Thursday, 3 May 2012

Karena Cinta Sejati Tak Akan Berbagi

Tersiksa sebenarnya, ketika mulai terbuai dan nyaman di tempat ketiga. Dalam posisi ini, otak memahami bahwa hal ini salah, tapi hati justru semena-mena menyangkalnya. Kenapa baru tercipta 'kita', setelah kamu dengan dia?

"Kamu nggak pulang?" tanyaku sambil membelai rambutnya lembut. Jam dinding menunjukkan pukul setengah duabelas malam tapi dia masih saja berlama-lama di rumahku setelah kita bercumbu.

Kepalanya menggeleng di atas pangkuanku. Tatapannya manja. "Aku nyaman di sini. Aku nyaman di pangkuan kamu," katanya lalu membelai pipiku dengan jemarinya.

"Nanti di cariin istri kamu loh!" kemudian aku menarik hidungnya dengan gemas.

"Dia gak akan tau, sayang..."

"Tapi dia pasti curiga begitu pulang nanti sekujur badanmu tercium wangi parfumku," ujarku sambil tersenyum menggodanya.
 
Ini aku, yang tengah membelai suami orang. Aku bahagia dengan cara seperti, cara yang tak lazim yang sesungguhnya menyakitkan aku, juga tentunya istrinya kalau mengetahuinya. Aku adalah orang ketiga dalam hubungan mereka yang selalu memeluk kekasihku dalam ketakutan. Takut, karena aku tau ini begitu salah. Kutepiskan harga diri hanya untuk mendapatkan kasih dari seorang yang telah berpendamping hidup.

Ketika aku mendapatinya menelponku, mengirimiku pesan, juga mendatangi rumahku hanya untuk menyapaku sesaat kemudian pergi lagi, itu yang kusebut bahagia. Bahagia yang selalu berujung pada ketakutan. Ketakutan bahwa menyadari suatu hari harus merelakan seseorang yang terlanjur menjadi tempat aku menggantungkan perasaan.

Sekelilingku menyebutku bodoh! Tapi aku menyebutnya cinta. Mereka tak akan paham rasanya. Tak pernah. Mereka menghujatku dan aku tak peduli walaupun omongan mereka ada benarnya.

Menjadi orang ketiga adalah hal candu paling menyiksa. Aku harus memaksa diri untuk tak menghubunginya saat hati begitu rindu. Aku seperti robot yang akan menurut bila diperintah, "Jangan SMS atau telpon dulu!" demi kelangsungan hubunganku dengan dia yang aku cinta tapi telah memiliki seseorang di sampingnya. Aku hanya bisa menunggu untuk dihubungi atau ditengok sesekali. Tempat ketiga adalah tempat dimana aku tak akan punya pilihan selain hal-hal terburuk yang jelas menyakitkan diriku sendiri.

Kadang aku lelah. Aku pun ingin cinta sejati, yang tak terbagi.

Adakalanya aku begitu egois, tidak memikirkan perasaan wanita yang kini menjadi istrinya. Yang aku tau, aku bahagia dengan kebersamaanku dengannya tanpa berpikir bagaimana perasaan istrinya bila mengetahui kenyataan yang ada. Kalau dia saja merasa tak masalah, lalu apa yang harus kukhawatirkan? Karma? Ah, omong kosong!

"Sebenarnya kamu cinta gak sih, sama aku?" tanyaku sambil mengernyitkan alis.

"Kenapa nanya gitu? Kalo enggak, ngapain aku masih rutin datengin kamu?"

"Bisa jadi karna kamu lagi bosen?" tebakku lalu mengangkat bahu. "Siapa yang tau? Kamu menyangkal atau bohong aku juga gak bakal tau kan?"

"Udah deeeh, jangan mulai nebak yang nggak-nggak. Yang penting sekarang aku di sini. Iya kan?"

Aku mengangguk. Iya, yang terpenting dia sekarang ada di sini, di pangkuanku, membelai dia tanpa peduli dengan adanya hati yang menangis di luar sana.

***

Aku mengamati perkembangan istri kekasihku melalui situs jejaring facebook, lewat akun kekasihku. Istrinya menuliskan status, "Alhamdulillah, kandungan memasuki usia 9 bulan. Mama pengen cepet liat kamu sayaaang."

Aku terenyak. Istrinya hamil? Dan pacarku tidak memberitahu. Jujur saja, aku merasa iri dengan istrinya. Dia telah menjadi wanita seutuhnya, memiliki pacarku secara utuh. Dia pun telah mengandung benih dari pacarku, lalu mereka akan hidup bahagia dengan keturunan mereka. Istrinya memiliki yang tak aku miliki dari pacarku... KOMITMEN.

Memang aku siapa meminta komitmen?

Bayangan kelam lalu ditelan waktu, hanya sebagai penghibur dan penghilang bosan sesaat yang sukarela. Dalam posisi ketiga aku tidak pernah merasa bahagia yang nyata, lalu dengan ruginya pada akhir pun akan menuai karma.

Aku merasa bahagia ketika kekasihku mengunci bibirku dengan bibirnya, mencengkram tanganku kuat, memeluk tubuhku erat, tapi kebahagian itu selalu saja pergi lagi setiap kekasihku meninggalkan rumahku, hanya menyisakan jejak-jejak kakinya untukku.

