLove yang pernah aku alami. Tapi sekarang udah stop aaah DigitalLove-DigitalLove-an. Udah bocen... umur udah 21... udah punya tambatan hati... udah dilamar, lagi! Dan yang jelas tambatan hatinya bukan dapet dari dunia maya! HAHAHA! :P Nyari pacar dunia maya? So last yeaaaaaar, kak! Kuno (setidaknya buat aku itu kuno). Tapi buat dedek-dedek yang penasaran sama cinta dunia maya, boleh lho dicoba... asal tanggung resikonya siap, yaa :)

Tapi sih, menurut aku yang sudah lima kali mengalami jatuh bangun cinta dunia maya (Algif (MiniFriday), Ryu (MiniFriday), Junub (MiniFriday), Seta (Nimbuzz), Munggi (ClubCooee), tiga pertama sama sekali belum pernah ketemuan. Yang dua terakhir sempet ketemuan, pacaran, tapi akhirnya kandas juga), lebih baik CARI YANG PASTI-PASTI AJA DEH! CARI YANG DI DEPAN MATA, OKEH?! *GAK NYANTE* 

Intinya pesanku sih, jangan terlalu menilai atau menganggap serius segala sesuatu (ucapan, perhatian, kepribadian, sikap, sifat, dll) dalam dunia yang SEMU seperti halnya dalam dunia maya entah itu interaksi dalam aplikasi chatting atau jejaring sosial. Kecuali kamu udah ketemu orangnya secara nyata. Karena kalo kamu menilai atau menganggap serius sebelum ketemu, takut kecewa nantinya. Jangan berekspektasi terlalu tinggi lah ya... santai aja kek di pantai.

Lagian pacaran yang awalnya ketemu di dunia nyata juga lebih enak loh! Kalo kangen tinggal ketemu, kalo marah tinggal ke rumahnya ngajak baikan. See? Asik, kan? Coba dunia maya? Syukur-syukur satu kota! Bisa ketemuan! Bisa lanjut pacaran juga di dunia nyata! Lah ini, udah beda kota, ketemuan gak bisa, kalo marahan pun mau ngajak balikan berasa tanpa daya karena ongkos ke rumah doinya gak ada, pas ketemuan malah kecewa lantaran wujud asli sama foto di internet gak sama. HAHAHAHAH! Emang enyak?

Yasudalah~

Oya, ngomong-ngomong tau kaaan grup para blogger Kancut Keblenger yang kecenya naujubilah badai itu? HARUS TAU! *todong golok*

Belakangan ini, Kancut Keblenger dan penerbit kece Bukune baru aja menerbitkan buku dengan judul Digital Love lhooo, tentang lika-liku cinta dunia maya yang dialami oleh para penulisnya! Wow, seru kan? Kalo kamu penasaraaan, kamu bisa langsung beli bukunya di toko-toko terdekat, atau bisa juga pesan online di bukabuku.com atau bukukita.com.

Tuuuh! Gampang kan, kalo pengen dapetin bukunya? Tunggu apalagi siiih? Terutama buat kamu yang pernah mengalami cinta dunia maya, beeeh GAK AFDOL kalo belum beli DIGITAL LOVE KANCUT KEBLENGER. Begini penampakan bukunya.... taraaaa~
BURUAAAAN BELI BUKUNYAAAH! :* 


With Love,
Megashofani #LombaNgeblog #DigitalLoveKK

27 comments:

  1. kita sehati, nyari pacar di dunia maya iut kayak beli kambing di balik karung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuuuul! Yang diharapkan kadang gak kayak realitanya :)

      Delete
  2. Ah gilak cinta-cintaan di MiniFriday :)))

    Setuju deh, cari cinta sejati nggak bisa di dunia maya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernah juga main MF?
      Hahahaha iya, jaman sekarang bok~ yang pasti-pasti di depan mata aja deh.

      Delete
  3. kayaknya pernah ketemu mega di minifriday, aku ikutan geng peace, nick name ku: b1mbs, shinnn, sama B1MS_PEACE, suka nongkrong di indonesian bar 8
    hhe. pernah ketemu kah? :o
    jadi kangen masa2 main mini friday, teman-temannya duah kayak temen deket aja disana, pada kemana sekarang. sebagian ada yg jadi temen fb/twitter padahal dulu main MF sambil add friendster xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo shinnn kayaknya aku pernah liat deh shiiiin! soalnya dulu anak emo MF suka rutin kunjungan ke room-room gitu hahahah *apeu banget kunjungan* :D

      Iya, seru banget anak-anak Mini Friday, avatarnya lucu lagi... mungkin kalo dulu gak ada jaman DC DC pas koneksi MF aku masih mainan sampe sekarang. Dan mungkin kalo sekarang MF bisa lagi aku bakal ganti hape symbian :D Tapi cuma buat hiburan dong yaaa :D

      Delete
    2. iya suka DC jadi malas main MF kemudian servernya tutup sampe sekarang, sulake ganti project lain (bobba, kalo gak salah) untuk chat mobile

      iya emang pernah ketemu atau mungkin nyapa, hha andai aja tau dari dulu kalo itu kamu, hhe

      Delete
  4. aaaakkakk.... mainan dulu banget itu..

    ReplyDelete
  5. cinta dunia maya -__-
    aku kapok kak......

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku apalagi.... udah kenyang hahaha :D

      Delete
  6. gue malah sama sekali blm pernah yg namya kisah cinta lwt dunia maya -,-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe gak usah sih Kak. Sebenernya cuma buang waktu lho.

      Delete
  7. Cinta di dunia maya nggak selamanya buruk kok, ada masa indahnya juga :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga gak bilang selamanya buruk kok :D tapi kalopun indah juga SEMU kan? Gak bisa dipungkiri :p

      Delete
  8. ceritanya keren loh kok. nyentuh bgt...gue jg udah kapok cinta2an dsosmed-_-

    grgr baca postingan ini gue jd penasaran gmn rasanya main mf..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaah thanks yah udah nyempetin baca :D
      Btw, kamu belum pernah ngerasain main MF? Sepertinya kamu melewatkan salah satu kenikmatan dunia, yaitu pembunuh kebosanan paling mujarab yang portable :P Hihihi :D

      Delete
  9. like ceritanya :) kalo dipikir-pikir, yg didepan mata aja ribet apalagi yg virtual?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thankyouuu! Nah itu dia, yang pasti-pasti aja :)

      Delete
  10. atagahhh ketemu anak EMO MF disini ahaha saya juga dulu di EMO MF hahaha

    ReplyDelete
  11. oh iya kok sekarang gak ada telfon rame" lg dulu perasaan rameee tengah malem hehe

    ReplyDelete
  12. Hehehe...iseng2 buka google...nemuin sepotong mas lalu...gw dulu di Mf pake nick enzo_joker...wakil ketua dr genk joker...hahaha...jd inget abang grad_joker...

    ReplyDelete
  13. Ahahha keinget masa lalu... boz gw itu junub ... gw hiks_black kngen gw ma junub org nya gokil... sama ricky_black trus plg inget ma nita_botak >_<

    ReplyDelete