Wednesday, 16 November 2011

Maaf Tak Sampai

"Kamu bisa dateng ke taman tempat kita biasa berduaan kan?" lewat telepon nada Hugo terdengar mesra di sebrang sana.

"Mau ngapain?" balasku dengan nada dingin.

"Aku punya sesuatu buat kamu,"

"Apa? Paling mau ngasih gelang-gelang mainan lagi," aku membalas ajakannya malas-malasan. Pacarku ini memang suka memberiku gelang-gelang berbahan karet dan aku tidak begitu tertarik.

"Bukan kok... aku yakin deh, pasti kamu suka. Nanti dateng ya," nada Hugo begitu sabar membujuk.

"Kamu nyuruh aku dateng sendiri? Biasanya juga jemput aku dulu!" aku menggerutu.

"Biar lebih surprise, sayang..."

"Ya udah, tunggu aja,"


***


"Mau ngasih apa?" nadaku ketus. Aku duduk di samping Hugo, membuang muka dengan angkuhnya.

"Ini sayang," nada Hugo begitu mesra diiringi senyuman manis. Dia menyerahkan boneka Hello Kitty dengan ukuran jumbo kepadaku. Dia memang hafal kalo aku suka Hello Kitty.

Aku menoleh sebentar. "Boneka? Kamu pikir aku anak kecil?"

"Diterima dulu dong..." pintanya dengan nada lembut.

Kuambil boneka itu. Kupandangi seketika lalu kulempar ke pinggir jalan. "Aku bukan anak kecil lagi tau!"

Hugo hanya menghela nafas. Sejenak dia berdiri dan berjalan ke pinggir jalan. Dari kursi taman aku memandanginya kesal. Yang aku inginkan cincin bukan boneka! Dalam hatiku berteriak tak puas. Dari kursi taman aku mengamatinya mengambil boneka itu dan dalam waktu yang bersamaan tubuhnya terhempas tertabrak mobil.

Aku terbelalak seketika, spontan menghampirinya yang sudah tergeletak di jalan dengan tubuh bersimbah darah. Jantungku seperti berhenti sesaat ketika melihat kantong boneka Hello Kitty itu tertulis, "Ambil cincin di kantongku. Menikahlah dengan Hugo :)". Tubuhku lemas. Aku pusing, aku jatuh dan tak ingat apa-apa lagi.


***


Waktu terasa begitu lama setelah kecelakaan merenggut nyawamu, dan Tuhan begitu cepat mengambilmu juga menyadarkan aku. Andai sejenak aku memperhatikan boneka itu lebih lekat, andai aku lebih bersyukur karna telah memiliki kamu, pasti kamu masih ada di sini.

Aku tidak tau apa yang disebut penyesalan sebelum aku kehilangan kamu. Aku tidak tau apa yang disebut dengan bersyukur sebelum Tuhan mengambilmu. Penyesalan masih kuukir dengan cara yang sama, dengan menjatuhkan bulir-bulir air mata.

Padahal kamu melakukan segalanya agar kamu bisa bertahan di sampingku, agar kamu bisa mengimbangi aku. Kamu melakukan segalanya apa yang aku minta. Tapi yang kamu dapatkan hanyalah aku yang selalu tidak puas dengan segala pemberianmu. Aku yang selalu tidak puas dengan pengorbananmu. Aku yang selalu tidak puas dengan caramu mencintaiku. Aku yang selalu inginkan lebih lebih dan lebihhh! Yang aku tau apa yang kamu lakukan selalu 'kecil' di mataku. Padahal justru itu hal-hal terbesar yang telah kamu lakukan untukku.

Saat itu kamu memberiku gelang couple yang terbuat dari bahan karet, gelangmu bertuliskan namaku dan gelangku bertuliskan namamu, padahal kamu tau yang aku inginkan gelang emas! Saat itu kamu mengajakku makan siomay di pinggir jalan kota, padahal kamu tau yang aku mau makan malam yang romantis! Saat itu kamu menyelipkan bunga melati di atas cuping telingaku padahal kamu tau yang aku mau sebuket bunga mawar. Tapi itulah kamu, kamu mencintai aku dengan caramu. Walaupun bagiku kamu selalu kecil dimataku tapi aku sadar itu bukan berarti kamu tidak mencintaiku dengan sepenuh hatimu.

Aku merasa kehilangan.

Ini sudah hari ke-tujuh semenjak meninggalnya kamu dan kepalaku masih tersungkur di atas nisanmu. Air mataku masih membasahi tanah kuburanmu. Aku tau ini begitu percuma. Aku telah mengetuk nisanmu berkali-kali, semakin keras.

"Kamu masih di dalam kaaan? Maaf, maafin aku! Ayolah bicara, Hugo..."


Dan kamu masih terdiam di sana. Kamu tak pernah manyahutku dari dalam sana. Aku ingin memberitahu bahwa penyesalan begitu menyakitkan, Hugo. Aku pingin kamu tau aku kehilangan kamu. Aku cuma mau minta maaf.


Love,
Megashofani.

No comments:

Post a Comment