Wednesday, 2 November 2011

"Yang Terlarang"


Gadis itu masih tengkurap di kasurnya, melewati pagi dengan menyeka air mata. Lagi-lagi bantalnya menjadi saksi bisu tangisannya. Padahal semalam dia masih ceria lantaran bercengkrama dengan kekasih hatinya walaupun hanya sekedar lewat telepon, walau hanya sekedar hantaran suara. Menanyai kabar, menanyai keadaan, menanyai apa saja yang dilakukan ketika seminggu lamanya tidak menghubunginya. Mereka berbincang cukup lama lalu dilanjutkan dengan mengirimi pesan singkat, SMSan. Kangen.

***


Semula semuanya baik-baik saja. Bahkan sempat gadis itu girang ketika bangun tidur memeriksa handphonenya mendapati 2 Missed Calls. Hatinya berharap nama itu yang muncul di layar handphonenya. Nama yang selalu mengisi hatinya, nama yang membuat jantungnya berdegup kencang ketika mendengarnya, nama yang selalu disematkannya dalam doa. Thony.



Walau Thony bukan miliknyapun, gadis itu masih mencintai lelaki yang dulu berhasil merenggut cinta pertamanya. Sampi saat ini, gadis itu selalu berusaha untuk ada di setiap Thony membutuhkannya, setidaknya agar Thony tahu bahwa dia masih begitu mencintainya. Walaupun itu tak akan mengubah predikatnya sebagai 'seseorang yang bukan siapa-siapa dan tidak berarti lagi bagi Thony'


Gadis itu tau, kelak cepat atau lambat dia harus hilang dari kehidupan Thony yang tidak bisa lagi menerima namanya untuk masuk ke dalam hati lelaki pujaannya. Itu terlalu sulit untuk saat ini.


Melihat nama Thony di layar handphonenya saja membuatnya bahagia. Dan jangan katakan kalau kata ‘bahagia’ adalah berlebihan, karena hanya kata itu yang mampu mengemas perasaannya.


Dengan berbunga-bunga batinnya bertanya, kenapa Thony menelpon pagi-pagi begini? Tanpa menunggu aba-aba gadis itu men-dial nomor Thony dengan niat membalas telpon Thony yang tidak sempat terangkat.


Aneh. Berkali-kali Thony mereject telponku...

Dia semakin penasaran kenapa Thony meninggalkan 2 Missed Call namun tidak mengangkat balasan telponnya? Kemudian dia menunggu, berharap Thony akan menelponnya lagi.


Satu setengah jam kemudian...   
Handphone gadis itu berdering lagi. Thony.

"Halo?" gadis itu menyapa dengan nada semesra mungkin. 

Nada Thony tampak tergesa-gesa.Dia baca sms kamu di handphone aku!” suara di sebrang panik.
“Terus kamu bilang apa?” tanya gadis itu dengan nada begitu santai.
Aku bilang aja kalo kamu selingkuhan temen aku! Nanti kalo ada nomer gak dikenal telpon ke nomer kamu, jangan diangkat! Takutnya itu pacar aku,” Thony mendikte gadis itu dengan nada khawatir.
"Kenapa kamu jadi penakut gini?" 

"Bukannya aku penakut, aku cuma gak mau ada di posisi yang salah karena aku masih berhubungan sama orang yang seharusnya sama sekali gak aku hubungin!"


Gadis itu terdiam. Entahlah, tanpa harus diakuinya, ia seperti tertohok. Dia memang tak seharusnya ada di tengah-tengah mereka. Memang, Thony dilukisnya begitu indah dengan segala syair yang dilantunkan dengan mesra, tapi sayangnya untuk yang kesekian kali dia harus memaksa dirinya untuk menyadari bahwa dia adalah "Yang Terlarang", yang harus bersembunyi di balik kegelapan, tak nampak, karena memang tak seharusnya ia ada dipermukaan sebagai orang ketiga. 

“Kesih?” suara Thony membuyarkan lamunannya.
“Ya?” 
“Gimana? Ngerti kan maksud aku?” Thony berharap cemas.
“I-iya,” gadis itu menjawab dengan berat.
“Bisa lebih ikhlas gak jawabnya?” Thony memohon.
“Iya aku ikhlas!” suaranya sedikit melengking.
“Ah males kalo kamu jawabnya masih begitu!” Thony menggerutu.
“Iya aku ikhlas,” seru  gadis itu setenang mungkin. “Udah kan? Udah bisa ditutup telponnya?”
“Kamu mau ke mana?” nada Thony pun juga tampak mulai tenang.
“Aku mau ngelanjutin tidur,” jawab gadis itu singkat.


Gadis itu menutup telponnya, meraih bantalnya, lalu menyatu dengan luka hatinya. Walau sedikit terluka tapi untuk yang keribuan kalinya ia terbiasa menjadi yang terlarang, yang tak akan pernah diakui

Orang menyebut apa yang dilakukannya bodoh, tapi dia menyebutnya cinta.


Love,
Megashofani.

No comments:

Post a Comment