Aku begitu mencintai lelaki yang kini telah memiliki pendamping hidup, tapi dalam lubuk hati yang terdalam aku juga tak mau karma menghampiri aku suatu hari nanti walaupun karma itu sendiri seringkali kusangkal adanya setengah mati. Kata orang, karma begitu menyakitkan. Apakah menuai karma lebih sakit dari menjadi orang ketiga?

***

"Kamu nggak cerita kalo istrimu hamil!" seruku dari dalam kamar.

"Emang kamu mau denger kalo aku cerita tentang istriku?!" dia pun berseru dari luar kamarku.

Aku dan pacarku kini hanya disekat oleh pintu kamarku. Kami berseteru setelah seminggu lamanya kami tak bertemu lalu aku mengutarakan keinginanku agar dia menikahiku, kemudian dia membalas ku dengan pertanyaan, "KAU GILA?!?!" dengan mata melotot terkejut.

"Sampe kapan... sampe kapan aku cuma jadi bayangan?!?!" tanyaku berteriak dari balik pintu. Aku meringkuk memeluk dua kakiku dengan tangan, tangisan membahana. "Kembali aja... sama istri dan calon anak kamu!"

"Kamu kenapa sih?!?!" suaranya menggelegar kudengar dari balik pintu. "Nggak biasanya kamu kayak gini! Kamu bukan yang aku kenal! Bukannya kamu sama sekali gak peduli sama istriku? Atau calon anakku? Sekarang kenapa malah kamu maksa-maksa aku buat kembali sama mereka, sedangkan aku kesini dateng buat kamu! Karna kamu!"

"AKU EMANG GAK PEDULI SAMA MEREKA!" teriakku, terisak. "TAPI AKU PEDULI SAMA DIRIKU SENDIRI!"

"Oh! Jadi sekarang wanita macam kamu takut sama karma?!"

"Aku pantes buat dapetin tempat LEBIH dari sekedar tempat ketiga!" jawabku.

Hening.

"Aku juga pengen bahagia... kayak kamu sama istrimu. Menikah, punya anak... Aku juga pengen punya hidup yang wajar... tentang aku menjadi yang pertama, punya cinta dan itu hanya milik berdua. Istrimu berhak dapetin cinta yang sepenuhnya. Aku rasa hubungan kita gak adil buat dia," aku melanjutkan ucapanku lirih. "Setidaknya, untuk sekali ini... aku pingin menjadi benar."

"Oke. Aku bakal pergi. Tapi kamu gak akan nemuin pria yang kamu cinta seperti kamu cinta sama aku!" dia mulai berseru lagi.

"TAPI SETIDAKNYA TIDAK LAGI MENJADI ORANG KETIGA!" aku berseru membalas suaranya. 

Kemudian aku mendengar langkahnya yang menjauh, sesaat kudengar ia men-starter mobilnya, dan melaju. Aku keluar dari kamar, kemudian duduk di shofa. Aku menangis habis-habisan. Hatiku memang hancur, tapi setidaknya jalan yang kuambil benar, untuk tidak selalu menjadi bayangan. Kebahagiaan adalah hak semua orang, bukan? Untuk menjadi yang utama, bukan orang kedua, bukan di tempat ketiga.

Semenjak saat itu aku tak pernah lagi menghubunginya, ataupun menguntit lewat facebooknya. Aku menutup buku yang menceritakan tentang aku dan dia, lalu membuka buku baru, menulis cerita baru kembali. Setidaknya, aku ingin berada di jalan yang benar. Dengan begitu, aku akan bertemu orang yang benar pula, bukan?

Untuk kamu, dia, juga mereka yang hanya menjadi bayangan bagi kekasih yang telah berpendamping hidup... percayalah, cinta sejati tak akan berbagi :')

Love,
Megashofani.

16 comments:

  1. ini cerita kamu atau fiksi?? terhanyut dehh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fiksi kakak :D Hihi makasih ya udah mampir :D

      Delete
  2. wihhh tulisannya bagus kakak :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. tulisan komputer emang bagus yaaak :))) :p

      Delete
  3. tokoh org ketiganya insyaf y? heheee
    gud ! pesannya nyampe ! :)
    karena cinta sejati takkan berbagi ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. insyaf, kapok :))) hahaha thanks loh udah nyempetin baca xD

      Delete
  4. bagusss bangettt :)
    keep writing :)
    *dan jangan pernah jadi orang ke tiga, (ada yang bilang,, orang ke 3 itu set*n :D

    ReplyDelete
  5. fiksi terselip realita yg intinya satu, banyak cinta sejati diluar sana, jangan mengunci diri disatu cerita cinta yang berujung menyakitkan *ngomong apa gue -_-,

    ReplyDelete
    Replies
    1. yea pit, banyak cuma kurang disadari :D

      Delete
  6. Bingung mau ngomong apa, gw terkesima sama kejadian yg ada dalam fiksi itu. Realita skrg juga ada yang kayak gitu. Kreeenn.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha ya gitu deh, saya juga bayangin kalo jadi pelaku orang ketiga aja, jadilah fiksi ini :)

      Delete
  7. keren banget ceritanyaaa! kyaaa terharu deh walaupun aku masih polos, kakak.. gimana kalo aku tanya "orang ketiga itu apa?" percaya gak kalo aku gak ngertii? heheheh:D :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi makasih yaaa. Orang ketiga itu kasarannya selingkuhan :D

      Delete
  8. Indah dan natural plot ceritanya.
    Salam berkarya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya nyempetin baca ^^ masih tahap belajar juga kalo nulisnya :D

      Delete