Thursday, 26 January 2012

Everlasting Love is Everlasting

Jari-jari ini saksi bisunya. Saksi bisu kita ketika menjadi peran dari sebuah cerita tentang dua hati yang (dahulu pernah) 'satu'.

Dunia mempertemukan kita dengan cara lucunya, lewat kata yang terhantar oleh aplikasi chatting dunia maya, dunia kecil dalam benda tanpa nyawa, handphone. Cinta itu begitu sederhana... hanya dengan kata yang mengalir lalu mengantarkan aku pada rasa. Rasa cinta.  

Kalau boleh melihat ke belakang, tepat di tanggal inilah pada tiga tahun yang lalu (26 Januari 2009) aku mengenal rasa cinta dari seseorang yang bahkan aku belum tau wujudnya. Cinta itu memang aneh. Datang tanpa permisi, mengambil hati. Cinta itu memang aneh. Hinggap pada entah siapa, dimana, dalam keadaan bagaimana.

Cinta tau cara menjerat hati. Ia menghampiri lewat gelak tawa, membuat jatuh cinta dengan canda. Perkenalan kita singkat. Kenal, ngobrol, bercanda, tertawa, bahagia, cemburu... voila! Jatuh cinta.


Kamu: "Aku sayang sama kamu. Mau gak kamu jadi cewek aku?"
Aku: "Mau..."
Kamu: "Yess"
Aku: "Mau... nggak yaaa...?"
Kamu: "Anjir..."

Masih terngiang sampai sekarang, kalau boleh aku pingin Tuhan memutar ulang =))


Bagus Seta Anthony... gak pernah ada penyesalan ketika aku mengenal kamu. Kamu bukan kesalahan, dan gak pantas untuk jadi penyesalan karena aku tulus mencintai kamu. Aku tulus.

Aku rindu kamu. Aku masih bertahan dalam rasa. Rasa yang mungkin menyiksa aku sendiri pada akhirnya. Seandainya kita belum putus, seharusnya hari ini umur hubungan kita 3 tahun. Tapi sayang, hanya sebatas "seandainya".

Bertemu kamu adalah hadiah, dicintai kamu adalah anugerah. Sekalipun aku gagal untuk memiliki kamu seutuhnya tapi aku selalu berterimakasih karena diberi kesempatan berada dalam duniamu.

Berbaring di kasur, hanya dengan menelponmu lalu mendengar suaramu yang terasa begitu dekat... itu yang aku sebut bahagia. Cinta memang sederhana. Bahkan ketika kamu bersamanya aku masih mencintaimu dalam doa. Entah, aku bertahan tanpa alasan membiarkan rasa ini mengalir begitu saja.

Aku sendiri bingung, kita bukan lagi 'satu' tapi aku masih menunggu padahal aku tau waktu terus memburu. Aku sadar, suatu hari aku tak akan lagi punya waktu untuk meneruskan penantian. Aku sadar. Aku sendiri sampe sekarang belum mengerti mengapa aku meneruskan perasaan ini. Gak semua pertanyaan memiliki jawaban, gak semua rasa memiliki alasan. Dan... Kata 'kangen' kadang gak bisa mengungkapkan rasa kangen itu sendiri.

Aku sadar siapa aku sekarang di mata kamu. Aku tau di mata kamu 'aku' udah gak sama lagi. Aku sadar posisi aku sekarang. Aku udah dewasa Seta. Aku udah dewasa. Aku bukan lagi abege yang ngambek lantaran kamu bilang pahaku gede =)) *Masih inget gak waktu kita beli sate terus kamu bilang kalo pahaku gede? Hahaha :p* 

Aku udah sadar kekonyolan di masa lalu adalah mengabaikan cinta kamu ke aku :) Itu cukup jadi pelajaran dan hal itu gak akan lagi terulang di dalam hidup aku. Karena ternyata penyesalan lebih menyakitkan daripada disakiti oleh orang yang dicintai. 

