Thursday, 3 November 2011

Dulu... Sebelum Hilang Dunianya

Gadis dengan rambut panjang yang tergerai itu masih betah untuk berlama-lama di depan kaca rias hanya untuk terpaku menatap refleksi wajahnya sendiri. Sejak kemarin malam, dia belum tidur hingga sore ini. Berjam-jam bayangan dirinya dipandangi dan tetap saja mata coklatnya, hidung mancungnya, juga bibirnya yang tipis berwarna merah muda itu membuat wajahnya terlihat mempesona. Dia cantik.
Matanya berpaling ke arah luar jendela di sampingnya. Di luar sedang hujan. Dia menyukai hujan, rindu bermain-main di bawah rintikan air yang menghujam. Seharusnya saat ini dia ada di luar sana, menikmati aroma khas saat pertama kalinya air hujan menyentuh tanah, pikirnya. 
Jgrek!
"Sayang, ayo makan. Mau makan di kamar atau ikut makan sama yang lain di ruang makan?" Mama membuyarkan lamunannya. 
Dia hanya menatap Mama dari pantulan cermin.
"Thea belum laper," jawabnya singkat.
"Yah, enak lho bareng-bareng. Mama udah bikin ayam bumbu kecap tuh kesukaan kamu. Ikut makan yuk sama Papa sama adek?" Mama menguraikan senyuman, masih di ambang pintu menatap anak sulungnya dari pantulan cermin.
"Thea belum laper," ia mengulang jawabannya. Datar. Dingin.
"Ya udah... nanti kalo mau makan panggil Mama aja ya?"
Dia hanya terdiam tak merespon sembari melihat mama menutup daun pintu kamarnya, masih dari pantulan cermin.
Seharusnya tanpa harus Mama menawari dia makan, dia akan dengan senang hati menuju ruang makan bergabung dengan Papa dan adiknya, pikirnya.

Mama menanggapinya begitu sabar sekalipun ia memberikan respon yang dingin dengan nada datar. Seharusnya tak seperti itu sikapnya. Namun sikapnya begitu hanya karena dia adalah seseorang yang membenci dirinya sendiri, benci karena selalu menyusahkan orang di sekitarnya, benci karena terpaksa harus kembali seperti bayi yang setiap saat harus diladeni. Dia membenci keadaannya, membenci kursi rodanya.
Dia benci harus menjadi cacat.
Masih lekat dalam kenangannya ketika dunia seperti dalam genggamannya. Dunia glamor, dunia model, dunia clubbing, cinta, dan sahabat yang saat itu tengah melengkapi hidupnya.
Dulu dia melenggangkan pinggulnya di atas catwalk, menebar senyuman penuh pesona dengan paras ayunya juga tubuh dibalut gaun rancangan designer ternama. Dulu dia begitu profesional melakukannya. Menjadi model memang cita-citanya.
Karena parasnya begitu jelita, dulu dia adalah primadona di antara kesemua sahabatnya, sahabat yang begitu pandai untuk masalah hura-hura, sahabat yang paling tau cara menghabiskan uang. Sahabat-sahabat dari dunia yang sama. Menyenangkan memiliki sahabat seperti mereka, yang memiliki profesi sama, selera sama, dan juga fashionable sama seperti dirinya, pikirnya.
Dulu dia begitu menggilai clubbing. Dunia malam mana yang tak kenal Thea Savira? Gadis yang selalu mengeluarkan seluruh jiwa mudanya di lantai dansa dengan musik disko setiap menjelang dini hari. Dunia malam telah menjadi kebiasaan yang mendarah daging dalam dirinya.
Dulu cinta seakan-akan mengelilinginya. Lelaki mana yang tak memuja Thea Savira? Namun hanya satu yang mendapatkan hatinya, Adera. Adera adalah sosok lelaki idaman wanita. Selain tampan, Adera juga romantis. Dia dan Adera adalah sepasang insan dimabuk asmara yang paling tau cara melampiaskan birahi. Hubungan mereka begitu intim dengan mengatasnamakan cinta. Dulu dia begitu yakin, bahwa Adera akan menikahinya. Pasti Aderalah pria terakhir.
Tapi itu dulu, sebelum kecelakaan merenggut kakinya. Sebelum ia hanya bisa duduk di kursi roda. Sebelum duniawi hilang dari dunianya.
Dulu dia pikir yang Adera berikan adalah cinta. Dulu dia pikir yang sahabatnya berikan adalah ketulusan. Realitanya bahkan batang hidung mereka tak nampak sama sekali setelah mengetahui dirinya cacat. Semua menghilang tanpa bekas. Sejak saat itu ia mengerti makna 'hancur' yang sesungguhnya.
Mereka tak pernah tau, di balik mata coklat yang tampak tegar itu ada hati seorang gadis telah remuk redam.
Semakin hari, semakin ia sering menatap refleksi dirinya, semakin ia tak mengenali dirinya yang selalu dipandangi melalui cermin. 
Sebentar merengek, sebentar tertawa, lalu terdiam, kadang bergumam sendirian. Siapa gadis yang dipandanginya? Berantakan. Wajahnya pucat dengan lingkar hitam di bawah matanya. Dia tak pernah melihat gadis semenyedihkan itu dalam cerminnya sebelum ia kehilangan dunianya.


Love,
Megashofani.

2 comments: