Saturday, 28 April 2012

Sepotong Kisah Jogja

Jogja, kota mewah yang begitu sederhana. Mewah, karena budayanya. Sederhana, karena siapapun bisa bertahan hidup dengan apa adanya di sana. 

Berbicara tentang Jogja, Ring Road Selatan paling membawa kesan. Setiap melewatinya aku selalu berusaha meyakinkan pada diriku bahwa remah-remah masa lalu tak akan terulang lalu menjadi utuh seperti semula saat kita merangkainya.

Menelusuri Ring Road Selatan selalu menyelipkan rindu mendalam akan keindahan yang cinta berikan. Tentang berboncengan, tentang tanganmu yang menarik tanganku untuk kau genggam sepanjang perjalanan, dan tentang waktu yang cemburu membuat semua terasa begitu cepat!

Tentang jembatan layang Janti, Jogja, selalu mengingatkan aku pada bibirmu yang mengucap "Indah!" tatkala kita berdua berboncengan motor untuk pertama kalinya di bawah temaram cahaya rembulan, lalu menelenjangi malam dengan menikmati pemandangan lampu-lampu perkotaan. 

Kini, setiap melewatinya, otakku selalu flashback dengan sendirinya, memutar ulang reka kejadian tanpa diminta. Tapak dan rekaman nyata antara aku dan kamu akan selalu ada di sana, jembatan layang Janti, dalam sebuah cerita bernama 'masa lalu'.

Tentang Vredeburg dan ruang Diorama. Pertama kalinya ibu jarimu mengusap air mata ketika aku mengungkapkan tentang rasa takut akan perpisahan yang pasti datang bahkan tanpa diminta.

Tentang Parangtritis, dimana semua rasa lelah berlabuh setelah kita mengitari Jogja. Tuhan begitu tau bingkisan menawan untuk aku dan kamu yang sedang dimabuk asmara: Sunset yang sepaket dengan sepotong senja. 

Kini, setiap aku melihat Sunset Parangtritis, rasanya tanpa arti. Lalu fatamorgana terjadi tentang aku yang tiba-tiba melihatmu kembali di gubuk itu, gubuk atas bukit dimana kita bercumbu. Namun fatamorgana hanyalah fatamorgana, sosokmu menghilang lalu kemudian kembali semu.

Jogja, bagiku selalu memiliki pesona. Pesona yang aku dan hanya Tuhan ketahui. Atau mungkin, kau juga merasakan pesona yang sama, hey Tuan-Cinta-Pertama? ;)

KAMU... Terimakasih, ya! Jogja begitu mengesankan terutama saat aku dan kamu mengelilinginya, menelusurinya... sebagai kita.


Love,
Megashofani.

2 comments:

  1. kamu jogja, mbak bali nduuuk,,, ahuuyy xDD
    asek asek..

    kapan-kapan come-come to my blog laaa x))

    sun sayang,
    mbak <3

    ReplyDelete
  2. heuuu :') yah lumayan dapet kenangan manis huaahahhaah
    sip mbaaaa xD iya nih sampe lupa blogwalking akuuu
    :*

    ReplyDelete