Aku dan kamu... everlasting. Kata itu melekat sampe sekarang. Saking 'dekat'nya hubungan kita saat pacaran, hanya kata itu yang mampu mewakilkan. Everlasting.

Kamu masih ingat kan gambar ini? Gambar yang aku MMS in ke kamu sewaktu aku di Bali? Hell yeah! Seandainya aja menghapus bayangan kamu semudah ombak pantai Kuta yang menghapus namamu dalam ukiran pasir. Seandainya...

Seta, mungkin suatu hari waktuku akan habis, sehingga suatu hari aku akan melangkahkan kakiku bukan untuk menuju padamu lagi. Tapi sebelum semua itu... seperti janjiku, aku akan menemui kamu sekali lagi. Bukan untuk mencoba mengambil hatimu kembali (ketika kamu bersamanya), hanya untuk yang terakhir kali bagi aku sebelum kita menjalani hidup kita masing-masing. Sekalipun ada segala kemungkinan-kemungkinan yang lain... biar tetap jadi misteri, biarkan Tuhan tetap menggenggamnya, menyimpannya.

Aku mohon tunggu aku sebentar untuk memberikan naskah itu. Lalu setelahnya aku akan merelakanmu untuk melupakan aku, lalu setelahnya aku akan menghilang dari hidupmu, kehidupanmu :) 

Andai aja ada rinso yang mampu membersihkan nama yang nempel 'membandel' di hati, pasti aku gak akan segalau ini.

Bagus Seta Anthony, maaf aku pernah bikin kamu sakit hati. Maaf untuk segala kekecewaan yang kamu rasa. Semoga kebahagiaan kamu dengannya bisa mengobati rasa sakit dan kecewa itu perlahan. Semoga kamu selalu dikelilingi orang yang sayang sama kamu. Sekalipun kamu bukan milik aku, tapi hati-hati terus yah... terutama kalo lagi jalan di trotoar. Pepatah 2012 bukan pagar makan tanaman, tapi mobil makan trotoar. Yang jelas, kamu sehat, selamat, dan bahagia dengan apa yang ada di sekeliling kamu, itu udah bikin aku ikut bahagia :)

Love,
Megashofani.

4 comments:

  1. mobil makan trotoar, pehlis yen, gue yang tersedu-sedu baca ini kok jadi mules hehe.
    semangat atuh yang, gapapa kok masih inget2 dia itu ga dosa. itu kan hak kamu, asal ga ganggu hubungannya. kelak kamu akan dapat yang terbaik, mungkin dia atau bahkan bukan dia. love you sist.

    ReplyDelete
  2. Aku udah setengah galau baca postingan ini yeyen -__- tapi setelah kalimat ini: "Andai aja ada rinso yang mampu membersihkan nama yang nempel 'membandel' di hati, pasti aku gak akan segalau ini." aku langsung tersedak -___- ditambah lagi makin kebawah seperti kata funy mengenai trotoar, aduhai ehehe
    Apa yang kamu pikir terbaik blm tentu itu yang terbaik bagimu, Tuhan punya rencana yg lebih baik dan mungkin belum kamu ketahui sekarang, happy birthday yeyen #eh maksudnya semangaaaat~ hehehe :p

    ReplyDelete
  3. Megaaaaaaaaaaaaa -________-, kok sama sih, gw kenal *sensor juga didunia maya bahkan jadian sebelum ketemu tapi udah pisah -________-,

    "Bertemu kamu adalah hadiah, dicintai kamu adalah anugerah. Sekalipun aku gagal untuk memiliki kamu seutuhnya tapi aku selalu berterimakasih karena diberi kesempatan berada dalam duniamu" gw tau banget rasanya -________-,

    ReplyDelete
  4. Gue habis makan beberapa piring, tapi gara baca nih cerita...gue cuma makan piringnya doang.
    bikin tambah galau gue.. -__-"

    ReplyDelete