Monday, 16 April 2012

Ketika Cinta Kehilangan Tuannya

Untuk kamu yang bahkan tak bisa menyebutkan satu hal pun yang bisa dibanggakan dari dirimu, TAPI aku bisa menyebutkan banyaaak hal :)

Backsound: Anji - Berhenti Di Kamu

"Seharusnya mereka menciptakan mata pelajaran baru... mata pelajaran "Menerima Kenyataan". Fungsinya supaya kita terlatih dan terbiasa belajar menerima kenyataan sejak dini," kataku sambil tersenyum kecil menatap Thony. 

"Oh, gitu? Hahaha... iya ya. Dan seharusnya Tuhan menciptakan fitur baru dalam kehidupan. Fitur dimana kita bisa menulis skenario untuk hidup kita sendiri," kata Thony lalu menoleh padaku. 

Kami bertatapan satu sama lain dalam posisi rebahan di atas padang rumput di bawah pohon rimbun yang menjadi payung dari cahaya matahari. Perlahan Thony meraih tanganku, menggenggamnya.

"Kamu gak benci sama aku?" tanya Thony masih menatapku.

"Karena kamu memilih untuk mulai menghabiskan hidupmu dengannya? Sama sekali enggak. Dengan siapapun kamu, aku masih seperti semula, tetap mencintai kamu."

"Kadang aku heran, kamu bodoh atau apa sih? Kamu sadar kan, aku jelas-jelas gak bisa kamu tunggu lagi, Mega?"

Aku mengangguk pelan dalam posisi rebahan, mengiyakan pertanyaan Thony.

"Lalu?" tanya Thony dengan tampang keheranan.

"Lalu apa?" tanyaku melempar lagi pertanyaan. "Toh kalopun memang kamu akan menempuh hidup baru dengannya, aku masih bisa mencintaimu kan, Thon?"

"Kamu bakal terluka. Kamu bakal sakit hati."

Aku menatap mata Thony dalam-dalam, memperlihatkan senyumanku. "Kamu liat? Aku masih bisa senyum."
 
"Iya, sekarang. Tapi nanti? Apa kamu masih bisa senyum ketika aku udah bahagia sama wanita lain, lalu kami punya anak dan kamu terlupakan oleh aku begitu aja?"

Aku menatap langit. Mataku menelanjangi cakrawala tanpa ujung. "Kalo memang itu membuat kamu bahagia, apa yang harus aku sedihkan? Bukannya cinta adalah ikut bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia sekalipun dengan atau karena orang lain?" kata-kataku lirih. Dalam hati aku sendiri tidak yakin dengan apa yang aku katakan.

"Kamu gak sekuat itu, Mega." Thony masih menatapku, kali ini dengan matanya yang tampak berkaca-kaca.

Tatapan Thony kubalas. Tanpa Thony tau mata ini menyembunyikan perasaan yang pedih membuncah dalam hati. "Toh kalo aku minta kamu kembali sama aku seperti sedia kala juga gak bisa kan? Apa aku punya pilihan, Thon?" tanyaku. "Aku masa lalu kamu dan kamu sendiri yang bilang kalo dia pilihan terakhir kamu. Lalu apa yang harus kamu khawatirkan?"

"Perasaan kamu, mental kamu," jawab Thony singkat. "Apa kamu siap?"

"Aku bahkan gak punya pilihan 'siap' atau 'nggak siap'. Mau nggak mau kenyataan harus aku terima. Iya kan?"

Thony mengernyitkan alisnya. Matanya bergerak-gerak memandangi seluruh wajahku. "Coba bilang, Mega... bilang apa yang kamu rasain sekarang..."

Aku menatap lagi ke langit. Tanganku mulai menggenggam tangan Thony dengan erat. Rasanya sulit untuk mengontrol hati agar tidak meledak dan mengeluarkannya dalam bentuk air mata. "Rasanya..." ucapanku menggantung. "Rasanya menyiksa, Thon. Rasanya menyiksa tapi untuk mengerangpun gak bisa. Rasanya... ingin ada yang memahami perasaanmu selain kamu, tapi gak ada pada nyatanya. Gak ada satupun yang paham. Rasanya lebih memilih memendam perasaan itu sendiri, karena aku tau Thon, pada akhirnya kalopun aku sakit hati cuma aku yang ngerasain luka itu sendirian." Akhirnya air mataku jatuh juga.

"Kenapa sih, Mega... kenapa kamu gak memilih untuk benci sama aku?"

"Ahaha..." aku tertawa kecil dengan pipi bersimbah air mata. "Udah aku coba. Dan tetap gak bisa. Banyak kok alasan untuk membenci kamu, Thon. Tapi aku tetep gak menemukan cara memulai rasa benci itu sendiri." Aku menoleh menatap Thony. "Cintaku habis di kamu, Thon. Hatiku juga berhenti di kamu."

