Thursday, 26 April 2012

Sebatas Selir Hati

"Aku sayang kamu. Semakin sayang," kataku malu-malu pada Dhio.

"Aku tau. Sejak kelas satu SMA sampe kelas tiga sekarang, ini yang keenam kalinya kamu bilang hal itu ke aku," Dhio tersenyum. Ia menunduk, padahal aku ingin sekali menatap matanya.

"Umm... tapi... tapi aku cuma pengen kamu sebatas tau perasaan aku kok! Soalnya rasanya nyesek banget Yo, kalo ketahan," aku buru-buru menjelaskan maksudku menyatakan perasaan, tak ingin Dhio merasa terbebani oleh apa yang baru saja kunyatakan.

Dhio mengangguk. "Bukannya aku gak suka kamu, tapi... entahlah. Aku hanya ngerasa kita sebaiknya begini. Dan mungkin ini keenam kalinya juga aku harus bilang... aku cuma merasa nyaman kalo kita cuma sebatas teman," kata Dhio menegaskan.

Aku mengangguk. Aku mengerti. Aku paham.

***
Di sudut sekolah, aku melihatnya dari kejauhan, dari balik ranting dedaunan. Dia di sana, berdiri di tepi pagar lantai dua, di depan kelasnya, dikelilingi gadis-gadis berparas bidadari, bercanda mengumbar tawa. Aku masih saja terpaku pada sosoknya yang bertubuh menjulang tinggi, rambut cepak, dan yang selalu menjadi khas dari dirinya adalah tiga guratan pada pipinya yang tanpa aku harus melihat dari dekatpun, aku tau guratan itu akan selalu muncul setiap tawanya mengembang.

Masih seperti hari-hari lalu, aku menggambar sketsa punggungnya yang sedang bersandar pada pagar lantai dua depan kelasnya. Aku mengamatinya, begitu saksama.

"HEIII!" tiba-tiba Mega menepuk pundakku dari belakang, mengagetkanku.

Aku sontak kaget karena reflek. Buru-buru saja kututup buku sketsaku, tapi Mega sudah merebutnya. Mega membuka buku sket-ku, melihat hasil gambaranku lalu melihat ke arah seseorang yang menjadi objek sket, ke arah lantai dua. Mega memang paling tau siapa seseorang yang paling bisa membuat perhatianku habis karena memandanginya berlama-lama.

"Mau sampe kapan gambar punggung Dhio melulu?" tanya Mega seperti biasa, ketika mendapatiku diam-diam mengamati sosok laki-laki yang selalu saja dikelilingi gadis-gadis bertubuh molek seksi itu dari balik ranting dedaunan pohon di taman sekolah.

"Sampe Dhio sama aku kepisah karena masing-masing lulus sekolah," jawabku menunduk sambil merebut buku sket dari tangan Mega. Aku melanjutkan kembali aktivitasku, menggoreskan tinta pada buku sketsa dimana mataku selalu saja berkiblat pada punggung Dhio.

"Kamu seharusnya lebih bijak, supaya kamu bisa mikir untuk memperhatikan diri kamu sendiri, selain Dhio," celoteh Mega tanpa sedikitpun kupedulikan.

Sketsaku terhenti, aku menoleh ke arah Mega yang kini duduk di sampingku, memicingkan mataku. "Memperhatikan diri sendiri? Maksudmu?"

"Ya selama ini kamu selalu nurutin apa yang jadi maunya Dhio. Dhio minta kamu begini kamu turutin, minta begitu kamu turutin. Dhio minta kamu buat ngerjain PRnya kamu 'iya'in, Dhio minta kamu begini-begitu kamu mauuuu aja! kamu tuh bukan Doraemon loh! Sedangkan Dhio? Apa yang udah Dhio lakuin buat kamu? Menganggap kamu ada pun enggak!" ujar Mega berusaha menyadarkanku. "Seenggaknya dia respek kek, sama perasaan kamu! Kayaknya otak atau hati kamu salah setting, deh! Sampe-sampe yang ada tuh Dhio-Dhio-Dhiooo melulu!"

"Mega, kalo kita membantu itu kan gak seharusnya pake pamrih?"

"Aduuuh, susah deh ngomong sama kamu!" Mega mulai menggerutu. "Sampe kapan kamu mau nurut sama Dhio atas nama cinta?! Hah? Gak usah pura-pura deh. Lepas dari kamu mengakuinya atau nggak, di dalem lubuk hati kamu yang terdalem, kamu pasti juga pengen kan, kalo Dhio ngebales perasaan kamu atas apa yang udah kamu lakuin selama ini?"

