Saturday, 11 August 2012

Dia dan RencanaNya

Kemarin aku pergi ke Rumah Sakit. Orang manapun juga tau, di Rumah Sakit pasti tempat orang sakit yang banyak orang sakit. Sebenarnya aku benci Rumah Sakit, tempat yang memperlihatkan kelahiran dan kematian secara bersamaan. Membuat hati campur aduk. Tidak karuan. Kemarin aku menemui Nenekku yang sedang diopname di ruang ICU.

Sebelumnya aku sempat melihat bayi di kotak inkubasi sedang terbaring menutup mata, nampaknya masih lemah karena masih begitu mungil. Di samping kotak inkubasi terdapat sang Ibu sedang meraba kaca kotak inkubasi tersebut. Memandangi bayinya yang tanpa daya. 

"Bayinya itu kenapa ya, Ma?" tanyaku berbisik pada Mama yang ada di tempat yang sama. 
"Lahir prematur jadi harus di-inkubasi biar dapet anget-anget." 
Aku mengangguk. 

Kemudian setelah puas berbincang dengan Nenek di ruang ICU aku keluar untuk duduk di ruang tunggu. Beberapa jam menunggu, tetiba suster dari dalam ruang ICU keluar memanggil seseorang. Sebut saja Bapak Blablabla. 

"Bapak Blablabla ada?" teriaknya ke penjuru ruang tunggu ICU.
"Liat Bapak Blablabla gak, Bu?" tanya si suster kepada Mamaku. Mamaku pun menggeleng tidak tahu-menahu yang mana si Bapak Blablabla. 
"Tolong carikan ya Bu, anaknya Bapak Blablabla yang prematur nggak ada."
"Nggak ada gimana, Mah?" tanyaku berbisik pada Mama. "Diculik ya?"
"Ssst! Maksudnya meninggal..." jawab Mama yang ikut-ikutan berbisik.
Jantungku tetiba berdegup.

Lalu ada wanita setengah baya yang lain pun menggugah bapak-bapak yang sedang tertidur pulas di bangku ruang tunggu. Setelah bapak itu bangun, wanita setengah baya itu pun mengabari, "Bapak... dipanggil suster, masuk ke ruang ICU..."

Oh jadi itu bapaknya, dalam hatiku. Apa jadinya hatinya ketika tau anaknya yang prematur sudah tidak bisa diselamatkan? Aku yang membayangkannya saja ikut hancur. Toh, pada akhirnya ketika mulai dewasa sebagai wanita aku juga akan hamil, melahirkan, dan saat itu juga aku berdoa semoga kalau aku melahirkan, bukan prematur. Tidak ada yang salah dengan bayi-bayi lahir prematur, hanya saja ketakutanku yang salah.

Beberapa saat kemudian si Bapak Blablabla keluar dengan istrinya, si Ibu yang beberapa jam lalu kulihat meraba kaca inkubasi. Si Ibu membopong anaknya yang tak bernyawa dalam selimut bayi kemudian ia menangis histeris sambil berjalan lemas diiringi oleh saudaranya.

Mungkin Tuhan belum memberikan kesempatan si bayi melihat dunia. Mungkin.

Aku jadi mengaca pada diriku sendiri. Dimana Tuhan mengijinkan aku hidup hingga detik ini. Hidup dan banyak kesempatan diberikanNya untukku. Mungkin dia ingin aku membuat cerita, cerita sedih dan senangku lalu mengemasnya dalam suatu hikmah yang suatu hari dicerna dan dipahami olehku, membuat sejarah tentang aku yang menjadi berguna untuk orang-orang sekelilingku, berbagi dengan sekelilingku, melakukan kebaikan.

4 comments:

  1. :(

    mengemas dalam hikmah..
    paragraf terakhir :)

    ReplyDelete
  2. ya, dan hal wajib yg perlu kita lakukan tiap hari adalah bersyukur. bersyukur karena masih bisa merasakan baik dan kejamnya dunia.

    ReplyDelete
  3. salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
    jujur dalam segala hal tidak akan mengubah duniamu menjadi buruk ,.
    ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

    ReplyDelete