"Tapi kamu gak bisa gini terus, kamu harus punya..." belum Thony melanjutkan kalimatnya sudah kupotong.

"Apa? Pendamping? Suatu saat pasti ada, Thon. Suatu saat pasti ada laki-laki yang aku pilih untuk jadi suami aku, teman hidup untuk menjalani kehidupan seperti manusia normal lain. Menikah, mempunyai keturunan, membesarkan juga mendidik anak, menjadi tua renta, menikmati secangkir teh bersama di teras rumah yang sederhana... suatu saat pasti ada laki-laki yang aku pilih untuk mewujudkan hal-hal itu. Hal-hal yang pernah kita rangkai untuk menjadi cita-cita kita kelak." Aku menyela memotong kalimat Thony.

Aku melihat mata Thony berkaca-kaca. Kepalanya menengadah menatap langit. Mungkin dia juga seperti aku ketika beberapa saat lalu, berusaha menahan air mata yang rasanya sulit dibendung.

"Suatu hari memang akan ada cinta-cinta yang baru dalam kehidupan aku, tapi nggak untuk menggantikan cinta yang udah aku rasain ke kamu. Mungkin emang begini takdirnya... mungkin emang begini takdir kita Thon. Aku hanya sebatas masa lalu kamu, dan kamu sebatas kenangan cinta pertama aku." Ucapanku lirih.

Hening. Hening cukup lama.

Beberapa saat kemudian Thony melepaskan genggaman tangannya lalu ia bangun dari rebahannya berikut dengan aku yang ikut bangun dari posisi rebahan. Kami duduk bersila, berhadapan.

Thony menatapku. Tatapannya sayu lalu perlahan ia mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya. "Aku minta kamu jaga diri baik-baik ya." 

Semakin dia mengusap air mataku semakin air mataku berjatuhan. Ucapan Thony lirih tapi begitu merasuk ke dalam hati. Tanganku meraih tangan Thony, menjauhkannya dari pipiku. "Jangan. Jangan usap lagi. Kamu gak akan tau sakitnya ketika usapan jari kamu gak ada lagi kalo aku nangis nanti." Aku meletakkan tangan Thony.

"Kalo gitu..." ucapan Thony menggantung. Ia mengambil sesuatu dari saku belakang celananya. Thony mengambil amplop dengan desain ukiran tribal juga foto Thony dan calon istrinya sebagai sampul amplop tersebut. "Ini... undangan pernikahan aku." Thony memberikannya padaku.

Backsound: Laluna - Selepas Kau Pergi 

Aku menerimanya, entah harus ikut bahagia atau merasa jatuh terperosok. Aku tersenyum lebar dengan air mata yang masih saja mengucur. Sial! Kenapa air mata-air mata ini harus keluar sekarang? "Undangannya cantik."

"Aku pingin kamu dateng. Tapi kalo kamu merasa gak sanggup, aku bisa ngerti," kemudian Thony mulai melangkah, pergi meninggalkanku.

Langkah kelima Thony berjalan, aku memanggilnya. "Thon!"

Thony berbalik, menatapku.

"Aku pasti dateng. Aku gak mau ngelewatin hari bahagia kamu!" teriakku.

Thony tersenyum padaku. Senyum yang mungkin nanti hanya bisa kunikmati dalam lembaran-lembaran benda mati bernama foto.

Tulus bukan melulu kasih sayang yang kita berikan atas nama cinta ketika kita (masih) bersama orang yang dicintai. Terkadang tulus yang sesungguhnya adalah ketika dia yang dicintai telah dengan yang lain namun kita masih berusaha memberi yang terbaik, mendoakan untuk segala kebaikannya, kebahagiannya :)) - 16 April 2011

Love,
Megashofani.

12 comments:

  1. Replies
    1. Oke, berarti masalah kawin itu hiperbola, dan yg bener itu dianya udah dimiliki orang lain o.O

      Delete
    2. sebelas duabelas gitu deh~ xP

      Delete
  2. thony, kau begitu indah..
    *eh kenapa gue ikutan muji si thony yah? *jedotin kepala di tembok

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang indah sih. tapi kalo kikin yang ngomong jadi serem :p akakakaka

      Delete
  3. paragraf terakhri yang bercetak tebal itu kereeeeeeen.
    tapi tenang kok, nggak ada niatan untuk dicooas

    ReplyDelete
  4. quntiiiiiiiiiiiii .. kereeeeeeeeenn

    ReplyDelete
  5. POhon Rimbun yg di maksud itu POhon Pete Apa Pohon jengkol ...

    bikin juga ah dengan judul "ketika cinta ditinggal kawin"

    (btw NICE mba')

    ReplyDelete