Friday, 18 November 2011

Bagus Seta Anthony

Tentang sebuah nama, menjadi rasa... kusebut itu cinta, kusebut itu kamu, Seta Anthony. Kalau boleh, aku akan memohon Tuhan mengambil sel otakku dimana tersimpan bagian semua tentangmu, maka rindu ini tentu tak akan begitu menyiksa, maka bayanganmu tak begitu lekat dalam benakku.

Mengenalmu tak pernah menjadi penyesalanku. Kita berkenalan, dunia maya sebagai perantara. Apa memang begini cara Tuhan mempertemukan kita? 26 Januari 2009... kamu menghapus segala pilu hatiku. Aku dan kamu menguntai kata hati lewat telepon dengan nada-nada mesra. Entahlah... aku tak pernah tau masihkah kamu ingat saat-saat itu? Hanya rahasia Tuhan dan dirimu :)

Dasar Seta Anthony! Kamu memang keras kepala :’) Dasar nekat.. Sukabumi-Solo pun kamu terjang dengan modal niat dan sepeda motor... dasar kamu gila! Lagi-lagi pandai membuat aku jatuh cinta... Kita bertemu. Kamu memelukku. Kamu menciumku. Dengan sigap jiwaku terampas olehmu. Kamu yang pertama menguras seisi rasa hingga ulu hati.

Kamu indah, dengan apa adanya kamu. Kamu mengajarkan aku menjadi wanita yang kuat, membuat aku jatuh cinta dengan segala kesederhanaanmu. Itulah hal yang membuatmu indah. Cinta Pertama... kamu mengenalkan apa arti cinta... menyentuhkan segala rasa. Kamu membuatku terseok luka, membuatku jatuh cinta berkali-kali pada saat yang sama.

Ini November yang ketiga sejak aku mengenalmu dan kamu masih mengisi tempat yang sama dalam diriku, relung hati. Mungkin aku dan kamu memang tidak menyatu, tapi dalam hidup yang telah kujalani sejauh ini kamu adalah bagian favoritku.

Dua tahun yang terisi indah olehmu cukup membuatku tersiksa untuk melupakanmu. Itu tidak gampang sayang. Melupakanmu dirimu... tolong beritahu bagaimana caranya.

Hatimu telah menjadi miliknya... dan aku hanya berharap dirimu selalu bahagia, mendapatkan apa yang tak pernah kuberi sebelumnya.

Aku tau aku bukan yang terbaik, pernah menyakitimu, aku yang salah, aku memang salah. Tapi tak pernah ada dusta tentang segala rasa yang aku ungkap padamu. Itu asli, itu murni. Aku berkorban untukmu atas nama CINTA padamu, aku mencintaimu karena aku memang mencintaimu bukan karena kamu mencintaiku. Kalau aku mencintaimu karena kamu mencintaiku, seharusnya saat ini aku mampu untuk berhenti cintai kamu. Tapi ternyata hatiku memilih jalannya sendiri.

Semakin melupakanmu, semakin ingat indahmu. Kenangan tentangmu selalu beriringan dengan air mata. Kalau air mata berbanding lurus dengan terhapusnya kenangan, maka seharusnya aku sudah bisa melupakanmu. Air mata? Itu bukan air mata. Itu hatiku yang bicara. Dalam doa aku mencintaimu, membisikkan namamu di sela rindu, menyematkan bayanganmu dalam malam biru. 


Love, 
Megashofani

No comments:

Post a Comment