Aku menatap cakrawala, menggenggam buku sket-ku erat. Tanpa harus diakui, sebenarnya ucapan Mega semua ada benarnya. Tapi Dhio memang hanya akan sebatas itu, sosok yang tak akan puas untuk kugambar punggungnya dan bisa kupandangi lekat-lekat sampai kapanpun aku mau tanpa bisa terjamah, tanpa bisa dimiliki. Memangnya siapa aku? Aku hanya gadis berkacamata tebal, dengan seragam kedodoran, dan rambut berkepang dua, yang akan selalu Dhio anggap cupu.

"Untuk jadi selir hati-nya pun aku udah seneng kok, Mega. Aku rela," kataku kemudian lalu tersenyum.

"Astagaaa! Hey hey hey! Di luar sana banyak laki-laki yang mau menjadikan kamu lebih dari hanya sekedar selir hati! Kamu harus belajar untuk menarik perasaan kamu dari Dhio!"

"Dhio itu cinta pertama aku. Susah untuk lupa begitu aja. Mungkin hal tergila yang bakal aku lakuin... nunggu Dhio sampe beberapa tahun lagi," aku tersenyum. Senyum yang begitu putus asa.

"Hahaha! Gila! Ah, males deh ngomong sama kamu! Kamu gak realistis. Kamu belum bangun dari mimpi!" Mega kemudian beranjak dari duduknya, lalu melenggang pergi.

"Mega! Mau kemana?!" tanyaku yang merasa percakapanku dengan Mega belum selesai.

Mega berhenti, membalikkan badannya kemudian. "Mau masuk ke dalem kelas! Oya, emang terserah kamu sih kalo mau tetap cinta, mengagumi dan menjalani hari atas nama rindu kamu ke Dhio. Tapi aku cuma mau ngingetin, dewasa adalah menerima kenyataan kalau gak semua ending cerita cinta pertama dalam hidup ini seperti ending "A Little Crazy Thing Called Love". Kamu harus kurang-kurangin nonton drama!" seru Mega kemudian melengos pergi dengan senyuman tengilnya.

Aku tersenyum. Sesaat aku melihat lagi ke arah lantai dua. Punggung Dhio tak kudapati lagi di sana. Ah, tak apa. Untuk saat ini aku rela bila hanya selalu mendapatkan sisi belakang Dhio untuk kugambar, bukan sisi depan Dhio untuk kupeluk dengan erat. 

Tiba-tiba aku tertawa lirih. Tertawa karena kekonyolanku sendiri. Ckck... selir hati!


"Aku sudah bilang, ku kan terus mengagumi. Ku kan terus cinta, terus merindu, meski kau diam saja~" Untuk semua HATI yang merasa atau memang di-selir-hati-kan. I feel you~

Love,
Megashofani.

11 comments:

  1. seperti ngomong sama diri sendiri ;-)

    selir hati kadang hanya menyakiti diri sendiri tapi kalau itu pilihan yg sudah diambil, mau gmn lagi :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngomong sama diri sendiri? :))) HAHAHAHAHAA ah you know me so well deh pit #terSMASH :p Yah gitu deh pit. Sakit, tapi candu. Candu yang bikin seneng, tapi juga sakit jengjeng ~ :D

      Delete
    2. eta pisanlah, untung aku udah lepas dari yg kek beginian, time will heal anything tapi waktunya emang lamo sekali -_-,

      candu cinta :P

      Delete
  2. sudah, jangan menye-menye karna cinta. Allah nggak suka
    *sigh*

    mbakmu,
    gitasyalala.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha siapa yang menye-menye mbak? xD Ini aku lagi mengembangkan tulisan dan cara menulis aja. Sekedar nulis fiksi supaya menciptakan konten berkarakter sendiri tanpa meniru-niru yang sudah ada :p #antimainstream XD

      Delete
    2. sebenernya mbak yang menye-menye nduk
      wuakakkaka

      Delete
  3. waah bagus juga cerpenmu, ga coba dimuat di majalah? kamu suka puisi ga? aku lagi bikinpuisi nih,komen yaaaa...

    ReplyDelete
  4. hehe video nya itu loh, cetaarrrr :D nice
    folback ye :)

    ReplyDelete